
Lembar catatan diary Maharani
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Astro hari ini aku melihat mu di sosok yang lain. Lelaki itu hadir di sela kegelisahan dan duka ku yang berkepanjangan. Astro, aku membenci mu, engkau pergi meninggalkan aku selamanya. Aku tidak ingin kehidupan dan kesembuhan jika engkau tiada di sisi ku. Air mataku ini tiada berhenti menetes. Engkau begitu tega terhadap ku. Bukankah engkau telah berjanji akan menjaga ku?
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
...----------------...
Setelah kematian Raja Permadi dan putri Arska, langit jin menghilang menunggu putaran waktu reinkarnasi kembali raja bersayap. Raja yang hidup kembali di dunia manusia membawa musim hujan berkepanjangan. Kini dia yakin pada seorang wanita yang di temui. Maharani di balik tubuh putri Arska.
Semalaman raja berdiri di depan rumah Maharani. Dia menunggu wanita itu keluar dan menanyakan kembali apakah dia mengenal dirinya.
Sekitar pukul 07:00 WIB Maharani membentang payung hendak pergi ke kampus. Dia sangat terkejut melihat lelaki yang di hadapannya. Seharusnya dia sudah pergi tadi malam. Maharani masuk kembali ke dalam rumah. Dia mengambil payung lalu memberikan kepada raja.
"Paman, apa yang sedang engkau lakukan disana? pulanglah" ucap Maharani.
Setelah raja menerima payung pemberian Maharani. Dia berjalan meninggalkan Raja, lagi-lagi lelaki itu membuntuti sampai ke halte bus. "Kali ini aku yang akan bayar" ucap Raja masuk ke dalam bus.
"Paman apakah engkau pengangguran? kerjaan mu hanya kesana kemari saja" tanya Maharani.
Raja Permadi tidak menjawab, dia melirik gantungan kunci bunga allysum biru yang menggantung di sisi kiri tas Maharani. Raja meraih gantungan kunci Maharani, dia ingat di dunia jin sering sekali memberikan putri Arska bunga allysum biru di selipan gulungan surat cintanya.
Reinkarnasi awal, raja meneguk setengah ramuan dari cenayang Han membuat dia tidak sepenuhnya kehilangan ingatannya. Bus berhenti di pemberhentian halte selanjutnya. Raja mengikuti langkah Maharani dari belakang.
"Paman, kamu tidak boleh masuk. Aku akan menuju gerbang kampus" ucap Maharani menahan raja.
"Baiklah kalau begitu aku akan menunggu mu disini."
Raja berdiri di depan gerbang Maharani.
Hari ini kelas bahasa asing berlangsung selama dua jam. Maharani enggan bertemu lagi dengan lelaki yang selalu mengikutinya. Dia mengambil jalan pintas dari belakang. Berjalan menuju halte lalu menutup wajah dengan bukunya.
"Dasar lelaki aneh!" gumam Maharani naik bus menuju rumah.
Senja telah datang, gerimis mengabarkan suasana sendu mengingat kekasih yang telah tiada. Daun dari pepohonan basah menetes mengenai tangannya. Maharani memikirkan perkataan lelaki yang katanya akan menunggu sampai dia selesai.
"Apakah dia masih menunggu ku? kenapa aku jadi mengkhawatirkan nya?"
Maharani meraih jaket dan tas selempang, dia berpamitan kepada ibunya lalu menuju halte bus. Menunggu kedatangan bus selama satu jam. Perjalanan menuju kampus kembali terlihat di ujung pintu masuk lelaki itu masih menunggu dirinya dengan menatap ke arah gedung.
"Paman..!" teriak Maharani.
Sosok yang mirip dengan Astro itu terlihat basah kuyup selama berjam-jam menantinya. Dia tidak mengatakan apapun hanya menatap Maharani dengan pandangan teduh. Maharani menarik tangan raja Permadi menuju halte. Di halte bus, keduanya saling membisu. Perlakuan nya membuat Maharani menjadi merasa bersalah.