Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Simbol tengkorak dari suku Taraya


“Aku adalah Runa, sosok dayang pendamping utama dari kerajaan Harun yang rela menjadi tangan kanan Ratu Jati Jajar untuk melindungi putri Arska” ucap Ratu Harun tetap menyembunyikan identitasnya.


Sang Ratu tersenyum bahagia, dia membungkuk tapi sang Ratu Harun langsung menegakkan tubuh Ratu Jati Jajar kembali.


“Wahai ratu, ini sebagai balas budi ku untuk mu yang pernah menyelamatkan ku” ucap Ratu Harun lagi.


“Tapi, tidak kah engkau merasa takut jika hal ini terbongkar? Nyawa mu kini menjadi taruhannya”


Ratu Jati Jajar mengerutkan dahi.


Dia memberikan sebuah batu giok tanda pengenal kerajaan Jati Jajar, dia juga memberikan sebuah tusuk konde berbentuk ukiran naga. Sang Ratu Harun menolak semua pemberiannya namun sang Ratu Jati jajar tetap memaksa agar dia menerima.


“Semua benda ini di butuhkan agar engkau lebih leluasa memasuki istana Jati Jajar. Pakai tusuk konde ini sebagai symbol kekuasaan, segala penjuru akan mengenal engkau sebagai penguasa wilayah jin.”


“Terimakasih atas kebaikan yang mulia Ratu yang agung” Ratu Harun membungkuk lalu meminta ijin untuk pergi.


Di dalam kerajaan Gurun


Putri Helena berjalan memasuki ruangan Rapat istana. Penampilan jauh berbeda dari biasanya, segala aksesoris yang di kenakan berwarna hitam, pewarna bibir hitam dan tampak kulit kecoklatan di bungkus jubah sulaman tengkorak membuat kesan angker yang melihat. Raja Gurun melirik sang putri, tatapan tajam penuh amarah tersirat di wajah putri Helena.


“Apa yang membuat engkau seperti kerajaan lainnya yang ingin berebut istana yang tidak terlalu megah itu? Di bandingkan dengan pasukan ku jika di bawa ke medan perang untuk melawan mereka pasti dalam hitungan detik semua pasukan Jati jajar bisana” tanya Raja Gurun.


“Wahai ayah, aku hanya ingin memenangkan kompetisi melawan kerajaan lain untuk merebut wilayah Jati Jajar” ucap sang putri tersenyum.


“Baiklah, kita akan kirim pernyataan perang besok ke kerajaan Jati Jajar.”


Di dalam kamar kebesaran, putri Helena merasakan hawa panas di tubuhnya. Simbol tengkorak dari suku Taraya menjalar mengisap sedikit demi sedikit darah yang berada di dalam tubuhnya. Dahaga dan rasa haus sang putri ingin merasakan darah segar. Dia menekan leher berusaha menahan hawa yang aneh itu. Sang putri yang sudah tidak tahan ingin meneguk darah memanggil dayang pendampingnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Haus yang tidak tertahankan lagi itu langsung menggigit leher sang dayang meneguk darah tepat di bagian urat nadi. Sang dayang tidak bisa berteriak karena mulutnya di ikat kuat dengan kain. Setelah sang putri puas mengisap darah sang dayang mayatnya di bakar menjadi abu menggunakan kekuatan kepala tengkorak yang ada di dalam dirinya.


Wajah putri Helena kembali memerah, dia melihat symbol tengkorak semakin jelas sesekali bergerak di tangannya. Saat dia mengusap symbol itu, ada sosok tengkorak keluar dari tangannya, mata yang bolong, ular-ular kecil berjatuhan lalu berbaris mendekatinya.


“Kami siap menerima perintah” ucap kepala tengkorak dan ular kecil bersuara parau.


“Aku perintahkan kalian membunuh putri Arska! Hahahah..” gelak tawa sang putri Helena sambil melotot.


......................


Jangan lupa dukung author terus ya, tekan favorit♥️, rate bintang lima⭐⭐⭐⭐⭐, like, vote, komen halu, setangkai bunga mawar🌹 dan secangkir kopi hangat☕. Terimakasih dengan sabar mendukung, salam santun semuanya.