Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Deretan terjal


Menenggelamkan rasa berharap mendapatkan perhatian dari raja jin bersayap. Putri Kayana memanggil para jin yang menangani di bidang tata rias bangsawan untuk mempercantik dan mempoles dirinya seanggun mungkin. Setelah mendengar kabar bahwa Darson menjalin hubungan kerjasama dengan Yaksa, dia mempersiapkan diri agar lebih mempesona di hari esok. Hari sudah larut tapi para perias masih sibuk mengurus setiap helai rambutnya. Tanpa terasa hari berganti, persiapan menuju ke kerajaan Yaksa berlangsung sangat rumit. Terlalu banyaknya permintaan dan bekal yang di bawa membuat muatan semakin banyak bersama iring-iringan kereta kuda.


“Putri, gaun mana yang akan di pakai? Kami sudah menyiapkan dua gaun pilihan” ucap salah satu perancang busana kerajaan.


Sebuah gaun bersulam emas dengan hiasan bulu burung merak berwarna coklat yang di padukan sepatu kaca putih sedangkan satu gaun lagi terbuat dari sisik ular dengan sepatu kaca berlian dan sebuah hiasan mahkota berukir ular sanca.


“Aku pilih satu paket gaun kedua” ucap sang putri menunjuk.


...----------------...


Raja menarik putri Arska, dia melihat seluruh pupil matanya berwarna merah darah. Mengingat kejahatan suku Taraya dan tragedy di masa lalu. Raja Permadi mengusap kening sang putri lembut berharap kekuatan yang berasal dari dalam tubuh sang putri dapat menyadarkan dirinya sendiri.


“Aku memang raja jin bersayap terkuat di alam ini, tapi aku tidak memiliki kekuatan yang tidka terlihat. Putri sadarlah! Engkau harus bisa melawan kekuatan sihir Taraya! Jangan buat aku trauma akan masa lalu kembali” ucap sang raja memeluknya erat.


Tetesan air hujan bagai bercampur darah sang raja. Pucatnya wajah raja Permadi menahan rasa sakit seolah darah hampir tersedot habis oleh sang putri. Kira-kira perjalan hampir mendekati pura, raja mengepak kuat sayap raksasa bagai menyapu angin di angkasa. DIa terjatuh melewati tembok gerbang pembatas pura bersama sang putri yang dia dekap erat.


Seluruh cenayang terkejut melihat kedatangan mereka, terutama kepala cenayang pura melotot melihat keanehan pada sang putri. Dia melihat aura hitam sedang berada di dalam tubuhnya, putri yang kerasukan terkena sihir tidak memperdulikan apapun tetap melanjutkan menyedot darah di bagian pundak raja Permadi.


“Cepat ikat sang putri dengan benang suci!” perintah kepala cenayang.


Tujuh cenayang memegang erat benang yang mengikat tubuh sang putri. Gerakan kuat sang putri satu persatu menjatuhkan para cenayang. Hampir saja salah satu leher ceyanang di cekik olehnya. Kepala cenayang pura mengucapkan mantra. Cenayang Han mendekati nya, dia mengucapkan mantra mengusap wajah sang putri dengan bantuan sihir Karang. Sang putri jatuh pingsan, para cenayang memindahkannya di dekat kolam keabadian sedangkan sang raja di bawa ke aula pura. Penangan kedua jin berlangsung sangat lama. Luka raja tampak parah, kepala cenayang memutuskan memetik daun kehidupan di pohon yang di dekat kolam.


“Setelah ini raja akan menjalani hari yang lebih sulit, dia menerima daun milik jin ghaib untuk kehidupannya” ucap kepala cenayang melanjutkan mantra.


Sihir cenayang Karang berhasil mengeluarkan sihir hitam Taraya, tapi bukan dengan mudah mengembalikan kesadaran sang putri.