Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Seakan sirna


Luka lama tidak pernah cepat di sembuhkan. Kisah menghidupkan satu hati untuk satu jok yang selalu dia setia. Hanya saja tidak ada yang bisa memperbaiki waktu tampa keihklasan dan ketulusan yang dia rasa.


Duri penghalang, tajam namun hidup bersama dengan pasukan utusan jin. Putri menetapkan hati bahwa raja Permadi untuknya. Mereka sudah memutuskan akan memberitahu kepada sang Raja mengenai penculikan sang putri. Pintu gerbang terbuka lebar, para pasukan kuda jin hitam memasuki halaman istana. Disana ada pangeran Tranggala, membusungkan dada ke depan menatap tajam dengan menjatuhkan pedangnya.


“Aku adalah putra mahkota Telaga hitam datang membawa perdamaian meminta kabar genting tentang putri Arska” ucap pangeran Tranggala turun dari kudanya mendekati panglima perang.


Sang panglima mengarahkan pedang ke arah leher pangeran, melotot geram mengingat perlakuannya pada hari lalu. Penculikan benda pusaka milik kerajaan Jati Jajar. Melihat pergerakan sang panglima, para pasukan pangeran siap menyerang ke sang panglima. Tangan panglima mengangkat ke atas memberi peringatan kepada mereka.


“Tahan serangan kalian, ini urusan ku !” kata pangeran Tranggala.


“Pergilah” bisik panglima perang.


“Wahai panglima, bukan kah engkau seharusnya melindungi kerajaan di masa krisis seperti ini? Aku datang secara baik-baik hanya untuk mengetahui kabar putri Arska” Pangeran Tranggala menatap.


“Panglima, kita tidak bisa melawan mereka atau mati sia-sia di tangan penghianat. Ikuti saja kehendaknya lalu segera paksa pergi” pengawal pendamping sang putri berbisik sambil menyodorkan belati ke tangan sang pengawal.


Dengan berat hati, panglima mempersilahkan dia memasuki istana. Hanya pangeran Tranggala yang di perkenankan masuk dan melihat sang putri cukup dari depan pintu kamar kebesaran.


“Aku akan mencarikan putri tabib jin yang professional untuk menangani penyakitnya” ucap pangeran Tranggala bergerak berjalan masuk.


“Sekali saja langkah kecil mu ini menuju sang putri maka aku akan memotong kaki mu menjadi beberapa bagian” ucap Raja Permadi melempar pangeran keluar istana.


Di berdiri di tengah halaman istana, menatapa pasukan telaga hitam sambil menahan rasa sakit di telapak tangannya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.


“Jika kalian tidak ingin aku habisi maka tinggalkan kerajaan ini!” tegas Raja terbang di atas langit.


Di balik awan putih, gerombolan ratusan hewan-hewan berterbangan mengelilingi Raja Permadi. Pangeran Tranggala bersama pasukannya langsung meninggalkan istana. Sebelumnya sosok jin pengikutnya melemparkan tombak raksasa ke salah seekor hewan itu mengenai paruh sehingga jatuh melayang di udara. Kesalahan fatal salah satu pangeran membuat amarah hewan bersayap marah menyerang pasukan telaga hitam dan pangeran Tranggala.


“Arghhh…”


Mencabik, menyerang , menghabisi sampai si pembunuh mati mengeluarkan bau darah yang telah membunuh para rombongan hewan bersayap.


“Raja! Bukan kah aku sudah keluar dari istana Jati Jajar, kenapa kawanan mu tetap mengejar kami?” tanya pangeran Tranggala.


“Mereka tidak akan berhenti mengikuti sebelum pasukan mu yang membunuh mereka merelakan diri untuk di cabik sampai sekarat dan mati” ucap Raja permadi.


Segala sebab akibat, semua yang terjadi tidak akan pernah nyata jika di sambung dengan lipatan waktu yang jauh.