
Catatan teruntuk tuan putri ku si darah biruđź’™
Ketika kau sedang melukis senja di hatiku yang lelah, bayang senyum mu menggoda segala kibasan sayap raksasa ku yang sedang aku terbangkan. Di dalam benak selalu terlintas gerai rambut panjang membius jiwa. Walau berkali ku mencoba membuatmu tersenyum pada ku, tapi selalu engkau masih saja berpaling arah. Aku disini akan terus mencoba mengukir mahkota sebagai tanda engkau lah kelak yang menjadi ratu di hatiku. Hari ini sedang ku utarakan segenap rasa yang menggetarkan langit jin beserta seluruh penghuni ghaib nya. Teruntuk putri yang sedang melempar rasa praduga padaku. Besok aku akan merampas mu dari tubuh raksasa Gangga. Di Medan perang, aku akan mengutarakan kembali rasa cintaku padamu. Maka bersiaplah..
...Pangeran Permadi...
...----------------...
Tampaknya putra jin Yaksa itu masih berambisi mendambakan putri jati jajar. Seolah dia sedang gelap mata dan menelantarkan gelar di pundak untuk memiliki putri yang keras kepala itu. Dia menyusun rencana strategi perang dan pangeran kembali menyerupai wujud Gangga agar tidak di ketahui oleh para jin lain. Hanya ada putri yang nanti akan menyadarinya. Ilmu berubah wujud menjadi seribu makhluk jenis binatang dan dirinya mendapat anugerah sepasang sayap raksasa itu di miliki dari para leluhur terdahulu.
Misteri pangeran bersayap
Ketika bulan purnama bersinar terang, sepasang sayap melebar mengepak seolah menutupi langit jagat raya. Kerlip bintang bertaburan menghiasi kata harapan sebagai wujud nyata dari sosok pangeran Permadi. Dia memiliki simbol bintang di pundak. Saat ratu mengandung pangeran. Kerajaan Yaksa pada masa itu mengalami paceklik dan kekeringan. sampai tiba hati Raja berubah menghitam dan menganggap pangeran sebagai anak pembawa musibah. Dia mengutus Huson untuk membunuh pangeran saat lahir nanti. Namun praduga sang Raja ternyata salah besar, setelah kepala dayang memberi kabar bahwa kelahiran pangeran yang memiliki simbol bintang itu di artikan oleh para cenayang bahwa memiliki keberkahan bagi kerajaan dan musim semi di negeri jin, lalu raja langsung mengurungkan niat untuk membunuh nya.
...----------------...
Di perasingan pangeran Permadi
Ibu suri menarik baju perang pangeran yang telah di kenakan. Hampir saja hiasan rambutnya terlepas tak kala menahan keseimbangan badan.
"Pangeran, bukankah kau di larang untuk ikut berperang?"
"Sebentar lagi putri Helena akan tiba, kau harus menyambutnya"
Apakah kau masih lupa siapa putri di hatiku? gumam pangeran mengusap kepala.
Setelah melihat langkah ibu suri meninggalkan perasingan, pangeran secepatnya merapikan kembali baju perang. Dia menyelipkan beberapa belati dan senjata tajam lain. Dia juga berencana memetik bunga untuk putri.
"Badar, badar! kenapa kau sangat terlambat hari ini. Aku ingin menanyakan kepada mu, mana yang putri Arska sukai. Apakah bunga edelweis atau alysum biru?" ucapnya terhenti seketika menyadari bahwa yang di depan pintu bukan lah Badar melainkan Kasim baru yang mendampingi.
Badar telah pergi selamanya, pangeran masih belum terbiasa di tinggalkan oleh sosok Kasim yang paling setia dan baik itu.
Badar kau membuatku ingin menangis saja! gumam pangeran mengepalkan tangan.
Menyadari Kasim baru itu menunduk di hadapan. Pangeran tampak Acuh dan memberi kode agar dia meninggalkan perasingan.
"Pergi dan kembalilah setelah matahari tepat di atas kepala"
"Baik pangeran.."