
Putri Helena tiba di sambut ramah oleh ibu suri. Mereka saling berpelukan dan tersenyum ceria.
"Ibu suri yang anggun dan bijaksana, aku telah membawa oleh-oleh ramuan awet muda untuk mu" ucap Putri menunjuk ke arah tandu berwarna merah.
"Hahahah.. benarkah? kau tau saja kesukaan ku."
Lalu mereka menuju peristirahatan pangeran tapi keduanya tidak melihatnya disana.
"Pengawal! Kasim! dimana pangeran Permadi?"
...----------------...
Kisah cerita mengenai hadirmu yang berarti..
Bala tentara bergerilya memekik suasana tajam di sekitar wilayah jin. Pertempuran peperangan yang kembali bersama deras air di lemah sungai jin semakin berwarna merah begitu menyala terpancar dari Kilauan sinar matahari. Pangeran Permadi yang hadir di antara mereka dengan merubah mirip Gangga siap membunuh pasukan yang berada di kerajaan Yaksa. Bunyi shofar belum berkumandang akan tetapi dua kerajaan saling menyerang dengan brutal.
Putri Arska menebas kepala musuh dengan tangan mungilnya yang lihai memainkan pedang. Namun, di tengah pertempuran terjadi hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Ini tentang sebuah penyelamatan dan perpisahan panjang akan kehilangan orang yang menyayangi putri mahkota.
"Akhhh..." Nanjam terkena tusukan musuh ketika melindungi putri dari penikaman.
"Nanjam!" teriak putri Arska berlari menuju nya.
Namun para seribu pasukan jin yang menghadang membuat dia kehilangan jejaknya. Sang Surya yang terbit di negeri jin saat ini sangat terang dan menyilaukan mata. Putri meradang saat orang yang dia sayang di lukai oleh musuh. Hari ini dia menguras tenaga untuk menghabisi setengah musuh raja. Gumpalan keringat mengalir deras, dia mencari-cari Nanjam di seluruh kerumunan pasukan jin tapi tidak menemukannya.
"Nanjam..!"
Gangga mencengkeram putri dan membawanya terbang menuju perbukitan. Putri meronta dan masih menumpahkan amarah.
Hewan raksasa yang gagah dan pemarah itu tidak sekalipun mengeluarkan amarahnya kepada putri sekalipun apapun yang dia katakan. Gangga menurunkan putri di dekat perbukitan. Di sebelahnya telah berdiri kembaran Gangga perlahan meletakkan tubuh Nanjam ke atas tanah. Putri langsung memeluk dayang kesayangannya yang tampak sudah tidak bernyawa lagi. Tangis putri pecah tiada henti dan semakin tersedu-sedu.
"Nanjam maafkanlah aku!" ucap suara Putri semakin serak dan tidak ingin melepaskan nya.
Pangeran Permadi menarik tangan putri yang terasa sangat dingin dan bergetar. Pukulan di hati putri melihat orang yang dia sayang telah tiada akibat melindunginya. Perlahan sentuhan tangan hangat pangeran Permadi yang membuat putri enggan melawannya.
"Putri kau harus mengikhlaskan nya" ucap pangeran menggenggam erat tangan nya.
Perlahan Nanjam menarik nafas putus-putus dan menatap putri Arska.
"Putriku sayang, aku harus segera pergi."
"Nanjam bertahan lah, Gangga akan membawa tabib kemari" Putri memeluk Nanjam semakin erat.
Dia menggelengkan kepala dan mengusap lembut wajah putri Arska.
"Sekarang aku baru bisa menyentuh wajahmu. Terimakasih, putri.. aku akan berenkarnasi kembali dan menjadi pengikut mu yang paling setia"
Putri buru-buru membuka kalung bintang pemberian pangeran Permadi yang melingkar di lehernya. Pengunci kalung yang tidak bisa terbuka. Putri meminta agar pangeran membuka untuk nya.
"Putriku, Bintang itu tinggal satu lagi kekuatan nya dan hanya bisa di gunakan untuk satu nama" ucap pangeran memegang kembali tangan putri Arska.
Tangan Nanjam yang sudah terkulai lemas tergeletak di atas tanah membuat putri semakin berderai air mata.
"Nanjam..!"