Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Perihal melukai


Tabib Inka menunduk bersujud, dia ingat sekali ramuan yang dia racik sesuai dengan resep kesehatan dengan akar dan daun-daun berkhasiat. Selama berhari-hari tabib Inka mencari tumbuhan langka, dia juga memanjat tebing tinggi yang hampir meregang nyawanya.


“Wahai Raja yang bijaksana, hamba hanyalah tabib rendah yang berusaha menyembuhkan penyakit wabah para rakyat. Bagaimana bisa aku melukai atau membunuh mereka?” ucap tabib Inka memukul dahinya di atas tanah.


Ramuan tabib San berhasil menyembuhkan salah satu rakyat jin yang sakit. Sebelumnya sosok itu mengalami kejang-kejang, demam tinggi, bercak mera pada tubuh dan keringat yang terus menerus bercucuran.


“Yang Mulia, bukankah sudah di pastikan akulah pemenangnya?” ucap tabib San sambil melirik wajah tabib Inka.


Setelah mendapatkan sinyal anggukan kepala dari Raja, panglima pendamping Raja langsung memerintahkan tabib Inka di eksekusi hukuman penggal kepala. Tabib Inka berlutut lalu bersujud meminta pengampunan dari sang Raja.


“Tolong ampuni hamba! Raja kasihanilah hamba!”


Tabib Inka di seret ke dalam penjara bawah, sebelumnya dia di rajam dengan empat puluh cambukan. Sekarat tabib Inka menahan rasa sakit. Dia muntah darah, pandangan buram sampai tidak sadarkan diri. Sang tabib di tinggalkan dengan kondisi yang begitu mengenaskan. Pada malam itu juga di luar halaman istana telah di lantik pengumuman tabib utama kerajaan adalah tabib San. Karena telah berhasil menyembuhkan penyakit wabah yang menyerang rakyat, dia di beri hadiah emas, perak dan stempel sebagai tabib utama kerajaan. Dia di tempatkan di ruang kerja bagian Utara dan di beri gelas tabib utama istana. Senyum merekah sang tabib San mendengar semua titah dari Raja.


Di penjara yang dingin dan lembab, tubuh hampir kaku kesakitan. Bibirnya kering terkelupas menahan haus. Tabib Inka sudah tidak tahan lagi, dia membuka mata menahan perih segala rasa sakit. Rasa sakit itu dia rasakan lebih menusuk hatinya ketika mengetahui sosok sahabat baik di hadapannya telah menjebaknya. Tabib San berdiri di depan jeruji besi sambil tersenyum, dia melipat tangan di depan dada.


"Itu akibat engkau ingin bertanding dan melawan ku!" ucap tabib San melotot.


"Aku akan melakukan apapun demi tahta yang aku inginkan sekalipun harus mengorbankan diriku sendiri"


Tabib San meraih mangkuk kecil yang. berisi air di dekat jeruji besi. Dia menuang airnya tepat di depan tabib Inka. Sampai tetesan akhir dia membanting mangkuk lalu tertawa terbahak-bahak.


"Haha.. nikmati lah kematian mu!"


...----------------...


Sendirian di malam yang larut, suara lolongan serigala, burung gagak mengelilingi atas penjara. Mata tabib Inka berubah berwarna merah mengeluarkan darah. Seakan sisa umurnya sudah habis. Dia mencari-cari langit dari sela-sela kecil dinding sel. Dia baru tersadar dirinya di tempatkan di penjara bawah tanah. Dia sudah pasrah menatap langit-langit atap sel.


"Aku berharap perkataan terakhir ku di dunia jin menatap langit. Aku berharap langit akan mendengar atau kekuatan terkuat yang baik mau menolong ku untuk hidup sekali lagi" gumam tabib Inka.


Dari udara tiupan mantra sihir putih yang sedang bermeditasi mendengar rintihan bercampur suara tetesan darah yang melukai tubuh sang tabib.


"Tolong aku.."