Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Pasti sang cenayang salah


Malam ini langit di negeri jin begitu gelap tanpa cahaya rembulan. Namun sorak ramai hewan-hewan malam di sekitar peristirahatan pengasingan pangeran Permadi menenggelamkan suara jejak langkah seorang penyusup yang memasuki areanya. Huson memakai baju ninja membawa pedang panjang di punggungnya yang siap menebas leher pangeran.


Suatu penglihatan putri tentang kejadian nyata atau sekedar bunga tidur belaka.


"Arrghh...!" teriak Putri terbangun dengan keringat bercucuran di dahi.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan ke pintu kamar putri Arska. Nanjam berkali kali berusaha mengetuk namun putri tidak menjawab.


"Putri, apakah kau baik-baik saja?" teriak Nanjam menggedor paksa berusaha mendobrak.


Pikiran putri mencari lagi hal yang dia ingat di dalam mimpinya. Sosok pangeran yang sedang terbunuh setelah di tikam oleh sosok jin dari belakang. Nanjam dan pengawal yang berhasil mendobrak pintu mendapati putri duduk termenung dengan nafas terburu-buru.


"Putri, maaf aku berpikir engkau sedang di dalam bahaya" kata Nanjam membungkuk kan badan dan menyodorkan sapu tangan.


Dia memberi kode kepada pengawal untuk meninggalkan kamar permadani. Nanjam melirik kalung yang melingkar di leher putri, dia mengingat sebuah perkataan seorang peramal yang di katakan saat putri masih kecil. Sampai saat ini semua perkataan sang peramal di masa lalu perlahan nyata setelah dia melihat putri begitu dekat dengan pangeran Permadi.


Flashback


Ratu terduduk di atas kasur dengan menahan rasa sakit. Ini sudah hari ke dua puluh bayinya belum lahir juga. Tubuh Ratu tampak kurus dan lemah, dia tidak mau makan. Hanya sesekali makan buah-buahan dan meneguk madu dari putik bunga-bunga segar di siang hari. Tabib istana lalu Lalang memeriksa keadaan Bayi di dalam kandungan yang tampak sehat. Ada apakah gerangan?


Seharusnya dia sudah melahirkan setengah bulan yang lalu. Raja yang panik membantu mengusap perut besar sang ratu, dia juga memerintahkan para dayang untuk memijat kaki Ratu dan membantu menyapu keringat yang mengalir deras dari tubuhnya.


"Wahai permaisuri pendamping kerajaan jati jajar, sungguh aku tidak sanggup melihat mu begitu kesakitan" ucap Raja Prawasa.


"Maksud mu bahwa Ratu sedang mendapat serangan ghaib!"


Mendengar jawaban dari sang Raja maka Nanjam begitu ketakutan akan mendapat hukuman. Tapi ibu Suri tampak merespon perkataan Nanjam dan berdiri mendekati nya.


"Sepertinya ide mu bagus juga, aku juga ingin melihat sifat asli dari wanita itu" bisik Ratu tersenyum tipis.


Setelah ibu suri meminta Raja mengesahkan kedatangan cenayang dari wilayah muara hijau, pada hari itu pula cenayang tersebut di jemput dan di hadapkan langsung di tengah ruangan kebesaran Raja dan Ratu. Dia memakai gaun berwarna hijau. Ketika dia berbicara tampak dua gigi taring di bagian atas dan dua di bagian bawah. Tatapan tajam melihat sekitar bersama membawa hawa dingin membuat sekujur tubuh menggigil.


Kenapa tiba-tiba disini dingin sekali, wanita itu.. gumam Nanjam melirik sang cenayang.


"Kemarilah, katakanlah apa yang lihat pada bayi kami."


Raja memerintahkan sang cenayang mendekati mereka.


"Anak yang memiliki takdir memiliki keseimbangan antara takdir baik dan takdir buruk karena memiliki garis penglihatan lain tentang dunia jin. Di saat dewasa kelak dia harus merelakan kehilangan orang yang dia cintai atau harus memilih siapa yang akan pergi menghembuskan nafas terakhir. Dan satu lagi, semua itu bermuara dari balik kekuatan nya yang terlalu mengerikan! haaaahhh...!"


sang cenayang menyentuh perut Ratu dan bergerak mendengus menggelengkan kepalanya.


"Apa kata mu! pengawal usir wanita ini!"


"Kau raja yang bijaksana kenapa tidak seperti biasanya lari dari kenyataan?" ucap pelan sang cenayang.


"Berani sekali kau!"