Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Tidak terkendali


Masih memikirkan bagaimana tepian ranum itu kembali rasa goda, raja benar-benar berusaha menghidupkan cinta biru meski nyawanya terancam oleh para sesepuh suku Taraya.


Malam larut, kekacauan di hari ini sedikit termaafkan oleh dengkuran para jin yang beristirahat dari hari yang lelah. Tidak ada yang bisa membaca waktu atau meminta hitungan mundur agar lebih waspada dalam melangkah di dalam jalan yang terjal.


Istana Jati jajar yang hening, hanya sekilas suara kawanan para hewan yang melewati istana. Diantara hewan itu ada beberapa ekor hewan bersayap yang sengaja di utus oleh raja Permadi untuk menjaga putri Arska. Malam ini, gejolak rasa di dada raja jin bersayap itu sedang tidak terkendali. Dia meraih jubahnya lalu terbang mengepakkan sayap menuju istana Jati jajar.


Panglima perang masih belum terlelap dan menjaga gerbang istana. Dia melihat raja Yaksa turun dari langit dengan bantingan angin yang menerbangkan obor dan senjata para pengawal yang berjaga. Tidak terkecuali dengan sang panglima, sosok jin yang sudah saling akrab itu langsung bertemu satu sama lain. Panglima perang sengaja tidak membuka pintu gerbang raksasa itu, dia tidak mau suara gesekan pintu menjadi pusat perhatian oleh prajurit lainnya. Dia memberi kode pada raja untuk terbang melewati tembok dan mengibarkan bendera Jati jajar. Dengan begitu, para pengawal yang melihatnya tidka merasa curiga atau menyalakan sinyal sofar.


“Terimakasih atau bantuan mu wahai panglima, aku akan membalas hutang budi ini suatu hari nanti” ucap sang raja Yaksa.


“Tidak udah sungkan wahai yang mulia. Sudah menjadi tugas ku untuk membantu mu” jawab sang panglima.


Kini raja Permadi bertengger di salah satu dahan pohon yang berada di dekat kamar putri. Di bawahnya ada panglima perang yang setia menemani kedatangan raja jin sayap raksasa yang terlihat bola matanya masih sangat segar menatap ke arah jendela.


“Panglima, bagaimana keadaan kekasih ku?” tanya sang raja.


“Putri sudah berangsur membaik, tapi raja jujur saja aku sedang mengkhawatirkan keselamatan pengawal pendamping” ucap sang panglima.


“Aku akan mengingatnya yang mulia” ucap sang panglima.


...----------------...


“Raja! Raja! Dimana kau berada? Kau selalu saja meninggalkan ruangan kebesaran dan melompat dari jendela!” ucap kasim pendamping raja Permadi mondar mandir di kamar.


“Apa yang harus aku katakan jika ibu suri mencarinya dan menemukan dia tidak disini?” ucapnya lagi.


Sesuai dugaan sang kasim, tanpa memandang waktu di detik itu pula jika ada rasa yang menjanggal atau keinginan tidak di penuhi maka ibu suri akan menanyakan atau mencari ke jin yang dia tuju. Langkah kaki sandal teklek dengan gaun tidur terdengar mendekati ruangan kebesaran raja Yaksa.


“Itu pasti ibu suri! Apa yang harus aku katakan jika mencari raja?” gumamnya dengan kaki bergetar.


Semakin dekat suara wanita menyeramkan itu maka semakin mundur langkah kaki sang kasim. Tidak ada pilihan lain untuknya selain terjun bebas dari jendela. Dia melepaskan topi dan sepatunya bersiap untuk bunuh diri sebelum tubuhnya di cincang habis dan di siksa oleh sang ibu suri yang terkenal dengan kekejamannya.