Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Penyerangan para penikam


Kepada Raja yang selalu aku rindukan.


Musim semi telah berganti salju berkepanjangan. Kali ini aku seperti kehilangan mu dalam dekapan hangat nyaman semalam. Waktu dan takdir yang memisahkan kita, terlalu lama aku menunggu mu disini. Tidak ada masa yang terlupakan, sekalipun tabir cinta biru membuka cangkang ghaib di alam jin. Kita akan tetap bersama apapun yang terjadi. Seperti yang kau minta dan bisikkan untuk tidak meninggalkan mu. Jangan terlalu menemukan ku kembali. Risau dan kacau ku terlalu berlebihan menapaki bekas bayangmu.


...Banyak sekali cara dan pemisah kedua hati yang sudah melekat itu. Seolah kedua magnet yang sudah saling tertarik di paksa untuk berlawanan arah....


Bola-bola api dari udara terbang menghancurkan memasuki istana jati jajar. Serangan mendadak yang di tuju oleh pasukan Yaksa di pimpin oleh Futon dan Huson. Tidak ada perintah dari Raja Permadi atau keputusan yang mengizinkan kembali kedua kerajaan itu kembali berperang. Penyerangan secara diam-diam yang di lakukan di sekutui oleh ibu suri. Dia melakukan kubu dan membentuk kelompok untuk menghendaki segala tujuan menentang Raja.


“Wahai Raja yang berhati lemah, cukup sudah kau membuat ku marah. Pernikahan mu dengan putri Helena sudah terhitung beberapa hari lagi dan kau masih diam-diam bertemu putri terkutuk itu!” gumam ibu suri sambil meneguk teh teratai putih di ruang kebesaran.


Kelopak bunga teratai putih ramuan yang selama ini dia minum untuk membuat awet muda nyatanya juga lebih ampuh dengan campuran mantra kepala dayang muara hijau. Dia melengos lalu memperbaiki riasan di dekat cermin. Kemudian menggerakkan ujung jari memerintahkan dayang Cala membuang segala jejak agar setengah dari jin kepercayaan Raja Permadi tidak merasa curiga. Ibu suri juga membungkam para petinggi kerajaan dan mengancam setiap kasim untuk tidak membuka mulut atas gerakan yang di lancarkan pada hari ini. Pagi-pagi buta pasukan berkuda dan pengawal jin keluar dari istana. Ibu suri yang sudah meminta sihir untuk membuat Raja tidak sadarkan diri sampai matahari terbenam sudah berjalan lancar.


“Serang..!” jerit Futon mengangkat tombak Raksasa dengan menarik tali kuda yang dia tunggangi berlari memasuki pintu istana.


Dinding istana di bagian barat hancur, beberapa para anggota istana terkena hantaman membuat nyawa mereka melayang seketika. Jeritan dayang yang melihat gerombolan pasukan baju besi bersenjata membantai isi istana.


“Hiya..!” tusukan mendarat tepat di dada dayang pendamping putri.


Dayang yang sudah sekarat itu masih mempertahankan posisinya di depan pintu kamar putri mahkota. Huson membanting tubuh dayang itu lalu mendobrak paksa kamar putri. Tombak petir itu langsung menghantam tubuh putri. Akan tetapi Gangga yang sudah tiba menerobos langit-langit kamar dan langsung mencengkram tubuh putri Arska untuk menghindar. Bubuk mesiu bertebaran dan pertumpahan darah menghujani istana. Raja Jati jajar kini sedang melawan Futon sementara Ratu diasingkan dan di bawa oleh pengawal Raja menuju tempat persembunyian.


“Tugasmu adalah melindungi Ratu ku, sebelum aku kembali dan membawa putri Arska. Kau harus tetap menjaga Ratu Jati jajar” titah Raja pengawal Raja.


“Arghh..”


Kepala pengawal itu melayang ketika menuruni jurang untuk mencari tempat aman untuk Ratu. Pengawal Raja Permadi yang ikut membantu peperangan berhasil mengejar Ratu dan membunuh pengawal Raja Jati jajar.


“Tidak!” jerit Ratu tidak sanggup melihat kepala yang terputus dengan sepasang bola mata menatapnya.


Pedang lancip mengarah ke leher Ratu, dengan gelak tawa dan menjatuhkan mahkota yang berada di atas kepala sang Ratu.


Ratu berlari menjauh sampai dia terjatuh ke dasar jurang. Pengawal yang sudah berpikir Ratu itu sudah tiada bergerak meninggalkan hutan menuju alun-alun ibu suri.


Aroma anyir melekat di rongga hidung, asap dan hangus tubuh para jin yang gugur di medan perang sangat tajam membius kesengsaraan bercampur duka. Pasukan Yaksa yang terus menerus berdatangan menebas para prajurit jati jajar tanpa jeda. Putri Arska mengudara bersama Gangga memperhatikan di bawah sana suasana semakin tidak terkendali. Dia mengepal tangan dan merasakan detakan berbeda yang mengancam nyawa Raja dan Ratu jati jajar.


“Gangga, aku mempunyai firasat buruk utuk ayah dan ibunda, tolong lihatlah mereka sebentar saja” kata putri Arska lompat dari tubuh Gangga dan kembali membalas serangan Huson.


Gemuruh angin kencang, kilatan petir tombak Huson dan percikan pedang dari putri. Keduanya saling menyerang, Huson terus berupaya melumpuhkan putri dan mencari titik lemahnya. Penerus kerajaan jati jajar itu tampak semakin kuat setelah mendapatkan dari kekuatan cenayang Karang yang telah tiada. Di dalam pura muara hijau, Cenayang Han masih melakukan persemedian dan menghembuskan mantra untuk membantu putri. Lawan mantranya tidak lain adalah kepala cenayang pura ghaib, matahari yang condong ke arah tenggara dengan hembusan sihir yang di tegakkan oleh kepala cenayang membuat pandangan cenayang Han kabur di tutupi awan kegelapan.


Sementara para cenayang lain yang menyaksikan ritual kepala cenayang ikut duduk membantu saat mereka melihat darah yang keluar dari hidungnya.


“Cepat, kita harus membantu kepala cenayang dan melakukan garis lingkaran” ucap salah satu cenayang memasang aba-aba.


Kolam ghaib bergetar, air luluh lantak bagai lautan yang di goyangkan oleh bencana gempa bumi. Beberapa menit mata ghaib putri Arska menembus penglihatan akan kejadian alam di dunia jin. Dua lautan yang terbelah dengan ombak membanjiri daratan dan sebelah ombak berlautan api. Pikirannya menjadi tidak focus membuat pergelangan tangannya terkena percikan tombak api. Darah mengalir jatuh di atas tanah merah, bumi berguncang hebat dan hujan deras membawa kilatan petir dari atas langit.


“Apa yang sudah terjadi?” ucap cenayang Han menghentikan persemedian.


Kekuatan tambahan yang di dapat dari cenayang Karang seolah terputus akibat sihir dan mantra dorongan para anggota pura muara hijau.


“Semua ini akibat ulah ibu suri yang memaksa kepala cenayang untuk mengirim sihir ke Raja Permadi. Aku harus segera menghentikannya sebelum semua terlambat” gumam cenayang Han berlari terbata-bata ke aula pura.


Lingkaran garis berwarna hijau kemerahan berhawa sangat panas tidak bisa di jangkau dan di dekati oleh cenayang Han. Dia menjerit di balik suara keras kekuatan itu namun tidak di dengar oleh mereka.


...----------------...


Salam santun dan persahabatan selalu, terimakasih sudah mampir di lapak author dan tetap setia dengan sabar mendukung serta memahami segala kekurangan yang di dapati. Jangan lupa tekan favorit❤️ like👍🏻rate bintang 5⭐⭐⭐⭐⭐🌹kopi hangat☕ dan jejak komentar penyemangat🌹


Semua kisah terukir di bingkai dengan hiasan khusus dan kotak ajaib di negeri alam jin. Tunggu kelanjutan kisahnya, thank you very much…