
“Kami pantas untuk mati, bunuh lah kami!” seru panglima pendamping raja.
Mata sang Raja melotot memerah, dia mengepal tangan berbalik arah menepis selayang pedang dari musuh yang ingin menikam dari arah belakang. Di situasi seperti ini, ingin sekali Raja langsung berlari menuju hutan untuk mencari sang Ratu. Namun, kerajaan sudah di ambang kehancuran.
“Raja, raja.. tuan putri ku! Gawat!” dengan menunggangi kuda hitam dan baju perang, pangeran Tranggala menghampirinya.
Dia turun dari kudanya dan menapakkan kaki, tangannya menggenggam sang Raja seraya meminta ijin agar dia dapat mengambil alih posisi perang dan membantu mencari keberadaan sang putri.
Gerakan refleks dari panglima, mulutnya masih terkunci. Dia ingin menghentikan keinginan pangeran Tranggala dan mengubah pikiran Raja jika menyetujui keputusannya tersebut.
“Aku jadi paham maksud dan niat buruk mu untuk perlahan ingin menundukkan kerajaan Jati jajar” gumam panglima.
“Biar aku dan panglima pendamping tetap berada di garis depan. Bantulah aku mencari istri dan anakku, aku akan segera menyusul.”
Begitu mendengar keputusan raja, hati panglima sedikit lega. Dia kembali bertempur walau pergelangan tangannya sudah terkena tebasan pedang meneteskan darah semakin deras.
“Sial!” gumam pangeran Tranggala bergerak meninggalkan istana.
...----------------...
“Putri…!” jerit Raja Permadi menyalakan obor menaiki tebing dan perbukitan.
Sayapnya terlalu besar untuk mengepak di dalam rongga hutan yang di penuhi pepohonan, semak dan akar berduri. Tiba-tiba dia melihat pita biru yang tidak asing, benda milik putri Arska yang tersangkut di antara ranting pepohonan.
Aungan suara serigala, cahaya rembulan di makan kabut malam, udara yang dingin dan desisan suara ular bersama bercampur suara asing lain. Raja sangat khawatir dengan keadaan putri, tapi keyakinan bahwa putri masih hidup membuat dia tidak menyerah walau selamanya terus mencari di dalam hutan.
Pangeran Tranggala melihat Raja Permadi berjongkok menghadap ke sebuah pohon. Kesempatan emas untuk menyerang itu tidak di lewatkan olehnya. Kekuatan tenaga dalam yang dia keluarkan untuk membentuk bola api agar menembus kulit penguasa terkuat di kerajaan Yaksa.
Syuhhh….
Mendengar bunyi aneh dari arah belakang, Raja langsung menyingkir dan terbang ke udara.
“Apa yang kau lakukan! Jika kau ingin menyerang ku setidaknya jangan di wilayah dimana putri belum di temukan. Kau membakar hutan ini!” bentak Raja Permadi.
Pangeran Tranggala terus menerus menyemburkan bola api, dia ingin memanggang sosok jin yang sudah merampas miliknya jauh sebelum putri mengenal sang Raja. Melihat hal itu, Gangga yang tidak tinggal diam ikut membantu Raja Permadi dengan mengarahkan cakar raksasanya ke tubuh pangeran Tranggala. Amarah, kebencian dan kecemburuan berlebih terlebih lagi hewan peliharaan sang putri lebih memilih melindungi raja Permadi.
...----------------...
Terbangun dan tertidur seperti sebuah kesamaan. Banyak yang ingin mengincar sebuah benda yang di lihat oleh akan makhluk halus. Terjatuh ke sungai di malam hari. Membaca dua lembar alam yang berbeda penuh kerumitan. Wajah dan dan rupa sang putri Arska tidak menua, dia selalu bersinar dan dirindukan bagi siapa saja yang melihatnya.
...Kamu pikir aku sudah melupakannya? ...
...Semua hal dan bagaimana kamu berhasil mencuri kepingan hati ku lalu menyembunyikannya sedalam mungkin agar aku tidak bisa mengambilnya lagi. ...
...Kecurangan mu tidak bisa di sembunyikan lagi, jadi segera kembalikan semua bunga alyssum biru itu seperti semula. ...