
“Pengawal, pergi bawakan aku ramuan penyembuh luka bakar dan panglima, cepat beritahu ibu suri bahwa aku akan tiba kembali ke istana saat matahari terbenam” perintah sang raja.
“Baik yang mulia"
Acara penyambutan calon putri mahkota untuk ratu Yaksa menjadi sedikit kacau mendengar berita kebakaran yang menyapu bersih penduduk yang tinggal di perbatasan lembah sungai jin. Api masih berkobar menghanguskan apapun disana. Langit jin sedikit pekat akibat asap yang berterbangan tertiup angin. Para tamu dari kejauhan menoleh lalu melanjutkan kembali acara saat mendengar perintah dari punggawa istana.
“Sesuai perintah dari ibu suri, mohon kepada para tamu untuk kembali ke acara yang di sajikan” ucap sang punggawa kerajaan.
Alunan musik terdengar lebih keras, para penari memeriahkan acara sedangkan di dalam Aula, para putri mahkota dari kerajaan lain telah bersiap untuk menyulam sebuah bunga tulip asli yang berada di atas meja. Bunga tulip indah berwarna merah muda sebagai bahan contoh untuk mereka suka.
...Yang bersedih, berduka dan terkena musibah. Sekalipun kepergian selamanya atau dengan beribu tumpahan darah dari jasad jin. Semua yang pergi tidak akan pernah kembali, kehidupan akan terus berjalan seiring waktu yang berputar. Kegiatan dan segala aktivitas harus di lalui bersama detik melewati hari....
Para penduduk mengungsi berpencar ke wilayah gurun, yaksa, jati jajar bahkan ke wilayah kerajaan yang lebih jauh. Kehidupan di perbatasa lembah sungai jin telah musnah. Putri Helena tertawa dari dalam menara mendengar kabar penderitaan jin dari perbatasan lembah sungai dari sang prajurit.
Sosok jin wanita yang di selamatkan oleh raja permadi menuju kerajaan Yaksa. Dia mendengar penyelamatnya di malam itu adalah sosok penguasa di wilayah Yaksa. Berlari tergesa-gesa berharap bisa berjumpa dengan sang raja. Saat tiba di depan gerbang istana, dua pengawal menahan tidka mengijinkan untuk masuk.
“Kami tidak melayani jin peminta-minta. Pergilah!” ucap salah satu pengawal.
“Desa ku baru saja terbakar, aku igin berjumpa dengan sang raja. Dia mengenali ku” ucapnya.
“Raja hari ini sibuk menghadiri acara calon Ratu Yaksa” ucap mereka.
Bersikeras jin wanita itu menunggu di depan gerbang. Dia berharap sang raja akan mengetahui kedatangannya.
...----------------...
Sambil menunggu pengawal, raja Permadi kembali menyenderkan kepala sang putri ke pundaknya. Raja menjadikan sayapnya sebagai alas tubuh sang putri agar terasa hangat dan nyaman. Dia mengusap wajah putri Arska, hatinya sangat bahagia hampir setiap hari bisa mengamati Ratu yang ada di hidupnya. Putri membulatkan mata membalas tatapan raja Permadi. Raja tersenyum melihat sang putri, dia mengerlingkan mata berusaha membius putri jati jajar agar seutuhnya menjadi miliknya. Menatap taiada henti, sangat dekat membuat kedua tepian itu ingin beradu. Tapi Gangga ikut mendekat memberi ruang dan jarak antara Raja Permadi dan putri Arska.
Ujung sayap Gangga yang terlupa, putri masih mengigil membuka sayap raja yang membungkusnya. Dia mendekati Gangga lalu menusap paruhnya. Sang putri meletakkan kepala ke tubuh hewan raksasa yang gagah itu, memeluk lalu mengupas perlahan.
“Putri, ingin sekali aku cemburu melihat kedekatan mu dengan Gangga, hampir saja dia aku jadikan lawan akibat kecemburuan ku yang melupakan siapa Gangga. Seharusnya cukup aku yang bisa di sentuh oleh mu” gumam Raja Permadi.