Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Seulas lubuk


kepada pangeran Permadi:


Sesungguhnya engkau milik sang pencipta,


disini aku akan selalu mendoakan mu


dalam malam panjang di atas sajadah yang selalu basah tergenang sejuta rindu dan sendu.


Aku menitipkan seutuhnya engkau kepada Nya


begitu pula segala ketulusan dan kepercayaan yang selalu ku coba sematkan seutuhnya untuk mu. Jika masa telah tiba memisahkan kita, cukup aku menantimu di keabadian.


...💙💙💙...


Sepanjang malam yang berganti mentari, sayap besar terus mengepak di atas langit jin. Seolah dia memberi sinyal pada dunia bahwa dia sudah berhasil penjadi penguasa baru. Dia mengabaikan perjodohan dengan putri Helena, inikah cinta sejati atau hasrat yang sepintas menggebu demi memperkuat kekuatan semata?


Muara air yang menggenang di sepanjang hilir lembah sungai jin perlahan kembali jernih. Basah embun memandikan siraman rerumputan hijau muda membawa hawa segar mengawali fajar menyingsing menyambut hari baru. Mahkota jin penguasa menyala membawa tahta tertinggi di dunia jin. Sekalipun kerajaan jin bersayap itu pernah kalah dalam peperangan. Akan tetapi tidak mengurungkan semangat meraih kembali bangkit dari rasa malu yang berkepanjangan. Nyatanya putri Arska mengakui bahwa kemenangan itu hanya simbol belaka. Kini dia mengetahui bendera merah yang berkibar di kerjaan jati jajra tidak akan membentang njika tidak ikut campur tangan dari pangeran permadi.


“Aku tidak suka kemenangan yang palsu ini! Kenapa kau tidak ikut berperang hari itu? Dan kini kau berubah wujud seperti Gangga dan mengitari kamarku! Nakal sekali!" Gumam putri Arska bernada pelan.


“Apakah kamu mendengarku? Pergilah kau!” usiran yang di tujukan oleh pangeran permadi dan sekaligus pangeran Tranggala yang bersembunyi di balik pintu kamarnya.


Jantung pangeran begitu cepat terpompa saat mendengar suara keras putri Arska untuk pertama kali di hidupnya.


POK..


Timpukan tangan keras sosok algojo jin bertubuh tinggi yang berukuran tiga meter itu mendekat. Hampir saja dia memukul pangeran Tranggala yang sudah di anggap lancang berada di depan kamar putri mahkota.


“Berani sekali kau! Cepat panggil dayang utama!” bentak pangeran menepis tangannya.


Sampai pagi ini, putri masih melawan gejolak risau di hatinya dan selain itu pula pangeran yang sudah bergelar raja jin bersayap masih mengelilingi luar istana jati jajar.


“Permisi putri, pangeran telah lama menunggu” ucap dayang utama memperhatikan lingkar mata panda putri Arska yang begitu menonjol.


“Katakan saja, aku tidak ingin bertemu dengannya.”


Setelah mendengar penolakan dari putri itu, lantas tidak menghentikan keinginan pangeran Tranggala untuk menemui sang putri.


Gaun putih berbalut selendang hijau. Hiasan ikat rambut berbentuk bunga teratai putih menambah kesan anggun pada putri jati jajar. Sang putri keluar istana, hendak mengusir raja baru Yaksa yang tidak berhenti mendekatinya. Begitu pula langkah pangeran Tranggala mengejar jejak putri. Tiupan angin menerbangkan selendang hijaunya yang melayang di udara. Raja yang masih menyerupai Gangga itu sekejap meraih selendang putri dan terbang menjauh dari kerajaan jati jajar. Manik netra putri membelalak melihat adegan penangkapan selendang kesayangannya. Langsung saja putri meniup peluit sinyal pemanggilan Gangga untuk mengejar hewan jelmaan tersebut.


“Putri tunggu!” teriak pangeran Tranggala mengikuti dengan kuda jin.


Saat mencapai perbatasan hutan menuju bukit lembah sungai jin, dia kehilangan sang putri.


“Kemana perginya dia?"