
Senja mengeningkan serpihan kelopak rindu mengusik segala ingatan yang tertoreh
Ada banyak lamunan ku memikirkan mu di balik serpihan bunga allysum biru
Sinar matahari tenggelam pergi mengambil segala rasa yang ku
Tentang kamu bersama kata resah
...🔥🔥🔥...
Badai pasir menerjang wilayah kerajaan gurun telah menelan ribuan pasukan. Raja keempat gurun pada masa itu selamat bersama tabib Inka dan beberapa anggota kasim juga dayang lainnya. Disana tabib San di temukan telah meninggal dengan mata terbuka serta rahang yang berisi dengan pasir. Telah tampak nyata hukuman dari langit akan kejahatan sang tabib. Setelah badai berhenti Raja beserta sisa pengikutnya kembali membangun istana. Karena yang tersisa di wilayah gurun hanya tabib Inka saja maka Raja memutuskan untuk memberikan hukuman menjadi tenaga sukarelawan untuk mengobati seluruh jin yang ada di wilayah gurun dan tinggal gubuk yang sederhana.
“Terimakasih atas kemurahan hati yang Mulia” ucap tabib Inka.
Di gubuk yang tabib Inka tempati, ada benda asing bercahayam hijau tergeletak di atas mejanya. Kalung berwarna hijau yang terus bergerak menimbulkan suara berisik. Sang tabib terbangun dari tidurnya, dia mencari sumber suara itu lalu melihat kalung tersebut melingkar di lehernya.
“Inka. Engkau bisa menggunakan kalung itu untuk menjaga mu dari sihir yang akan menyerang di kemudian hari”
Samar suara yang tidak tau dari mana asalnya itupun menghilang.
Hari silih berganti, tabib Inka menikah dengan salah satu panglima perang di kerajaan gurun. Sampai pada sepuluh tahun berlalu sang tabib meninggal dunia ketika melahirkan anak yang bernama Harun.
“Ibu..” gumam Ratu Harun menepis genangan yang hampir tumpah di pelupuk mata.
Seharusnya kalung yang seperti jimat pelindung itu di wariskan untuk Ratu Harun. Tapi sang Ratu mengingat budi baik dari ratu Jati Jajar serta menyayangi kerajaan yang terlalu banyak mengalami masalah itu.
“Baiklah terimakasih atas semua kebaikan dari kepala dayang Runa, alangkah senangnya kami jika engkau mau bermalam di istana” ucap Ratu Jati Jajar.
“Terimkasih banyak atas tawaran Ratu yang agung, tapi Ratu Harun sedang menunggu kepulanganku” ucap Ratu Harun yang masih menyembunyikan identitas sebagai dayang.
Dia mengucapkan selamat tinggal dengan memberi hormat kepada Ratu Jati Jajar dan putri Arska. Sang Ratu Jati Jajar memeluk sang dayang lalu tersenyum.
“Entah mengapa aku merasa kita pasti akan berpisah begitu lama atau semoga pertemuan kita bukan sampai disini saja” ucap Ratu Harun melepaskan pelukan berjalan ke arah kuda jinnya.
“Apa yang engkau katakan? Istana ini sudah menjadi rumah kedua mu yang kapan saja bisa engkau singgahi” kata Ratu Jati Jajar.
“Terimakasih yang mulia Ratu”
Ratu dan putri mengantarkan kepulangan sang dayang di depan gerbang istana. Sampai pandangan mereka tidak terlihat dayang itu barulah mereka masuk kembali ke istana.
Di tepi kolam teratai
“Ibu, apakah ibu benar-benar sudah memastikan bahwa sosok wanita tadi adalah sosok dayang?” tanya putri Arska.
Ratu Jati Jajar mengusap rambut sang putri dia merapikan setiap tatanan memperhatikan wajah serius putri Arska yang tidak pernah berubah.
“Sayang, siapapun dia bagi ibunda melihat sang dayang yang baik dan rela berkorban untuk kerajaan kita”