Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Nama itu terus mengejar Raja Permadi


Dalam hal ini, akan kejadian memenjarakan para pasukan. Apakah semua itu pantas untuk di maafkan? Raja kini masih di dalam ruangan kebesaran merenungkan titah apa yang akan dia sampaikan. Pengawal pendampingnya mengetuk pintu seraya memberikan kabar akan perintah raja yang sudah dia laksanakan.


“Raja, semua sudah terlaksana. Namun para tahanan masih hamba tempatkan di belakang halaman istana berhubung para tamu masih ramai di depan istana” ucap pengawal pendamping.


“Panggil ibu suri untuk hadir sekarang di halaman istana, aku akan menghampiri para tamu dan menyambut mereka. Jangan ijinkan dia untuk ke halaman istana depan atau menyambut tamu satupun.”


Di depan halaman istana, Raja menggunakan baju kebesaran menyapa para tamu yang hadir. Tidak terkecuali pula para calon kandidat Ratu Yaksa.


“Berhubung kesehatan ibu suri tiba-tiba menurun, maka acara pemilihan para putri mahkota sebagai Ratu Yaksa di tunda sampai batas waktu yang akan di tentukan. Terimakasih telah hadir ke istana Yaksa, semoga wilayah kita aman sentosa” ucap raja membungkuk menunjukkan hormat kepada para tamu.


“Hidup Raja Yaksa."


“Hidup!"


Sorak seluruh tamu melihatnya, senyum tawa pelepasan kepergian meninggalkan istana Yaksa. Di saat para tamu keluar berdesak-desakan, jin wanita yang pernah raja Permadi tolong pada malam itu menyelinap masuk sampai ke halaman istana. Dari kejauhan dia melihat penguasa bersayap itu berdiri di dekat kolam bunga teratai.


“Aku tidak menyangka bahwa engkau adalah Raja penguasa Yaksa” gumam jin wanita tersebut.


“Raja, wahai raja… apakah engkau masih mengingat ku?” tanyanya tersenyum berseri.


“Ingatan ku masih mengingat jelas. Selamat datang di kerajaan ku, ada keperluan apa engkau kesini?” ucap Raja.


“Hamba ingin meminta pertolongan sekali lagi. Rumah kami telah habis terbakar dan tidak ada satupun yang tersisa.”


“Aku akan mencarikan mu tempat berteduh dan memberikan engkau usaha di sebuah wilayah Yaksa. Pengawal akan mengantarkan engkau. Aku sedang ada urusan yang sangat penting” Raja Permadi meninggalkannya.


Jin wanita itu berteriak mengucapkan dengan jelas siapa namanya:” Wahai Raja yang baik, nama ku Fika. jika usaha ku lancar maka aku akan datang lagi ke istana tidak melupakan rasa terimakasih!”


...Hitam hatinya, panas hati bersama pemikiran dan tindakan yang kejam. Membanting kerusuhan bertubi-tubi memaksa ketakutan semakin merasuki jiwa. Dia sosok ibu suri dengan angkuh duduk menunggu sang Raja di tengah halaman belakang istana....


“Walau bagaimana pun engkau adalah cucuku. Engkau tidak mungkin memenggal atau menghukum ku” gumamnya penuh rasa percaya diri.


Di tengah suasana yang hening, Raja hadir membawa tatapan tajam seakan bersiap memberikan berjuta pertanyaan. Dia tidak duduk di samping ibu suri, hanya mengambil posisi berdiri beberapa jarak darinya. Para tahanan berlutut memberi hormat sesekali menatap ibu suri.


“Jangan paksa aku untuk membuka mulut kalian. Katakan saja siapa yang telah memenjarakan kalian” kata Raja.


“Wahai raja, Ibu suri lah yang memenjarakan kami. Kami tidak pernah berniat sedikitpun untuk memberontak” mereka berlutut membenturkan wajah di atas tanah.


......................


Terimakasih sudah mampi, jangan lupa tinggalkan jejak dukungan dengan tekan favorit love❤️, rate bintang lima⭐⭐⭐⭐⭐, like👍, komen, vote, serpihan bunga mawar🌹 dan segelas kopi hangat☕. Salam persahabatan selalu~