
-Teruntuk tuan putri Aska-
Kali ini hati ku benar-benar sudah matang tanpa sedikitpun keraguan
Dunia ku tidak akan indah tanpa hadir mu
Cinta segenap rasa ku berikan sekalipun detak jantung untuk mu
Jangan buat aku kembali merasakan langit gelap dan rintik hujan
Raja menuju dimensi lain di lapisan negeri jin.Berbekal sebuah benda ghaib pemberian cenayang Han, dia sampai di depan benteng kerajaan Jati Jajar. Ada yang aneh disana, raja tidak menemukan penjaga jin atau penghuni yang lain. Dia mendorong pintu gerbang sekuat tenaga, terlihat putri Arska tersenyum ceria menyambutnya.
“Raja Permadi!” panggil putri Arska.
Dia berlari sekencang mungkin lalu melompat merangkul leher jenjangnya. Tidak biasanya putri bersemangat menggebu, raja sedikit mengerutkan dahi membiarkan putri tidak melepaskan pelukannya.
“Putri, kau sudah bangun? Bagian mana yang terasa sakit?” ucap raja.
Putri Arska menggelengkan kepala, dia menatap raja mencari-cari arah bola mata yang pas.
“Dimana raja dan ibunda ratu? Ijinkan aku bertemu dengannya”
“Mereka bersama para pengawal menuju wilayah seberang untuk melakukan rapat istana. Raja kemari lah, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan mu” ucap putri menyendok beberapa potong daging dan setumpuk sayuran di atasnya. Raja mengangguk, melahap semua makanan sesekali membalas senyuman putri.
Raja meletakkan sendok dan meneguk air minum. Sedikit lagi dia akan mengeluarkan semua isi di dalam perut menahan daging yang sulit di cerna. Tubuh raja menggigil kedinginan, akan tetapi putri tidak memperdulikan keadaannya. Dia menarik kembali lengan raja, merengek agar segera di bawa pergi ke tempat yang hanya ada mereka berdua.
“Putri, apakah engkau melupakan janji kepada rakyat mu? Mereka menunggu kepulangan mu berharap wilayah Jati Jajar kembali bangkit dan terlindungi” kata Raja memperhatikan pupil matanya.
Pandangan kosong terasa sangat dingin, jari tangan kaku menekan lengannya. Raja mengamati garis lekukan mata sang putri sedikit menyeringai menggambarkan rasa keegoisan.
“ayolah cepat kita pergi, aku tidak memperdulikan itu semua” rengek sang putri.
“Lepas! Kau bukan putri yang aku kenal. Dimana putri Arska?” Raja menghempaskan tangannya.
Seketika suasana kerajaan Jati Jajar berubah menjadi hutan yang gersang. Putri berubah menjadi seorang lelaki tua memakai tongkat berbentuk akar di tangannya.
“Wahai raja jin bersayap, kau tidak boleh menyentuh pohon pembangkit ruh atau kau akan menerima karma buruk” ujar lelaki tua.
“Aku harus menyelamatkannya, tidak perduli bagaimana hancurnya tubuhku” ucap raja.
Memalui kekuatan tenaga dalam yang dia miliki, dari jarak satu meter sang raja memetik setangkai bunga pembangkit ruh. Akan tetapi akar raksasa menebas lalu menyerang secara brutal ke arahnya. Raja melawan serangan akar-akar raksasa yang penuh duri. DI tangan kanan mengeluarkan energi ke salah satu bunga sedangkan tangan sebelah kiri menolak serangan. Sampai akhirnya salah satu akar pohon ghaib mengenai sayap kiri raja. Dia terjatuh berusaha bangkit lagi kemudian kembali mengeluarkan energi. Tidak hanya sampai disitu, serangan akar berhasil menyayat sekujur tubuh sang raja hingga mengeluarkan muntah darah.
“Raja, jika engkau tidak mengentikan semua ini maka engkau akan kehilangan nyawa mu” ucap lelaki tua.
Penguasa Yaksa itu tetap bersikeras mendapatkan keinginannya sehingga salah satu bunga pembangkit ruh dapat dia ambil. Kelopak bunga lebih kecil dari pada putik, serbuk sari bercahaya putih menyilaukan setiap mata yang melihat. Raja tersenyum memegang tangkai bunga lalu bergerak meninggalkan dimensi dunia lain.