
Wanita itu bermandikan emas, berlian dan permata. Baru saja dia bertemu sang putri tapi kedekatan mereka terlihat sangat akrab. Kebahagiaannya itu sampai melupakan kasus para pejabat dan menteri dua negeri. Hingga dayang pendamping berbisik kepadanya.
“Ibu suri, kabarnya pejabat daerah malam ini akan di eksekusi. Sekarang raja menuju kamar kebesaran yang mulia ibu suri untuk mengambil bukti gulungan rahasia” bisik dayang pendamping.
Mata ibu suri spontan melotot, dia tanpa sadar menjatuhkan kalung mutiara. Dia berlari sambil mengangkat gaunnya. Para dayang ikut menyusul berlari dari belakang.
“Ibu suri, hati-hati” teriak dayang pendamping.
Sesampainya di kamar kebesaran, kasim dan pengawal pendamping raja sudah menggeledah ruangan. Ibu suri menampar kedua jin itu lalu mendorong mereka untuk keluar.
“Tidak ada yang boleh menyentuk kamar pribadi ku!” bentaknya.
“Dayang, tolong bawa ibu suri keluar” perintah kasim menunjukkan surat tanda perintah raja.
Di sisi lain, putri Kayana memanfaatkan situasi mencari dimana keberadaan raja Permadi. Dia berjalan menelusuri istana sambil melingak-linguk ke segala arah. Mendapati raja sedang berada di tepi kolam teratai. Dia pun menjatuhkan diri dari titi penghubung kolam, gerakan refleks raja Permadi menangkap putri jin yang hampir terjatuh ke dalam air. Sangat lama sang putri menatap raja Permadi, geliat mata menggoda sedikit lagi raja jin bersayap kehilangan arah tidak bisa mengalihkan pandangan. Saat mendarat dia atas danau, putri Kayana merengkuhkan tubuh di dada sang raja. Dia menekuk kaki memamerkan betis mulus kanannya yang sedikit memar kemerahan.
“Putri, aku akan mengantarmu ke tabib istana” ucap sang raja.
...----------------...
“Raja, sudikah kiranya aku lebih sering berkunjung ke istana untuk mempererat hubungan kerjasama dua kerajaan ini? aku mendengar para penghianat dari kerajaan yang telah berdamai kini kembali membakar serpihan api. Tidak kah engkau berpikir ini jebakan?” ucap putri Kayana meliriknya.
“Putri, tidak semua yang terdengar adalah kebenaran. Meskipun ada para sekutu dari kerajaan lain yang telah berdamai pasti tidak semua di katakan sosok penghianat” kata sang Raja.
Raja terbang meninggalkannya di ruang tabib istana, dia mengepak sayap megejar putri. Kibasan mengayuh angin di udara, gerakan cepat sayap raksasa itu menerobos awan di angkasa menghadang Gangga dan sang putri.
“Putri berhenti lah, aku mohon” ucap sang raja.
Sifat dingin putri cahaya rembulan itu kembali hadir, dia mengeluarkan pedang bergerak posisi menyerang sang raja. Gangga ikut membantu melibas dengan cakaran, raja Permadi hanya mengelak dan menjauh tanpa ada perlawanan. Raja menarik tubuhnya, pedang yang terjatuh segera dia tangkap. Mereka mendarat di atas lembah sungai jin.
“Jangan tinggalkan aku” bisik sang raja.
Putri Arksa memukul dan menggigit pundaknya sampai berdarah. Raja tetap tidak melepaskan dirinya dan berusaha menenangkan. Rintik gerimis, gumapalan awan menggulung membentuk asap hitam melayang menembus hampir menembus tubuh sang putri.
Cahaya kekuatan cenayang Karang melindungi mereka, benturan dua kekuatan menghasilkan halilintar membakar pepohonan. Raja membawa putri menuju istana Jati jajar. Saat pandangan melihat kea rah belakang, sinar hijau terlihat berhasil menelan asap hitam dan mengubah langit menjadi cerah kembali.