Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sengit


Gangga sudah pergi menuju lembah sungai jin sesuai perintah putri. Dia mendaratkan cakaran kaki besarnya di samping dayang. Karena dayang muda itu begitu terkejut sehingga dia melarikan diri menjauh darinya.


“Arghhh! Tolong!” jerit sang dayang sangat histeris.


Gangga mengejar dayang pita hijau dengan kepakan sayapnya yang lemah. Di badannya ada puluhan anak panah beracun. Sang dayang di cengkram oleh Gangga, dia membawanya terbang menuju istana Jati jajar. Meskipun sang dayang meronta-ronta. Gangga semakin menguatkan cengkraman dan berusaha terbang mencapai tembok pembatas wilayah Jati jajar. Gangga sudah tidak sanggup lagi bergerak, Dia terjatuh ketika berhasil melewati pembatas tembok raksasa. Walaupun begitu, gangga tetap mempertahankan keselamatan dayang pendamping majikannya itu agar tidak terluka, dengan posisi menjatuhkan tubuh miring dan masih mencengkram kuat tubuh sang dayang.


“Lihat, bukan kah itu Gangga?”ucap salah satu prajurit.


Bunyi sofhar menggema di atas benteng istana. Para prajurit penjaga bergotong-royong membantu memindahkan Gangga menuju kandangnya. Panglima perang memanggil tabib hewan untuk mengambil dan mengobatinya. Selama berjam-jam tabib itu belum keluar juga dari dalam kandang. Panglima perang masuk ke dalam dan menyaksikan tubuh Gangga sudah membeku. Terlihat hewan raksasa itu sedang sekarat, sementara sang tabib masih sibuk melepaskan puluhan anak panah yang masih melekat di tubuh hewan tersebut.


“Sini, biar aku bantu” ucap sang panglima.


“Tidak, anak panah ini beracun. Kita tidak boleh sembarangan mencabutnya” kata sang tabib.


Penjaga pendamping putri menarik tangan dayang pita hijau menuju kandang Gangga. Dia menghempaskan tubuh sang dayang di hadapan sang panglima.


“Hiks” tangis sang dayang ketakutan.


“Cepat katakana, dimana sang putri?” ucap sang penjaga.


“Sebentar lagi ratu pasti akan mengetahui masalah ini, kita harus perintahkan para prajurit agar menutup mulutnya sebelum putri kembali. Jangan ada yang memberitahu keadaan Gangga saat ini” tambah penjaga pendamping putri.


“Panglima, kasim mencari anda” ucap salah satu prajurit.


“Tutupi kandang gangga dengan tumpukan jerami, jangan sampai para utusan raja mengetahuinya” ucap sang panglima.


...----------------...


Putri berusaha tetap sadar untuk membantu raja Permadi, dia menekan tubuh bagian depan. Bergerak berusaha bangkit di bantu oleh raja Permadi. Dia menyarat kembali telapak kanan sebelah kiri lalu melumuri pedang miliknya.


“Putri, apa yang engkau lakukan?” tanya sang raja.


“Kita harus membunuhnya” jawab putri Arska.


Raja jin telaga hitam memanggil seluruh arwah dan iblis hitam yang merasuki tubuh para tentara prajuritnya agar masuk seluruhnya ke tubuhnya. Sedikit demi sedikit tubuh raja yang hanya memiliki satu kaki itu mendapatkan sambungan kaki baru yang mengerikan dengan ratusan ular piton berkepala Sembilan di tubuhnya.


“Putri cepat mundur! aku akan melindungi mu” ucap raja Permadi.


Pertempuran kedua raja itu di iringi oleh suara Guntur yang sangat keras dari langit. Ular piton raksasa melilit bagian ujung sayap sang raja sehingga dia tidak bisa terbang atau menghindari. Putri Arska membantu menyerang dan menebas lima kepala ular piton itu dengan pedangnya. Ular yang mati di tangan sang putri berubah menjadi asap hitam dan suara teriakan.


“Raja Permadi, tusuk jantung raja iblis itu dengan pedang milikku!” ucap putri lalu melemparkan pedang miliknya.