
Sementara para pasukan dan Raja Gurun sudah berangkat menuju perbatasan wilayah menunggu matahari terbit untuk menyalakan perang. Lima ribu pasukan jin di kerahkan untuk berperang melawan Jati Jajar sedangkan sisa prajurit Jati Jajar sekitar seribu pasukan.
“Raja, pasukan sudah siap menyerang” ucap pangeran Danel duduk di atas kuda jin.
“kita tunggu sampai terbit fajar, walau bagaimana pun pria sejati tidak akan bersikap pengecut menyerang lawan dalam keadaan lemah. Aku mengingat perkataan dari sahabatku Raja Jati Jajar, tidak ku sangka hari ini aku berkhianat menyerang kerajaannya” kata sang Raja melihat istana dari kejauhan.
Di kerajaan Yaksa, ibu suri tertawa mendengar berita dari salah satu kasim. Dia bertepuk tangan sambil menikmati buah persik di ruangan kebesaran.
“Hancurlah kalian wahai Jati Jajar!” ucapnya tiada henti tertawa sampai terdengar keras di luar ruangan.
Pengawal Raja Permadi yang mengetahui sontak mengabarkan kepada sang Raja.
“Aku harus segera menyembuhkan luka ini dan membantu kerajaan Jati Jajar” ucap sang Raja.
“Tapi, ayahanda Raja sudah meminta ku untuk menghalangi Raja agar tidak berhubungan dengan kerajaan itu” ucap panglima perang menunduk.
“Wahai panglima pengikut ku sekarang engkau bisa memilih menjadi sosok jin kepercayaan ku atau musuh ku. Apakah engkau akan mengkhianati ku?” tanya sang Raja.
“Hidup dan mati ku hanya untuk Raja Yaksa” kata panglima menunduk.
Raja Permadi terbang memasuki perbukitan di lembah sungai jin. Dia memanggil para hewan bersayap untuk membantunya melindungi kerajaan Jati Jajar. Raja juga memanggil sebangsa hewan yang menyerupai Gangga untuk mengawal pelindung di garis depan. Setelah matahari terbit kedua kerajaan itu saling berhadapan di garis perbatasan.
“Tidak ku sangka sosok penguasa yang aku anggap sahabat ternyata berkhianat dan ingin menghancurkan kerajaan ku” ucap Raja Jati Jajar menatap Raja Gurun.
Dia hanya terdiam lalu mengangkat pedang menyalakan tanda ke seluruh ribuan prajuritnya.
Raja Permadi sudah bersiap-siap membantu, dia bersama pasukan pengikutnya yang setia dan para pasukan puluh ribuan hewan bersayap terbang di atas lembah menunggu perintahnya. Pandangan mata pangeran Danel melihat banyak hewan yang terbang di atas lembah perbukitan.
“Raja, seperti ada yang tidak beres dengan semua hewan-hewan itu” ucap pangeran Danel terus-menerus mengamati.
“Serang!” perintah Raja Gurun.
Seluruh pasukan Gurun menebas beberapa kepala prajurit Jati Jajar, tapi tiba-tiba dari arah barat terlihat banyaknya hewan bersayap menyerang pasukan Gurun mencabik tubuh mereka lalu mengeluarkan isinya.
“Arghhh…” erangan suara kesakitan para pasukan.
“Aku sekarang mengerti ini yang disebut jin bersayap pelindung Jati Jajar” gumam pangeran Danel menarik pedang besi putih menyerang Raja Permadi.
Pedang besar itu berhasil merontokkan beberapa helai sayap sang Raja. Sang pangeran melakukan cara yang licik dengan menghembuskan bubuk panas ke arah mata sang Raja membuat dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Mata sang Raja terasa sangat panas, dia tidak bisa melihat keadaan hanya menebas pedang ke segala arah. Kepakan sayapnya yang besar membuat hewan di sekitarnya ikut terhempas.
“Raja!” teriak putri Arska.
Aku sudah pulih setelah terkena sihir tadi malam
Kau lihat, kini aku berbalik melindungi mu
Wahai Raja perayu yang berhasil mencuri kelopak putik bunga di hati ku
Kini aku menuju kamu