Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kehidupan untuk putri Jati jajar


Mengumandangkan nama mu di dalam kerinduan berharap sampai menyentuh langit ke tujuh


Surga yang engkau beri selalu mewarnai hari ku yang gelap dan sepi


Menjalani rasa sakit berpijak pada tanah yang hampir tandus


Duri diantara semak rerumputan berduri, hujan yang menenggelamkan bekas genangan bersama


Aku tetap menjadikan engkau sebuah nama yang tidak terhapus


Tubuh raja penuh luka, perih dia tahan tetap mengepak sayap menuju pura. Pagi-pagi sekali dia menyelinap masuk ke dalam pura, kepala cenayang yang sudah mengetahui kedatangannya membiarkan dia masuk. Dia memperhatikan gerak-gerik raja berserta seluruh luka di tubuh dan sayapnya.


“Gawat! Luka penguasa Yaksa sangat parah, apakaha dia akan bertahan hidup? Tapi, aku tidak bisa membantunya untuk mendapatkan bunga pembangkit ruh itu dengan muda. Dia harus menjalani takdirnya sendiri. Aku tidak ingin dia semakin menderita” gumam kepala pura.


Raja meletakkan bunga pembangkit ruh di atas dahi sang putri, perlahan bunga ajaib itu masuk memancarkan pancaran warna putih yang menyilaukan mata. Kilaunya menembus sela dan lubang pura. Para cenayang berlari menghampiri putri, mata indah itu kini terbuka kembali. Raja sudah menghilang sejak dari tadi, dia tidak ingin mendapat hukuman akibat melanggar aturan pura.


“Putri, selamat engkau sudah sadar dan terlihat lebih sehat dari biasanya” ucap salah satu cenayang.


“Kami do’akan untuk umur yang panjang kepada tuan putri mahkota Jati jajar!” seru para cenayang lain.


Suara seretan gaun panjang berwarna putih, gelang kaki kerincing dan riasan rambut di tutupi oleh kain hijau adalah ciri khas tanda persemedian di dekat kolah ghaib. Cenayang Han, berjalan meluruskan pandangan melihat sang putri.


“Putri, lihat lah wajah mu yang sayu itu. Tubuh mu sudah terlalu lelah menembus beberapa dekade dan kehidupan yang lain hanya untuk hidup kembali dan memperbaiki segala kesalahan di masa lalu. Sempat terlintas di benakku, kesalahan rembulan yang menginginkan dekat dengan Matahari. Tapi ternyata, hal itu bukan lah kekeliruan, seban cahaya Matahari setiap detik memebrikan sinarnya untuk rembulan yang akan terbit menyinari malam. Kesetiaan abadi mengukir lembah sungai jin utnuk menyatukan dua kerajaan yang tidak pernah berdamai. Aku akan selalu melindungi mu dan menepati janji ku kepada cenayang Karang” gumam cenayang Han.


“Cenayang, aku seperti sudah sangat lama mengenal mu” ucapnya.


Cenayang Han membalas pelukan sambil tersenyum. Sedetik dia merasakan aroma anyir menyengat di tubuh sang putri. “Siapa yang beranii mengganggunya lagi?” gumam cenayang Han memejamkan mata.


Kepergian sihir hitam yangs empat sirna. Kekuatan dari bulan darah pembangkit mayat hidup dan mengubah jin menjadi jin pengisap darah. Kelompok suku Taraya bangkit berubah menjadi asap hitam mengikuti putri.


“Putri, bagaimana dengan kalung yang melingkar di leher mu? Apakah masih berada disana?” tanya cenayang Han.


Putri mengerutkan dahi, dia begitu bingung lalu mengerutkan dahi.


“Cenayang, apa yang ekau katakana? Aku tidak mengngat pernah memiliki kalung sebelumnya” ucapnya.


“Putri, kami akan mengantar mu pulang. Raja dan ratu Jati jajar pasti akan mengkhawatir kan engkau” kata kepala cenayang.


Bahasa isyarat kepala cenayang untuk Han


“Wahai cenayang Han, aku tau maksud niat baik mu, engkau selalu ingin melindungi keselamatannya. Tapi ingat, garis langit tidak bisa di putus. Dia akan terus kembali terikat dengan sambungan takdir bangsa jin dan manusia” ucap kepala pura.


“Hamba akan selalu mengingat pesan kepala pura” balasnya.