Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Han dan energi Karang


Baiknya waktu bisa di hitung mundur atau di hapus dan di hentikan. Hari tidak berjalan dan dunia tidak berputar. Semua tinta yang tertulis menjadi boomerang tersendiri untuk memilih diantara dua pilihan. Di hapus atau di bakar habis menjadi debu sebagai pengganti birunya syair madu di angkasa.


Belum habis banjir yang berusaha di bendungan ini menstabilkan gerakan air. Disana di ujung negeri jin, ada yang sudah menjelma menyerupai bagian cerita alam jin dan membaur menanam bejana kehancuran untuk matahari dan bulan. Setelah memutuskan semua perkara ini, rembulan menekan sinar lebih terang dari biasanya.


Mengilas kembali serbuk pecahan kaca yang masih belum sepenuhnya bisa di bersihkan. Setengah mati jiwa ini berusaha bangkit dari racun kemarin. Hanya ada genangan bekas kehangatan dekapan sayap yang masih menjadi penghalang kepergian rembulan yang hampir tertutup gelapnya malam.Kesungguhan hanya bagai sejengkal tangan jin ghaib yang berusaha di layangkan agar membanjiri dahaga kerinduan tiada batas.


Lingkaran mengenai wajah-wajah jin zaman dahulu dan segala cerita yang tersimpan. Kedatangan cenayang Han yang berusaha mengungkap tabir dan membawa kekuatan dari cenayang Karang yang telah tiada. Serpihan serbuk dandelion hijau menyemai ke arah atap kerajaan.


Aliran darah para leluhur terdahulu yang tercium oleh Gangga membuat dia menjadi sosok pelindung cenayang Han. Jari panglima hampir saja terputus saat gerakan mendorong cenayang Han untuk kedua kali ke luar pintu gerbang istana. Gangga benar-benar ingin mencabut jari-jari panglima perang itu dengan sekali tarikan.


“Gangga, apa yang kau lakukan?!” bentak panglima menekan rasa sakit pada pucuk jarinya yang terluka.


Tanpa sadar dia menarik pedang dari pinggang dan mengarahkan pada hewan raksasa itu. Gangga si hewan pemarah menghentakkan cakaran kaki ke tanah membusungkan paruh dan mendekat ke panglima. Tubuh panglima yang tidak stabil menghadapi Gangga langsung terjatuh, tangan ke arah atas melambai member kode berhenti.


“Sudah maafkan aku!”


Dia menyadari tindakannya, terlebih lagi Gangga adalah hewan kesayangan putri Arska. Panglima membuka jalan menuju pintu istana. Cenayang berjalan sampai ke depan pintu dan berjalan memasuki kerajaan


Kedatangannya menjadi pusat perhatian para punggawa istana, beberapa para dayang dan kasim.


“Katakan, apa yang membawa mu sampai ke sini wahai orang asing” kata pengawal pendamping raja.


Dia tidak menjawab pertanyaan pengawal. Cenayang Han hanya menunjukkan tanda pengenal symbol cenayang muara hijau. Pengawal langsung mengambil tanda pengenal tersebut dan menunjukkan kepada Raja. Simbol yang sangat familiar atau tidak asing secara turun temurun melewati beberapa masehi. Lambang cenayang Muara hijau, sumber kekuatan penghubung kolam ghaib di dekat kerajaan jati jajar.


"Wahai cenayang, beritahu aku tentang kabar Pura muara hijau dan apa yang membuat mu meringankan langkah menuju istana jati jajar?” Tanya Raja mengerutkan dahi.


“Wahai Raja yang Agung, sudi kah aku terlebih dahulu meminta kepercayaan pada mu?”


Mendengar pertanyaan cenayang Han membuat pengawal raja melotot dan berjalan satu langkah lalu menahan melanjutkan langkah.


“Tidak usah terburu-buru, kau berkenan dan masuk ke istana dengan selamat sudah menjadi salah satu bentuk rasa percaya pada ku” jawab Raja sambil tersenyum.


Cenayang Han membenturkan dahi ke lantai dan berkali-kali meminta maaf sampai dahinya lebam membiru hampir mengeluarkan darah. Dayang utama menghentikan tingkahnya dan memberikan sehelai kain untuk mengusap wajahnya.