Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Menggapai jejak pelangi


Gelap dan terang engkau menghampiri tanpa ijin mendekap paksa sekalipun aku tidak menyukainya. Kemarin aku bermimpi kerajaan kita akan berperang kembali. Aku tidak bisa mundur atau melepaskan pedang melihat rakyat ku terbunuh oleh pasukan mu. Sekalipun engkau ada disana, kita terpaksa saling menyerang. Jangan meminta ku untuk mundur atau engkau dengan sengaja mengalah. Pertempuran ini sudah terjadi sejak dulu. Takdir yang tidak bisa berubah. Tembok penghalang semakin tinggi, aku takut kita semakin terluka berusaha melewati ujung yang penuh dengan duri. Wahai raja bersayap yang selalu aku rindukan. Suatu saat kita pasti akan berpisah. #Putri Arska


...💙💙💙...


Wajah yang satu menatap sang putri, letih terlihat di goresan tepi matanya. Putri memperhatikan wajah lelah sang dayang pendamping begitu pucat.


"Dayang, terimakasih engkau telah membantu ku. Jika engkau lelah beristirahat lah. Aku memberi waktu berlibur"


"Terimakasih atas kebaikan putri, hamba selalu ingin berada di sisi putri dan melayani putri. Sudikah tuan putri menerimanya?" tanya sang dayang.


"Alangkah bahagianya aku mempunyai dayang yang baik seperti mu" ujarnya.


Penampilan putri basah kuyup, sedangkan sang dayang pendamping ratu akan segera kembali lagi ke kamar kebesarannya. Setelah putri selesai berganti pakaian, sang dayang membantu putri mengeringkan rambutnya. Langkah dan suara ketukan terdengar di luar memasuki ruangan. Ada ratu Jati Jajar disana bersama dayang pendamping. Ratu melirik kepala putri yang tergulung dengan handuk.


"Ananda, cuaca di luar sedang hujan. Udara juga terlalu dingin, tidak biasanya engkau masih memakai pakaian mandi dengan rambut tergulung handuk" tanya Ratu mendekati.


"Wahai ibunda, Ananda hanya ingin membersihkan diri di hari ini" jawabnya.


Dayang pendamping menyodorkan air hangat ke arah putri. Sang putri menerima lalu meneguk sambil menatap raut wajah sang ibunda ratu. Sosok yang selalu mengkhawatirkan dirinya. Putri berpikir apakah dia akan di turunkan tidak lagi menjadi putri mahkota atau di usir dari kerajaan karena telah berkhianat. Kedekatannya dengan raja Permadi semakin hari seolah tidak terpisahkan. Penguasa Yaksa yang merelakan menundukkan kepala di depan rakyatnya dan menyelamatkan dirinya. Kini putri menjalani hari semakin sulit, kerumitan di satu sisi menyalahkan diri sendiri.


Setelah bercengkrama dengan ibunda ratu, keduanya memutuskan untuk beristirahat. Sebelum pergi dari ruangan, ratu mengecup dahi putri Arska lalu memeluknya.


...----------------...


Sore ini hujan masih belum juga reda, dari kejauhan terlihat rombongan merpati putih membawa sekuntum bunga tulip berwarna putih di jatuhkan ke pinggir jendela sang putri. Semula putri berpikir semua itu dari raja Permadi, dia tersenyum melihat bunga-bunga tulip putih berusaha menangkap salah satu merpati yang hingga.


"Raja.. engkau selalu saja menggoda mu!" gumam putri Arska.


Sampailah pada burung merpati terakhir. Terlihat sebuah gulungan surat, putri mengambil dan kaki burung merpati lalu membukanya.


"Wahai putri Arska, berilah kata maaf untuk ku. Kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya. Aku akan selalu meminta hati mu." _Pangeran Tranggala_


Putri merobek gulungan, mengumpulkan semua bunga itu kemudian memindahkan ke tangan sang dayang.


"Wahai putri, kenapa engkau tiba-tiba tidak menyukainya?" tanya sang dayang begitu heran.


"Buang saja semua ini. Aku tidak menginginkan nya"