Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Gersang


Dia tetap memeluk raja Permadi dan mengabaikan segala perkataan jin bersayap tersebut. Dayang pendamping putri Arska yang menelusup ke dalam istana Yaksa untuk mencari Raja Permadi begitu terkejut melihat pemandangan adegan saling bertautan Raja Permadi dan Ratu Helena. Dia yang semula berpura-pura sebagai pelayan pengantar minuman dengan membawa beberapa gelas di atas nampan tanpa sadar terjatuh dan mengagetkan keduanya.


“Tidak pantas sesosok dayang melihat hal yang tidak seharusnya dia tau, terlebih lagi bukankah aula kini sudah sepi? Apakah engkau salah satu mata-mata?” putri Helena menghampirinya dan menarik baju sang dayang.


“Kau begitu mencurigakan dan merusak semuanya” bisik sang putri menarik kuat bajunya.


Sang dayang menutup mata, dia sudah bersiap untuk di penggal dan tidak berani mengucap apapun. Sosok dayang yang tampak familiar di mata sang Raja membuat dirinya terbebas dari hukuman putri Helena.


“Tahan amarah mu wahai putri, dia adalah dayang yang aku perintahkan untuk mengantarkan minuman” kata Raja Permadi menarik simbol giok kerajaan Jati Jajar yang melingkar di pinggang dayang tersebut.


“Dayang yang ceroboh” gumam Raja lalu memerintahkan kasim untuk mengantarkannya ke ruangan kebesaran Raja.


“Putri, sebaiknya engkau beristirahat. Dayang utama akan mengantarkan mu ke kamar tamu dan menyiapkan segala keperluan mu”


Sang Raja meninggalkan putri Helena dan secepatnya menemui dayang pendamping putri Arska di ruang kebesaran.


“Bagaimana kabar putri Arska?” tanya raja begitu gusar kemudian mengembalikan kembali simbol kerajaan jati Jajar dan memberikannya satu lagi simbol kerajaan Yaksa.


“Pakai ini ketika ada yang mencurigai mu” tambah Raja berbisik.


Raja meniup peluit dan memanggil Gangga dari kalung pemberian putri Aska untuk membantu dayang keluar dari istana. Dia menyadari ibu suri tidak akan tinggal diam dan terus menerus memata-matainya sepanjang waktu. Ada sosok jin di balik pintu yang sedang berusaha menguping pembicaraan mereka.


Sang dayang menyerahkan simbol giok putih kepunyaan putri Arska kepada Raja. Belum sempat dia melangkah kaki untuk keluar dari istana Yaksa dari arah jendela bersama Gangga, sang dayang sudah di bunuh dengan pisau belati dari arah pintu lain yang menembus sampai ke urat sarafnya.


“Tidak!”


Pengawal pribadi Raja langsung mengejar pelaku sementara sang dayang sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Dua simbol yang di pegang oleh sang dayang di ambil kembali oleh raja untuk membuang segala jejak dan kecurigaan para aparat kerajaan. Kini ada tiga simbol di tangannya, yang paling dia sesali adalah kesalahan terbesar tidak bisa menyelamatkan putri Arska dan pengikut setianya.


“Aku berjanji akan mencari mu, sekalipun aku tiada dan akan terlahir kembali hanya untuk mu” gumam Raja menyaksikan pemakaman dayang pendamping putri Arska.


Mata-mata yang berasal dari ibu suri itu menyampaikan kabar sampai menuju telinga putri Helena. Sebelum pemakaman dayang pendamping putri Arska di mulai, putri Helena sudah menukar jasad dayang dengan jasad lainnya dan di bawa ke ruang otopsi. Putri yang tidak mempunyai hati itu membongkar isi tubuh sang dayang mencari tau apapun jejak dan tanda yang di tinggalkan.


...----------------...


...🔥🔥🔥...


Terimakasih tetap setia bersama dalam suka dan duka. Mohon selalu dukung author dengan peninggalan serpihan bunga mawar🌹, like👍🏻, vote, komen, rate⭐⭐⭐⭐⭐ dan favorit♥️ ya.. Salam persahabatan selalu🙏🏻