Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Petisan dan ibu Suri


Bahkan di tengah rasa sakit dia tetap berupaya ingin menemui pujaan hatinya. Pangeran Permadi seakan lupa bahwa mereka sangat sulit untuk bersama dan bersatu. Segala perbedaan yang menghalangi. Dia masih mematangkan niat melabuhkan hati untuk putri jin seorang.


...💙💙💙...


Di kerajaan Yaksa.


Pangeran permadi sudah melewati masa kritis, dia adalah putra mahkota jin terkuat yang memiliki warisan ilmu tenaga dalam dari leluhur jin pada masa lalu. Di ruangan bernuansa merah dia masih membungkus dirinya dengan selimut. Wajah pucat, keringat mengalir bercucuran tanpa henti. Tabib yang masih berjaga menyiapkan ramuan kembali untuk dia minum.


“Cukup, sampai kapan kau harus berbaring terlihat sangat lemah seperti ini? Tubuhku sudah jauh lebih pulih” ucap pangeran membuka selimut mencoba bergerak.


Dia tertahan oleh jarum akupuntur yang tertusuk di bagian kepalanya. Pangeran yang keras kepala itu menarik paksa tabib memberi kode untuk melepaskan.


“Baiklah pangeran..”


Setelah meminum ramuan yang di berikan, pangeran menuruni kasur mencoba berjalan dengan terbata. Para kasim dan pengawal membantu menegakkan namun di tepis mencoba bergerak sendiri.


“Putri, aku datang” gumam pangeran meraih jubah lalu menuju pintu.


Sebelum dia melangkah keluar, tampak Raja dan Ratu memasuki pintu. Mata sang Ratu melotot kemudian mereka menggiring pangeran kembali ke kasur.


“Bagaimana keadaan mu wahai anakku?” tanya Ratu mendekati pangeran.


“Dan apakah kau puas sudah menolong musuh kita?” kata Raja melempar raut amarah.


“Maafkan aku ayah dan ibu, aku telah jatuh hati dengan putri”


Pangeran merapatkan dua tangan di depan dada kemudian berlutut kepada keduanya.


“Lancang sekali kau!” sergah bentakan Raja mengangkat tangan hendak menampar akan tetapi Tangan Raja di cegah oleh Ratu memeluk pangeran.


Raja berbalik meninggalkan kamar putra mahkota bergegas menuju aula kerajaan, dia masih menggenggam amarah di yang memuncak. Para punggawa dan menteri kerajaan mempertanyakan tindakan penghianatan pangeran kedua kali. Raja duduk di singgasana menghadapi pertanyaan yang belum dia jawab. Hal yang paling membuatnya khawatir adalah petisan pelengseran putra mahkota yang akan di ambil alih oleh Futon atau kala paman Pangeran. Seorang menteri berdiri di depan melontarkan petisan dengan suara lantang.


“Tolong kabulkan permintaan kami wahai Raja” sorak para pejabat berlutut di depannya.


Tiba-tiba pintu aula terbuka, ibu Suri berjalan masuk dengan cepat berjalan menuju kursi kerajaan. Di samping masa tegang, dia masih mementingkan riasannya agar tidak luntur.


“Apa yang tidak aku ketahui disini, katakanlah?”


Mendengar perkataan ibu Suri, seorang menteri kembali membacakan petisan. Ibu suri menyela perkataan para pejabat yang ikut memasuki pihak suara tertuju.


“Tunggu, kalian meminta hal yang sangat mustahil. Selama aku masih hidup, tidak ada yang bisa menjatuhkan pangeran.”


“Tapi, ibu suri..” sela menteri pertahanan berlutut memukul-mukul kepalanya ke lantai.


“Cukup menteri, aku tidak mau mempermalukan rakyatku!” Raja berdiri meminta meminta pengawal membawa menteri pertahan keluar.


“Ibu Suri! Raja! Bagaimana dengan kehormatan ku sebagai penjaga istana!” jeritnya di seret keluar oleh pengawal.


...----------------...


Sementara di kerajaan jati jajar.


Putri Arska sudah melewati masa krisis, lengannya di jahit dua puluh jahitan. Kini dia sedang menatap kearah luar istana. Awan di negeri jin tidak tampak indah bersama langit yang sedikit ke biru-biru an membentang membawa angan peperangan lalu. Dia bertanya dan melawan gejolak amarah kepada diri sendiri, musuh yang menyelamatkan dan selalu mengikutinya.


“Lalu, apa sebenarnya tujuan mu wahai pangeran dari kerajaan Yaksa?” gumam putri menahan sakit pada lengan.


“Permisi putri di panggil oleh Ratu untuk makan bersama” ucap kepala dayang istana.


“Baiklah aku akan segera kesana, katakan pada ibunda Ratu bahwa aku masih bersiap-siap”