
Mereka berhenti di lembah sungai jin, tubuh Gangga sedikit gerakan menurun. Sang putri turun dari tubuhnya, dia tidak sangat ingat akan kehadiran sosok hewan raksasa yang pernah mengisi harinya.
Putri mengusap kepala Gangga. Putri tersenyum memeluk bagian kepalanya.
“Gangga, aku sangat merindukan mu” ucap sang putri.
Air di lembah sungai jin kembali jernih memancarkan cahaya yang berkilau. Di salah satu bebatuan besar samar putri melihat sosok sedang duduk di atasnya. Dia di bungkus sinar berwarna hijau, ketika putri akan menyentuh sinar tersebut salah satu busur anak panah dari arah belakang hampir menembus tubuhnya. Raja Permadi langsung menarik tubuh putri menghindari serangan panah.
“Raja” gumam putri.
Raja mengepakkan sayap di udara, dia memeluk tubuh putri, sayu pandangan bersama wajah pucat. Tiba-tiba kepakan sayapnya melemah, sementara di sisi lain Nampak Gangga masih menghajar sosok jin pembawa panah. Amarah hewan pemarah itu tidak terkendali, dia sudah melepaskan salah satu anggota tubuhnya. Gangga menghentikan serangan kemudian terbang meraih raja dan putri, dia membawa mereka berdua naik di atas perbukitan dan menurunkannya.
“Uhuk, uhuk” raja mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
“Raja! Apa yang sudah terjadi pada mu? Kenapa engkau terluka seperti ini?”
“Tuan putri ku, bandu aku menyenderkan tubuh di salah satu pohon di ujung sana” ucap raja Permadi menekan bagian dadanya.
Persemedian di bungkus bantuan mantra dari pura muara hijau itu hilang karena bergerak menyelamatkan sang putri garis serangan busur anak panah.
“Aku tidak apa-apa, jangan tinggalkan aku” dekap sang raja sangat erat.
Luka di tubuh raja kembali terbuka, tapi dia tidak merasakan rasa sakit pada tubuhnya. Raja seolah tidka ingin melepaskan tubuh putri dengan membungkus tubuh tuan putri jin itu.
“Putri, aku adalah raja Permadi. Apakah engkau sudah mengingat dengan jelas? Lihat, kalung yang melingkar di leher mu itu. Itu adalah ikatan cinta biru kita di masa lalu dan akan datang” ucap sang raja
Keduanya saling melabuhkan diri, putri membalas pelukan raja Permadi hilang berlinang air matanya.
“Engkau sudah pulang, aku akan selalu menjaga mu” bisik raja sangat mesra. Dia membelai rambut putri yang berantakan dan tersenyum bahagia.
Mereka berjanji akan bertemu kembali, raja mengiringi kepakan sayap gangga yang membawa putri dari arah belakang. Setelah sang putri memasuki istana, raja kembali menuju wilayah Yaksa untuk mengambil alih kerajaan yang sempat kacau.
Tirai putih tanda berkabung, jubah kebesaran raja akan di terbangkan dari menara di hentikan melihat kehadiran raja Permadi. Seluruh jin berlutut menyambutnya.
“Wahai raja Permadi, kau telah tega membunuh paman mu sendiri!” teriak ibu suri memukul-mukul dadanya yang penuh luka.
“Nenek, aku tidak akan membunuh paman jika dia tidak ingin menghabisi ku terlebih dahulu” ucap raja.
“Kasim, bawa ibu suri beristirahat ke kamar kebesarannya. Proses pemakaman paman biar aku yang urus” ucap raja lagi.
Cuaca bersinar terik, proses pemakaman berjalan dengan lancar. Batu nisan itu seorang paman penguasa Yaksa yang tidak pernah menginginkan keponakannya untuk bahagia. Do’a di panjatkan berharap dia tenang di alam sana. Raja berusaha mengingat-ingat lagi kebaikan sang paman semasa hidup kepada dirinya.
“Paman, aku baru sadar akan kebencian mu terhadapku di mulai kita bertemu ribuan tahun lalu” gumam sang raja.