Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Wadah hati untuk mu


Pertemuan di balik rasa sakit pada luka, berdua saling menguatkan. Seakan rindu pangeran yang meradang sudah sedikit mereda.


Di tengah hujan badai, Arska masih memeluk erat leher Gangga. Basah kuyup tubuhnya menggigil terbang di bawa oleh Gangga menghindari kepungan musuh. Dia mengasingkan diri di balik perbukitan dekat lembah sungai jin. Luka-luka kemarin akibat pertempuran masih belum sembuh, jahitan di lengan kanan sedikit terbuka membuat rasa sakit bercampur suhu badan menggigil.


Sampai larut malam, putri masih menjadi buronan kerajaan Yaksa. Dia bersembunyi di dalam gua raksasa tempat sang ular piton hitam bersemayam. Gangga dengan gagah nan kuat berhasil memenggal kepala sang ular jin terkuat karena tidak mau melakukan transaksi perdamaian dengan putri.


"Gangga, kenapa kau membunuh nya? Sekalipun dia sudah membuat onar di istana, hanya malam ini aku meminta dia untuk mengijinkan kita beristirahat, ya walau dia tidak berkenan dan menyembur bisa ke arah ku" ujar putri membalut dan mengikat luka dengan sobekan ujung pakaian.


Gangga menatap tajam putri, dia merangkul tubuh putri dengan sayap besarnya dan menjaga semalaman. Tidak terasa putri sudah terlelap sambil menahan rasa sakit. Tiba-tiba ada gerombolan pengawal yang menemukan mereka. Gangga membungkus tubuh mungil Arska dengan kedua sayapnya. Hewan perkasa itu seakan telah pasrah mati demi menyelamatkan putri. Pedang jin mengarah ke kepala Gangga, para prajurit mengayun pedang bersiap bersama membunuh Gangga.


Syat, syat, syat.


Suara gesekan senjata bersama ramai prajurit menyerang pangeran yang datang dari belakang. Lagi dan lagi pangeran membunuh prajuritnya sendiri. Seperti berhianat dengan diri sendiri, pangeran menutup pintu masuk gua dengan semak belukar berduri dan menggeser mayat prajurit ke sisi lain. Sayap pangeran yang belum bisa berfungsi membuat dia terkesan begitu lemah. Pangeran menyeret sayap raksasa nya melihat Gangga.


"Wahai kau peliharaan putri, sedang apa kau disini Sendiri? Dan apa yang ada di balik sayap mu itu?" Tanya pangeran mengerutkan wajah dan berjalan lebih dekat.


Mata tajam Gangga hanya membalas tatapan pangeran dan semakin merapatkan sayapnya. Paruh terbuka lebar mengarah ke pangeran, namun langkah pangeran semakin maju dan berusaha menenangkan Gangga.


"Aku tidak akan menyakiti siapapun."


Gangga merenggangkan sayap dan memperlihatkan sosok di baliknya. Pangeran begitu terkejut melihat putri yang sedang kesakitan. Pangeran membuka ikatan kain pada luka putri yang sudah basah bersimbah darah. Dia merobek ujung bajunya dan mengikat kembali luka dengan sangat hati-hati.


"Bertahanlah.."


bisik pangeran melihat wajah pucat putri.


Mata putri begitu berat untuk terbuka. Mereka masih di dalam persembunyian karena suasana di luar masih terdengar begitu ramai.


Di kerajaan jati jajar


Dayang Nanjam mondar-mandir gelisah menunggu putri yang tidak kunjung kembali. Dia sudah berbohong kepada dayang Sim dengan mengatakan putri sedang mandi.


Bangunan kolam persegi empat di tengah kerajaan jati jajar yang di kelilingi oleh bunga teratai putih merupakan pemandangan lain yang ada di dalam benteng raksasa jin yang pemandian favorit putri Arska. Nanjam memerintahkan para anggota dayang putri untuk menutup mulut dan tetap berada disana sampai putri tiba. Sudah tiga jam berlalu, Nanjam mempersiapkan diri jika dayang Sim kembali untuk mempertanggung jawabkan kebohongan nya. Gerakan langkah cepat langkah kaki yang begitu familiar melengos membentak Nanjam.


"Cepat katakan dimana putri!" suara keras sambil bertolak pinggang di hadapannya.


"Aku sendiri yang akan menghadap Ratu.."