Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Nakalnya sang Raja


“Engkau adalah putri kecil ku yang tidak tahan oleh udara dingin, meskipun kekuatan es dan salju ada di dalam tubuh mu” ucap sang Ratu.


Dayang pendamping ratu akan meletakkan pakaian itu ke dalam lemari putri Arska. Tumpukan kain yang ada di tangan sang dayang dengan cepat di ambil oleh putri Arska.


“Berikan saja padaku, aku akan memilih dan melihat-lihat pemberian ibunda Ratu” kata putri menahan agar dayang tidak membuka lemari.


Putri melihat satu-persatu baju pemberian sang Ratu, Dia mencobanya lalu bercermin di depan kaca. Sampai pada baju dan aksesoris terakhir yang dia coba.


“Biar ananda saja yang meletakkannya nanti di lemari wahai ibunda. Ananda belum merasa puas memakai dan melihatnya” ucap sang putri tersenyum.


“Baiklah kalau begitu ayo kita ke ruangan makan, Raja sudah menunggu disana” kata sang Ratu berjalan menggandeng putri.


Di ruangan makan istana, telah tersedia berbagai macam menu yang di masak oleh koki istana. Meski ada banyak dayang yang melayani disana, Raja Jati Jajar tetap menunggu uluran tangan Ratu untuk meletakkan makan di atas piring dan mengambilkan minumnya. Setelah makan selesai, Raja melihat putri Arska begitu serius lalu memberikan sebuah pedang miliknya.


“Putri, ayahanda berharap engkau kelak menjadi penerus pemimpin Jati Jajar. Salah satu musuh yang tidak pernah bisa berdamai, menjadi momok mengerikan sepanjang sejarah dan berabad-abad lalu. Engkau pasti mengetahui siasat taktik kelicikan kerajaan Yaksa yang tidak pernah lelah ingin menghancurkan Jati Jajar” ucap Raja.


“Tapi ayah, ibunda.. bagaimana jika kalian mengetahui ada Raja Yaksa menjelma menjadi seekor angsa sedang bersembunyi di dalam lemari pakaian ku? Dia adalah Raja yang sedikit berbeda” gumam putri Arska.


“Ananda akan selalu mengingat perkataan ayahanda. Terimakasih atas pemberian pedang perak ini” ucap sang putri membungkuk.


“Tenanglah wahai Ratu ku, aku tidak akan tinggal diam” kata Raja Jati Jajar menggenggam tangan sang Ratu.


Mereka berbincang-bincang sangat lama. Putri hampir melupakan angsa putih yang berada di dalam lemarinya.


“Ananda meminta ijin kembali ke ruangan” putri berdiri lalu membungkuk ke arah keduanya.


Setelah itu putri berlari dengan cepat ke dalam ruangan kebesarannya. Di dalam ada para dayang yang sedang membersihkan kamarnya. Sedikit lagi keberadaan Raja Permadi di ketahui oleh dayang jika putri tidak tepat pada waktunya.


“Aku ingin mengerjakan sesuatu di ruangan ku. Kalian semua tinggalkan aku” perintah putri Arska.


Menutup pintu ruangan rapat, menutup tirai pembatas lalu membuka lemari pakaiannya. Di dalam sana angsa putih itu sudah lemas hampir tidak bernafas. Putri mengeluarkannya kemudian meletakkannya di atas lantai. Raja Permadi terpaksa berubah wujud seperti semula dengan nafas yang masih terengah-engah. Matanya tertutup sedikit melirik ekspresi sang putri yang sangat cemas. Raja semakin ingin mengganggu nya dengan memberikan ekspresi sekarat dengan nafas seperti hampir terputus.


“Putri, sepertinya waktu ku sudah tidak lama lagi” ucap Raja Permadi.


Putri mengguncangkan tubuh sang raja. Dia mendekatkan wajahnya tepat di wajah sang Raja. Sangat dekat sampai Raja berpura-pura menahan nafas seakan ingin memanfaatkan kesempatan itu.