
Raja mengurungkan diri menjelma kembali ke wujud semula. Dia mengetahui gerakan pengawal pendamping sang putri melihat dia dari balik pepohonan.
“Putri, sebentar saja tutuplah jendela itu. Pengawal pendamping mu sudah bersiap membidik ku dengan busuk anak panahnya” ucap sang raja.
Putri beranjak secepatnya menutup jendela. Raja jin bersayap berubah ke asal. Dia langsung membungkus tubuh sang putri menggunakan sayap raksasanya.
“Putri, hari ini kerajaan kita sedang berperang. Namun ketahuilah sinyal bendera merah yang berkibar bukan atas perintah ku” bisik raja Permadi.
“Beberapa hari ini aku di kurung, bahkan Gangga di rantai besi. Sebaiknya hubungan kita berpisah sampai disini saja. Kita tidak akan bisa bersatu dan bahagia” kata sang putri.
Raja tetap memeluknya. Dia mengeluarkan sebuah peluit dari dalam kantung jubahnya. Benda itu di lingkarkan pada leher sang putri dengan tali berwarna hitam.
“Raja, aku seperti pernah memilikinya tapi__” ucapan putri Arska terhenti mendengar suara dobrakan pintu.
“Putri, aku akan selalu menunggu mu di lembah sungai jin. Jangan tinggalkan aku.”
Raja Permadi menjelma kembali menjadi wujud angsa putih. Ketika jendela terbuka, pengawal pendamping sang putri mengejarnya tanpa jeda membidik anak panah.
Dubrak. Pintu terbuka. Para pengawal istana mencari-cari sosok hewan jelmaan yang di sampaikan oleh dayang kepada kepala dayang istana.
“Apa yang kalian lakukan di kamar ku? Hentikan!” ucap sang putri.
Para pengawal dan dayang menunduk. Setelah selesai mencari mereka berlutut memberi hormat lalu meninggalkan sang putri. Tanpa pikir panjang, putri memakai jubah berlari membuka kandang Gangga. Sebelumnya dia sudah menebas anggota tubuh para penjaga agar bisa keluar dari istana.
“Celakalah! langit akan murka!” ucap penasehat istana melihat sikapnya.
Di sela pengejaran sosok angsa putih, raja masih belum menampakkan rupa sebenarnya. Dia tidak ingin nama baik putri Arska menjadi tercoreng jika rakyat Jati Jajar mengetahui raja jin bersayap itu masuk ke dalam kamar putri mahkota.
“Lepaskan!” teriak pengawal pendamping.
Putri berada di atas tubuh Gangga, mereka menurunkan pengawal pendamping ke tengah medan peperangan. Dia ikut membantu para prajurit untuk menyingkirkan penyerangan Yaksa.
“Mundur!”
Para pasukan yaksa meninggalkan lembah sungai jin. Suara tabu gendang, bunyi sofar, sorakan prajurit Jatii jajar. Kerajaan Jati jajar membawa kemenangan mengibarkan bendera di setiap wilayahnya.
“Kini kita harus mengambil setengah dari wilayah Yaksa” kata raja Jati Jajar.
“Menjawab yang mulia, peperangan ini berat sebelah. Raja Yaksa tidak ikut di dalamnya” jawab panglima perang.
“Diam! Dialah sumber masalah. Keputisannya meninggalkan peperangan sama hal merelakan Yaksa di ambil oleh penguasa lain!”
Raja melotot melihat pengawal penjaga putri Arska berlari terbirit-birit hingga tersungkur di depannya. Lututnya berdarah dan baju compang-camping sobek dimana-mana.
“Pengawal, siapa yang sudah melakukan ini pada mu?” tanya panglima perang.
“Seekor angsa putih yang aku kejar. Siang ini dia masuk ke dala kamar putri mahkota.”
“Raja! Kami mendapat laporan bahwa raja Permadi masuk ke istana Jati jajar. Hamba mendengarnya langsung dari kepala dayang” ucap pengawal raja.
“Cepat kalian kejar raja jin bersayap itu. Aku yakin sekali dia yang menjelma menjadi seekor angsa putih.”
Raja ikut mengejar pula, di atas perbukitan mereka melepaskan anak panah. Pengawal raja melompat menyerang di susul oleh raja dan panglima perang.