
“Lantas, apa tujuan dia pergi kesana?” tanya Ratu Rafa kembali.
Sementara Selir ketiga atau Ratu Harun hanya mendengarkan pembicaraan mereka. Dia menghafal semua gerakan dan membaca situasi dengan sikap tenangnya.
“Harun kenapa engkau diam saja, apakah sebelumnya engkau sudah mengetahui kepergian sang putri?” tanya Ratu Sesa.
Ratu Harun mengangkat bahu, dia menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir para Ratu yang kosong.
“Aku tidak pernah ikut campur dengan masalah istana, lakukanlah sesuka kalian.”
...🔥🔥🔥...
Malam berganti di sertai nyanyian suara burung hantu di sekeliling wilayah kerajaan. Ratu Harun memerintahkan salah satu sosok jin pengikut setianya untuk menyampaikan sebuah surat ke kerajaan Jati Jajar.
Di dalam ruangan peristirahatan sang Ratu Harun mengingat kembali kebaikan dari Ratu Jati Jajar. Sosok jin yang pernah menyelamatkannya ketika akan di bunuh oleh para selir Raja Gurun Pasir.
Ingatan silam
“Tolong! Tolong!”
Suara teriakan Ratu Harun berlari mengangkat gaun panjangnya.
Tusuk konde terlepas, bajunya kotor dan kakinya terluka karena tidak memakai alas. Saat itu cuaca sedang mendung di iringin gerimis dan awan gelap. Ratu Jari Jajar berada di kolam teratai di luar istana bersama dayang pendamping. Dia masih enggan beranjak dari tempatnya karena masih menyelesaikan sulamannya.
Sulaman dan anyaman terindah yang dia persiapkan untuk kelahiran sang buah hati. Tiba-tiba dari balik pagar terlihat sosok jin berlari tergesa-gesa sampai kakinya tertancap oleh akar yang tajam.
“Argghhh…”
Dayang pendamping terkejut lalu berlari memanggil panglima.
“Ku mohon tolong lah aku, ada yang ingin membunuh ku” lirih suaranya gemetar melihat ke sekeliling.
Ratu memperhatikan sosok itu seolah sangat terancam. Dia meletakkan sulamannya berusaha berdiri sambil memegang perut besarnya. Dayang pendamping membantunya berdiri, sambil tersenyum sang Ratu mengusap perut mendekati sosok wanita tersebut. Dia memegang tangannya lalu menarik perlahan agar dia bangkit.
“Tenanglah, kalau begitu segera pakai jubah ku ini dan sembunyikan wajah mu dengan kipas yang aku berikan” ucap sang Ratu membantu dia memakai jubah lalu duduk berhadapan.
Dari arah barat segerombolan para jin berlari menuju kolam teratai. Mereka mengenakan pedang dengan mata melotot melihat ke arah sang Ratu. Pengawal menghadang langkahnya dengan mengulurkan pedang berjalan maju.
“Jangan mendekati Ratu Jati Jajar atau semua pasukan akan menghabisi kalian!” ucap panglima perang.
Ratu Jati Jajar berdiri melihat gerombolan jin, dia menatap tajam ke arah mereka.
“Mengapa kalian kesini wahai para pasukan jin?” tanya sang Ratu.
“Kami mencari sosok jin wanita, jika kalian menyembunyikan dari kerajaan Yaksa maka Ratu Sesa tidak akan mengampuninya.”
“Aku adalah permaisuri Jati Jajar, siapapun yang menentang dan menyerang ku maka Raja Jajar tidak akan memaafkannya” ucap sang Ratu menarik pedang berjalan mendekati mereka.
“Pergi, jangan ganggu waktu santai keluarga Jati Jajar” tambah sang Ratu.
Dengan perut membesar tenaga sang Ratu seolah bertambah. Setelah berhasil mengusir gerombolan Yaksa sosok wanita yang di hadapan membungkuk lalu berlutut.
“Terimakasih wahai Ratu yang agung. Aku tidak akan melupakan budi baik mu”
Ratu Harun mengusap air matanya, kejadian pahit di masa lalu yang tidak dia lupakan di hidupnya. Gerombolan dari utusan Ratu Sesa yang ingin membunuhnya.