Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Falsafah liku


Terikat segala ikatan pemisah hari, aku masih tetap sama mencintai mu..


Seharusnya jasad cenayang karang di kebumikan secara layak. Tidak dengan membungkus tubuh dengan kain putih atau menabur bunga di atasnya. Di dalam tubuhnya masih ada sisa kekuatan magic yang tersimpan. Isyarat yang di layangkan Karang bahwa langkah keliru dia ingin meninggalkan wilayah jati jajar. Sinar hijau dari tumpukan tanah itu menjurus ke tubuh Han.


"Ada apa? hiks.." Seguguk Han berkali-kali menepis genangan air mata yang tumpah.


Dia melakukan meditasi di depan kuburan Han selama berjam-jam. Pengambilan kekuatan dari dalam kubur, Karang seolah telah benar-benar mengikhlaskan semua miliknya untuk membuka jalan terang kepada Han. Pemindahan alih kekuatan mistis di transfer secara gemetar bercampur pusaran angin yang membanting apa saja di sekitar. Selama satu jam, Han berusaha tetap seimbang dan terduduk. Jika dia terjatuh dan terlempar maka dia akan kehilangan seluruh kekuatan dan nyawanya.


Sementara di kerajaan jati jajar


Hari-hari putri mahkota berbaring menutup mata. Seolah keceriaan dan suasana istana hening seketika memikirkan nasib penguasa ahli waris tunggal kerajaan. Hilir mudik para tabib jin memberikan segala obat kepadanya. Semakin hari wajah memucat tidak melakukan pergerakan. Selama tiga puluh hari, Gangga tidak makan apapun. Segala daging segar dan buah-buahan masih berserakan di halaman istana. Sampai para gagak hitam berkeliling dan memakan daging yang sudah busuk. Hewan gagah kesayangan putri Arska itu pula enggan mengepakkan sayap dan terbang kemanapun dia suka. Dia menunggu kehadiran putri untuk berjalan ke arahnya. Melihat Gangga yang demikian melemah, dayang utama berlari menuju kamar permadani. Tampak sang Ratu sedang memeluk erat putri Arska yang masih tertidur.


"Permisi Ratu.." Dayang utama memberi hormat membungkuk badan.


"Ada apa?"


"Gangga tidak menyentuh makanannya sedikit pun, daging segar hari ini juga masih utuh"


"Hewan pemarah yang perasa itu pasti ikut bersedih melihat putri Arska, bisikkan padanya bahwa Arska mulai pulih. Aku hanya menghawatirkan Gangga akan mati jika tidak makan. Bagaimana jika putri sudah terbangun melihat hewan peliharaannya tiada? kau paham kan maksud ku?" ucap sang Ratu menekan nada terpaksa.


Dia sudah pasrah jika Gangga akan mematuk matanya atau merobek kulit nya. Perlahan dayang utama berjalan mendekatinya. Mata tajam Gangga yang menyala berdiri tegak menekan kaki mencakar tanah.


"A, a, aku.. hanya ingin memberi kabar baik" kata dayang utama meluruskan tangan ke depan dan tetap berjalan mendekat.


Gangga menegakkan kepala, hewan raksasa itu ikut mendekatinya.


"Tuan putri Arska berangsur pulih, dia menginginkan kau agar makan" ucap dayang utama langsung berlari meninggalkan Gangga.


...----------------...


Langkah kaki Han menuju istana jati jajar, seakan magic karang telah membimbingnya sampai di depan istana. Tembok raksasa yang menjulang tinggi sudah terlihat. Bersama akar tajam yang hampir menutupi istana. Han mencium bau anyir yang terlalu menusuk rongga hidung.


"Apa yang sudah terjadi dengan kerajaan tersebut? apakah takdir bulan berada di dalamnya?" gumam Han mempercepat langkah.


Dia mengeluarkan tanda identitas simbol muara hijau kepada panglima perang yang sedang berjaga. Manik mata melirik ragu melihat pakaian Han tampak bercak darah.


"Tunggu disini, aku akan segera kembali" kata panglima menuju istana.