Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Pembantahan


Ratu melingkarkan kalung pemberian dari sang dayang. Sesuatu yang mencengangkan terjadi melihat kalung menyalakan warna hijau begitu terik.


“Sebenarnya benda apa ini ibunda?” putri memegang kalung terasa sangat dingin.


“Dayang gurun pasir yang memberikan untuk menjaga engkau dari sihir, dia pasti tidak berniat melakukan sesuatu yang lain” ucap sang Ratu.


Melihat bunga-bunga teratai bermekaran, kupu-kupu yang terbang mengitari bunga-bunga di sudut istana. Langit bercorak indah dengan semilir angin yang sejuk bersama ibunda. Putri merangkul sang Ratu lalu menyandarkan kepalanya di pundak sang Ratu.


...----------------...


Sinar hijau dari kalung putri terpancar membentuk lingkaran meluas menutupi istana membuat ratu Helena kebingungan dari dalam ruanganya mengirim sihir hitam untuk putri Arska. Berkali-kali dia mencoba mengirim tiupan itu selalu pudar dan menghilang.


“Sialan! Apa yang sedang terjadi?” kata sang putri.


Dia duduk menyilangkan kaki, selama berjam-jam sang putri ingin mencari tau mengapa mantranya tidak berfungsi. Tapi suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.


“Putri, anda di panggil oleh Raja di Aula kerajaan” ucap kasim dari luar.


Putri Helena terpaksa menghentikan persemedian lalu menuju aula di ikuti oleh para dayang dan kasim. Di ruang inti kerajaan. Di dalam sana tampak mereka membahas tentang para dayang pendamping putri Helena yang menghilang. Setengah dari para pejabat istana mengetahui akan isu ilmu hitam putri Helena membuat kedatangan sang putri pada hari itu seperti datangnya sosok iblis di dalam ruangan. Jejak kaki sepatu tinggi terdengar menuju kursi kebesaran, gaun hitam di seret dengan benturan benda yang berada di pergelangan tangannya. Penampilan putri Helena yang berubah tidak membuat kecurigaan Raja Harun sama sekali. Semua tertutup karena dia sangat menyayangi sang putri. Di hari itu, para selir di hadirkan bersama para dayang lain. Ruangan inti kerajaan terlihat lebih ramai dan menegangkan.


“Sudah hampir di mulai, kemana perginya Ratu Haru?” tanya selir Ratu Rafa.


“Wanita itu tidak pernah mengingat statusnya, sesuka hati meninggalkan istana.Aku akan melaporkannya kepada Raja” Ucap Ratu Sesa.


Ratu Sesa memandangi lipstik putri Helena mencolok terlalu hitam legam. Dia membalas pandangan sang Ratu dengan tatapan begis. Ratu melotot membuang wajah ke arah lain.


“Raja memasuki ruangan kebesaran!” seru kasim utama.


Sosok punggawa kerajaan berdiri di depan mimbar membaca kan segala urusan istana. Gulungan keluhan terakhir yang paling di tunggu oleh semua yang hadir disitu.


Perihal para dayang istana menghilang tanpa jejak setelah memasuki ruangan putri Mahkota. Kejanggalan ini akan memicu tanda tanya isu merebak sampai keluar istana.


Maka dari itu para pejabat istana meminta kebijaksanaan yang mulia Raja untuk menanggapi kasus tersebut.


“Raja, tersangka utama adalah putri Mahkota. Sosok jin yang hamba hadirkan ini bersedia mengatakan apa yang dia lihat” ucap Ratu Sesa.


Putri Helena melirik sang ratu, dia menghembuskan sihir kea rah wajahnya.


“Arghh.. kenapa tiba-tiba wajah ku panas dan terasa gatal!” sang Ratu mengusap wajahnya yang tiba-tiba memerah.


“Dayang, cepat antarkan Ratu Sesa ke kamarnya” ucap Ratu Rafa.


Seisi ruangan masih menunggu keputusan dari Raja Gurun, mereka berdiri sangat lama.