Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Rumit dunia jin


Kepada cinta biru:


Cinta kita sedang di selimuti rasa praduga


Gemuruh datang lagi mengguncang


Mempertanyakan dimana tempat ternyaman di hati mu


Jauh aku meragu dalam aku menekan tanda kebimbangan dengan mu


Sedangkan masih banyak hari yang harus aku lewati


Tumbuhan yang telah kita tanam belum berakar namun panas matahari terlalu terik menyinari


Duhai kekasih hati


Ijinkan aku sementara pergi


untuk mendapatkan jawaban keyakinan ku setulus hati


...💙💙💙...


Mereka sedang terpisah untuk sementara waktu, hanya bisikan angin Aurora di Langit jin yang menjadi warna indah sebagai pelepas setitik rindu yang menggebu. Dunia jin yang tidak lepas dari seluk beluk masalah berliku. Namun dimana pun pangeran berpijak seolah nama Putri Arska selalu terpatri rapi di hatinya. Bunga edelweis terakhir yang putri terima adalah hasil perjuangan Badar yang terakhir.


Amarah raja yang belum mereda sedang pangeran yang belum enggan memasuki gerbang istana kini menuju perasingan dekat alun-alun peristirahatan ratu di wilayah barat. Dia masih berduka dengan kepergian Badar, seolah tiada lagi Kasim yang paling setianya sepertinya. Pemilihan kandidat kepala Kasim yang di layangkan ibu suri membuat pangeran berberat hati menyetujui keinginan tersebut. Namun seorang pangeran jin harus memiliki pengawal, Kasim dan algojo pribadi. Selama ini hanya Badar lah yang paling dekat dan mengerti.


"Pangeran, aku sudah memutuskan mana yang terbaik bagi mu" ucap ibu Suri duduk di hadapan Pangeran.


Mendengar ucapan pangeran, sang ibu suri menaikkan sudut bibirnya yang berwarna ungu. Penampilan ibu suri yang selaras dengan gaun dan segala hiasan terlihat sepadan. Kesumat yang masih di tancapkan pada Ratu Layanan membuat ibu suri hanya terdiam tanpa sepatah kata.


...----------------...


"Pangeran Tranggala berhenti kau!" teriak putri mengejar menuju hutan dekat lembah sungai jin.


Setelah di pergoki oleh putri saat di ruang rahasia, pangeran itu menghindar agar tidak mendapatkan masalah dari raja. Misi dan rencananya pupus dan dia mendapatkan malu. Dengan amarah yang membara, putri membidik anak panah tepat di lengan pangeran Tranggala. Pertarungan keduanya dengan Saling beradu pedang.


Mengulas seluk beluk pangeran Tranggala yang lahir di telaga hitam.


Tubuh jin putera mahkota itu sangat keras seperti batu. Dia bisa menyemburkan air hitam dengan kekuatan mistis yang di warisi oleh para leluhur. Siapa saja yang terkena air mematikan tersebut akan hangus dan melempuh. Pangeran Tranggala terkenal angkuh dan perayu, dia mencari segala cara untuk melumpuhkan hati putri Arska namun berujung pertarungan.


Di hutan berdaun raksasa telah berdiri kembali dua jin dari kerajaan berbeda. Kini mereka saling menganggap musuh yang nyata dan pangeran sudah gelap mata. Dia menyemburkan air hitam mengenai kaki putri agar putri berhenti mengejar nya.


Syuuhhhh..


"Argghh!"


Setelah menyerang dengan senjata pamungkas, pangeran berlari dan menghilang diantara pepohonan. Kaki kanan putri melempuh dan tidak bisa di gerakkan. Peluit yang melingkar di lehernya untuk memanggil Gangga tanpa tersadar sudah terjatuh di tebing. Putri meraba leher dan mencari ke segala arah. Dia kehilangan benda itu, hanya kalung bintang pemberian pangeran Permadi yang masih bertahan.


"Ibunda.." lirih suara putri Arska menahan sakit pada kakinya.


Pedih dan sangat sakit, putri mengeluarkan keringat tanpa henti dan terjatuh pingsan.