Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Raja selalu saja menggoda


Sisa kepakan sayap raksasa masih terasa menerbangkan butiran cinta di hati


Detak jantung ini, begitu mendebarkan hembusan nafas hangat mengobati rindu


Engkau hadir lagi dan berjanji tetap di sisi


tapi derita waktu masih menjadi penyambung tentang masa lalu


Raja Jati Jajar mengarahkan pedang tepat di dada Raja Yaksa, akan tetapi tanpa goyah raja jin bersayap itu lebih berjalan mendekat sehingga pedang lancip itu menembus melukai kulitnya. Perlahan darah keluar membasahi baju sang raja. Pengawal pendamping raja Permadi menepis pedang itu dan melakukan serangan. Melihat hal tersebut memicu gerakan seluruh para prajurit, pengawal dan panglima perang berkumpul membentuk formasi mengepung keduanya.


“Pergilah sebelum seluruh pasukan ku menghabisi kalian!” teriak raja Jati Jajar.


“Ayah hentikan!” putri Arska berlari melompat dari atas jendela di tangkap oleh Gangga.


Raja Permadi mengepakkan sayap membawa pengawal pendamping keluar dari wilayah kerajaan. Gangga bersama sang putri mengikuti sampai ke lembah sungai jin. Sementara raja Jati Jajar menugaskan para panglima dan pengawal untuk mengejar mereka.


Di atas bukit bersama kembali, raja membantu putri turun dari badan Gangga. Raja jin bersayap itu menatap wajah putri, dia mengusap bagian poni lalu mendaratkan rasa hangat pada bagian kening sang putri. Setelah ribuan tahun menjadi pendamping setia sang raja, baru kali ini dia melihat wajah raja Permadi yang tampak berseri-seri. Pengawal pendamping menuruni perbukitan, tapi tidak dengan Gangga yang masih menatap tajam keduanya lalu posisi sayap memanjang sedikit menghalangi jarak raja dan putri. Raja beralih mendekati Gangga, dia mengusap paru hewan pemarah itu sambil tersenyum.


Setelah berhasil menjinakkan Gangga, salah satu kaki hewan pemarah itu mengangkat kaki melepaskan ujung gaun putri. Raja langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekap seutuhnya tubuh mungil putri Arska dan membungkusnya dengan sayapnya.


“Raja, aku tidak ingin engkau memelukku seperti ini. Sebentar lagi kerajaan kita akan berperang. Aku adalah musuh yang paling dekat dengan mu” ucap putri.


“Aku akan mengibarkan bendera perdamaian, bukan kah engkau adalah ratu penguasa Yaksa? Kini wilayah dan negeri ku di kendalikan oleh mu.”


Gerakan tubuh sang putri menolak pelukan erat raja Permadi yang semakin erat. Akan tetapi, raja bersayap itu malah mengunci tubuhnya dan menenggelamkan sekuntum serbuk bunga tepat di dahinya.


“Raja, jadi kini engkau sudah berani memperlakukan ku seperti ini? Lepaskan aku!”


“Tidak akan!”


Peperangan kecil yang membuat mata pengawal pendamping sang raja tidak bis melepaskan pandangannya. Dia melihat raja Permadi tidak bisa berkutik dan sangat lemah di hadapan sang putri.


“Bahkan jin bersayap terkuat sekalipun bertekuk lutut di hadapan ratunya, cinta mereka telah merubah revolusi penghentian peperangan di akhir zaman” gumam pengawal pendamping raja.


“Putri, ketika rembulan bersinar terang, aku akan menemui dengan wujud angsa putih di danau teratai kerajaan Jati Jajar” bisik raja Permadi sambil mengusap pipinya.


“Aku tidak akan pernah mengatakan janji apapun atau bertemu dengan mu lagi, aku tidak ingin kita terluka” balas putri Arska.


“Cepat cari putri Jati jajar!” teriakan para prajurit Jati Jajar dari kejauhan.


Pengawal pendamping raja berlari degan nafas terburu-buru.


“Raja, gawat! Kita harus segera pergi. Jalan satu-satunya adalah menuruni jurang perbukitan” kata sang pengawal menunduk.


“Putri, aku harus pergi. Aku percaya engkau mendengar janji ku yang aku ucapkan pada mu” ucap sang raja melompat ke jurang membawa pengawalnya.