Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Menerka


Keras suara shofar di atas benteng dan menara terdengar memberi sinyal perintah kerajaan. Mereka tidak lagi berperang atau mengejar musuh bebuyutan. Pencarian cenayang Han untuk melakukan penyelamatan sesuai janji Raja Kepadanya. Di atas langit, Gangga terbang mengepakkan sayap lebih cepat dari biasanya. Dia sedang menikmati hari berulang di masa lalu dengan majikan yang pernah tiada. Bau darah cenayang karang seolah membuat Gangga berpikir sang majikan masih hidup.


"Gangga, kau mau membawa ku kemana?" tanya Han memegang erat paru Gangga dan memeluknya.


...----------------...


Mata indah itu masih terlihat memerah seolah baru saja terbangun dari tidurnya. Dia melihat sekeliling, wajah-wajah terkasih yang terlihat mencemaskan. Raja dan Ratu memeluk erat putri Arska. Pelupuk mata yang basah mereka tutupi dan segera menepis. Dayang utama memberi kode kepada semua yang hadir disana untuk meninggalkan kamar permadani.


"Ananda, apa yang kini engkau rasa? bagian mana yang terasa sakit?" tanya Ratu memperhatikan.


"Tidak ada yang sakit, Terimakasih Ibunda dan ayahanda. Maaf sudah mengkhawatirkan kalian." Serak suara putri menahan tangis.


Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di telinga mereka. Suara pangeran Tranggala yang selalu mengintai dengan memainkan peran protagonis mendekati kerajaan jati jajar. Dia berdiri dan membawa sebuah kotak besar yang berisi kepingan logam mulia.


"Putri ku, oh bunga yang ku kagumi! terimalah pemberian ku ini" teriaknya menyodorkan kepada dayang utama.


"Sebaiknya kita tinggalkan putri untuk beristirahat, pangeran ikutlah dengan ku untuk mencari cenayang Han dan Gangga"


"Tunggu, ayah dimana Gangga? apa yang sudah terjadi padanya?" tanya putri Arska.


"Nanti kami akan menceritakan semuanya, sekarang beristirahat lah" perintah Ratu meninggalkan kamar putri.


Perlahan putri Arska menuju jendela dan melihat ke arah halaman istana. Kemudahan dia menuju nakas dan mencari-cari letak kalung yang berisi peluit untuk memanggil hewan kesayangannya itu. Arska mengarahkan tiupan keluar jendela. Dia meniup tanpa henti namun Gangga tidak kunjung datang.


......................


"Sial sekali, aku harus mencari cara agar bisa kembali ke dunia manusia!" Astro memporak-porandakan kamarnya dan mencari benda apa saja sebagai petunjuk.


Dia terdiam sejenak melihat lukisan Raja Permadi, guratan wajah dan rupa yang sangat mirip dengannya. Astro menepuk keras pipi dan mencubit kecil. Terasa sakit dan kulit yang nyata melekat di tubuhnya. Dia mengamati sekali lagi, di depan cermin dan menoleh ke arah lukisan tersebut.


"Siapa kau?" ucapnya sendiri di depan cermin.


"Raja, Raja apakah kau baik-baik saja?" sosok Kasim histeris melihat tingkahnya yang berbicara sendiri.


"Pergilah!" ucapnya menutup pintu.


Seharian dia mengurung diri di kamar dan mengabaikan kedatangan ibu suri. Astro menemukan selembar kertas yang sudah usang berwarna kecoklatan. Ada sehelai daun raksasa kering di dalamnya. Sebuah nama yang tertulis tidak asing baginya. Aksara tulisan yang mirip di dunia manusia. Astro berusaha mengejanya dengan terbata-bata.


"Ars, Arska.." ucapnya lalu fasih.


Seketika kepalanya menjadi sangat sakit. Dia seperti kehilangan hal yang sangat berarti di hidupnya. Seakan ada yang hilang di hati lelaki itu.


"Siapa wanita yang dia tulis ini?"


Astro mengamati daun raksasa kering dan sekeliling ruangan mengingat lagi kemiripan di dunia manusia. Daun, beberapa benda-benda di alam jin hampir sama di dunianya.