
Aku masih mencintaimu, sungguh hati ini tidak berdusta
Aku melewati perjalanan panjang setelah kematian kita berdua
Putri Arska kembalilah dan hidupkan kembali hati ku yang mati ini
Jangan buat aku menderita
Langit tidak seindah yang ku pandang bila engkau tiada
Hari lelah meraih kelopak bunga dari alam lain agar engkau menjadi nyata
...💙💙💙...
Selalu saja raja bersayap itu bertengger di atas pohon mencari posisi yang pas untuk tidur. Bahkan di dunia manusia, dia harus menjadi sosok lelaki yang siap siaga. Malam ini Maharani tampak tidur nyenyak, dia tidak merasakan ada gangguan apapun hingga terlelap sampai besok pagi. Raja melompat dari atas pohon, diam memanggil Kasim Jou dengan ponselnya lalu memerintahkan sang Kasim untuk membawakan berbagai macam makanan dan minuman.
Kasim juga membawa tikar besar lalu membantu raja menyiapkan makanan di bawah pohon. "Raja, tidak ku sangka engkau dapat menggunakan peralatan canggih di alam manusia" ucapnya tersenyum.
Maharani berjalan menuju mereka, setelah gaun putih dengan rambut panjang di kuncir satu. "Maharani, bolehkah aku menggunakan toilet di rumah mu?" ucap raja berjalan menuju ke dalam.
Belum ada persetujuan dari wanita itu, raja sudah masuk dan tidak keluar selama berjam-jam. Sementara Maharani melihat beraneka macam makanan dan minuman yang telah di siapkan oleh raja membuat dia mengacungkan jempol kepada sang kasim. Balasan saling tertawa, tanpa menunggu raja Permadi datang. Mereka berdua menyantap paha ayam dan saling bersulang.
"Maafkan hamba raja.." ucap Kasim menunduk.
Di mulutnya masih ada ayam yang menggantung.
Maharani meraih sepotong paha ayam lalu memasukkan ke dalam mulut raja Permadi. Kemudian dia teringat lagi, raja bersayap itu tidak suka makan hewan yang bersayap. Buru-buru Maharani meraih kembali ayam itu lalu tersenyum menyeringai menatap raja Permadi.
"Raja, ini daging sapi segar yang di panggang selama beberapa jam" Kasim memberikan sepiring daging yang beraroma Lezat bersama sebuah pisau dan garpu.
Mengiris daging lalu menikmati santapan makanan lezat di pagi hari. Raja menyuap ke mulut Maharani dengan lembut sambil membersihkan tepi bibirnya dengan sapu tangan. "Aku bisa melakukannya sendiri" kata Maharani tersipu malu.
Di kehidupan ini, raja hanya ingin membangunkan jiwa putri untuk kembali di reinkarnasi alam jin. Kerajaannya tidak boleh di kuasai dan di pimpin oleh ibu suri yang kejam. Setelah makan selesai, dari arah depan tampak suara klakson mobil orang tua Maharani. Raja Permadi dan Kasim Jou bergegas merapikan tempat itu lalu mengikuti langkah Maharani ke halaman depan.
"Tidak, sekarang bukan waktu yang tepat. Astro telah tiada karena mengorbankan dirinya untuk ku. Apa jadinya jika ayah dan ibu melihat kalian berdua di pagi hari seperti ini? aku tidak ingin timbul ke salah pahaman"
Raja menuruti perkataan Maharani. Dia membawa Kasim Jou terbang dari pagar pembatas rumah lalu menuju mobilnya. "Raja, engkau terlalu mencintainya" ucap Kasim pelan.
Melajukan mobil kembali ke kediaman raja Permadi. Sepanjang perjalanan dia tersenyum sendiri melihat tingkah lucu Maharani yang menggemaskan. Raja merindukan dunia jin dan segala isinya. Di alam manusia sayapnya seolah tidak berguna dan jarang sekali di pergunakan.