
Sama saja menunggu penumbra bersama aurora yang di janjikan akan menghiasi ruang hati
Jalinan tidak mungkin bisa di raih dengan harapan dua hati
Pemisah, penghalang dan penghancur tanpa kenal lelah menuju mereka
Tidak habis tumpahan madu it uterus di berikan olehnya
Tapi keraguan dan kegelisahan tidak bisa di hindari hanya mempercayakan satu kata cinta
...💙💙💙...
Gemercik suara air mancur di dekat kolam keabadian, sambungan aliran ilmu putih yang mengarah pada lembah sungai jin. Terkadang para cenayang memanfaatkan tempat ternyaman di dekat kolam sebagai meditasi dan segelintir harapan mendapatkan kekuatan dari kolam ghaib keabadian di dunia jin.
Tidak ada yang berani mendekati atau menyentuh air keabadian atau mencuri dari kesempatan yang di dapat. Air yang terlihat tenang itu bergemuruh di dalamnya dan siap menelan dan menghabisi siapapun yang ingin mengambil air keabadian yang di larang bagi bangsa jin tersebut.
Pura muara hijau, ketika memasuki tempat tersebut penuh dengan kesan magic dan terasa ketenangan di sekitar tempat yang di penuhi dengan tumbuhan hijau menyejukkan mata. Pot-pot guci raksasa berjejer rapi di tumbuhi berbagai bunga-bunga indah dengan corak warna yang menawan. Kupu-kupu ghaib berterbangan dengan bentuk samar mengelilingi bunga-bunga disana. Ada salah satu kupu-kupu putih yang mendekati Raja Permadi namun gerakan kepakan sayap kembali lagi ke kerumunan kupu-kupu lain ketika raja Permadi menyebutkan putri Arska di dalam hati.
“Putri Arska, aku akan segera kembali setelah semua urusan ini selesai” gumam Raja Permadi.
Raja mengamati kertas mantra tersebut, Raja masih belum mengerti mengapa ibu suri menuju pura muara hijau sedangkan dia kemarin mendapat laporan dari pengawalnya bahwa sang nenek keliling ke berbagai tempat di wilayah jin menuju dukun atau jin yang memiliki ilmu sakti.
“Jadi apa yang sudah di alami oleh ibu suri sehingga beliau memutuskan untuk kesini?” tanya Raja Permadi.
Ketika cenayang Han berjalan melewati pilar, sang Raja memperhatikan wajah cenayang yang telah terlihat sangat akrab padanya. Raja memberikan salam kepada sang cenayang membuat sang cenayang menuju sang raja.
“Salam untuk raja yang agung, ijinkan hamba memberikan sekantung bibit bunga langka ini untuk baginda raja tanam di wilayah Yaksa.”
Cenayang Han meletakkan kantung bibit itu ke tangan Raja Permadi.
“Terimakasih atas kebaikan mu wahai cenayang Han” jawab sang Raja.
Setengah hati sang Raja memikirkan putri arska. Saat dia keluar dari pura dan terbang menuju wilayah Yaksa, dia berbalik menuju wilayah Jati Jajar untuk memastikan keadaan sang putri baik-baik saja.
...----------------...
Di kerajaan Gurun Pasir
Putri Helena memerintahkan dayang pendampingnya Rea untuk memanggil sosok jin yang mempunyai ilmu silat agar menghabisi putri arska. Dia di bayar dengan nilai yang sangat mahal oleh sang putri. Demi melampiaskan rasa dendam kepada sang putri Arska.
“Aku tidak akan membiarkan mu hidup!” gumam sang putri Helena melotot.
Utusan putri Helena menuju kerajaan Jati Jajar bergerak dengan sangat cepat, kini dia sedang berada di atas atap istana sambil menunggu malam tiba. Putri Arska masih tampak sibuk memanah di halaman belakang, sambil memikirkan perilaku dan tingkah Raja Permadi yang terus mengganggunya.