
“Aku tidak menyangka engkau akan menjadi sosok ayah yang kejam dan tidak berperasaan” ucap sang ratu melempar gelas ke sisi kanan sang raja.
Sudah dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka, hari ini baru kali ini sang raja mendapat amarah yang berkobar kuat dari sang ratu. Suara lemparan itu terdengar keras ke telinga para dayang dan kasim. Di depan pintu para penjaga memasang pendengaran akan suara dan amarah dari sang ratu.
“Jadi apakah engkau pantas di katakan sebagai seorang ayah?” teriak sang ratu.
Suara keras menggema di ruangan megah itu. Para pendamping jin di luar sangat terkejut bahkan sampai ada yang menjatuhkan kipas raksasa.
“Ratu ku tolong kecilkan suara mu. Ku mohon maafkan lah aku” ucap sang raja.
Sang ratu membanting benda kembali lalu keluar dari ruangan kebesaran dengan bantingan pintu yang keras. Dia menuju ke ruangan sang putri, kedatangannya di damping oleh dayang pendamping yang sudah menyiapkan obat luka dan satu mangkok yang berisi bubur hangat. Melihat ratu menuju ke arah ruangan sang putri, sang dayang pita hijau langsung berlari terbirit-birit memasuki ruangan.
“Gawat! Jika sang ratu mengetahui ada angsa di dalam pasti aku kena penggal!” gumam sang dayang pita hijau.
Dia mencari sang putri di setiap bilik ruangan, langkah terhenti melihat sang putri sedang mengenakan pakaian. Dayang pita hijau terkejut melihat luka yang berada di punggung sang putri.
“Pita hijau, jangan melihat!” ucap sang putri.
Putri bergegas mengganti pakaian, dia enggan menampakkan rasa sakit atau mengeluh atas cambukan pada tubuhnya. Dia tersenyum menyambut kedatangan sang ratu, wanita yang tampak penuh rasa khawatir itu langsung meminta kedua dayang pergi meninggalkan kamar kebesaran lalu menutup pintu dan tirai rapat-rapat.
“Kemari, biar ibunda obati luka mu” ucap sang ratu membuka resleting baju bagian belakang sang putri.
Putri sedikit meringis menahan perih, luka itu masih terus mengalir darah. Putri mengusap dan menutup dengan kain, lalu mengoles lukanya lagi dengan obat. Dia memberikan pil pengering luka yang harus di minum, setelah memastikan pil sudah terteland an bubur sudah habis di makan oleh sang putri. Ratu memastikan lagi putri memejamkan mata dan tidur dengan tenang. Para dayang dan seluruh penjaga hanya boleh menunggunya di luar ruangan kebesaran. Hanya dayang pita hijau yang di perbolehkan untuk mendampingi.
Di sisi lain di kerajaan Yaksa, raja mengutus pengawal penjaganya untuk memberikan ramuan khusus penyembuh luka. Dia tetap menunggu kabar mengenai sang putri sampai sang pengawal kembali. Tanpa memperdulikan iring-iringan kerajaan Kalingga yang telah sampai, sang raja tidak beranjak dari tempat duduknya.
“Raja, pangeran Darson dan putri Kayana sudah menunggu di Aula istana” ucap sang kasim.
“Katakan saja untuk menunggu ku beberapa jam lagi” ucap sang raja.
“Tapi yang mulia, wajah pangeran Darson menunjukkan rasa kekesalan. Hamba takut jika pangeran Darson membatalkan perjanjian berbalik meminta peperangan. Kerajaan itu sudah terkenal dengan kekejamannya” ucap sang kasim pendamping.
Pernyataan yang di lontarkan hanya bagai gertakan kecil jika pangeran Darson memang benar ingin berperang dengan Yaksa. Raja menggerakkan tangan mengusir, sang kasim pun berjalan mundur berpamitan meminta ijin untuk pergi.