Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sebab akibat


Kira-kira sepuluh langkah akan memasuki ruangan pura, seluruh pasukan menghentikan langkah lalu mengusap dan menggeliat merasakan badan mereka sangat gatal dan panas.


“Argghh….”


Hanya ibu suri dan dua sosok dayang yang bisa masuk ke dalam ruangan. Matanya yang merah begitu marah karena pasukannya mengalami hal yang aneh.


“Kepala cenayang apa yang sudah terjadi pada pasukan pengikut ku?”


“Selamat datang kembali wahai ibu suri yang agung, kenapa terburu-buru sekali. Kami sudah menyiapkan kursi untuk anda” kata kepala dayang tersenyum. Dia enggan duduk dan tetap berdiri dengan menahan amarahnya.


“Cepat jawab saja pertanyaan ku dan sembuhkan seluruh pasukan ku!”


“Bukankah penjaga pura sudah mengatakan syarat memasuki pura muara hijau? Kenapa mereka melanggarnya?” tanya kepala dayang melirik.


“Pasukan ku? Semua gerakan mereka atas perintahku, penjaga mu tidak mengijinkan kami masuk. Apakah itu cara mu memperlakukan nenek dari penguasa Yaksa?”


“Kalau begitu mereka harus di siram dengan air yang sangat dingin dan kembali lagi ke Yaksa tanpa membawa senjata”


“Apakah kau sedang menguji kesabaran ku? Bagaimana kami menghadapi para perompak jin di jalan dengan tangan kosong?”


Kepala cenayang menjelas akan cara kerja dan bagian-bagian penting yang harus dia ingat. Tiga lembar kertas sudah sampai di atas telapak tangan ibu suri. Dia tersenyum tapi tiba-tiba mengerutkan dahi.


“Tunggu, maksud mu aku harus mengubur salah satu kertas mantra ini di depan istana Yaksa? Itu adalah hal tersulit dengan banyaknya jin penjaga. Terlebih lagi pengawal pendamping Raja seperti memiliki sepuluh pasang mata”


“Batas kemampuan kami untuk mencegah agar ibu suri tidak terbunuh itu tidaklah mudah, apalagi kami harus berurusan dengan iblis mengerikan yang mengganggu hidup ibu suri” kata Han mendekati keduanya.


Setelah pasukan ibu suri di mandikan oleh air salju dan melepaskan semua senjatanya. Mereka pulang dengan gerakan kaki dan tubuh yang menggigil kedinginan. Sepanjang jalan hati ibu suri was-was karena melihat fisik dan keadaan pasukan semakin melemah. Sebelum memasuki perbatasan dia meminta salah satu dayang melayangkan sinyal pertolongan di udara. Berselang beberapa menit setengah pasukan meninggal dengan tubuh kaku dan bola mata berwarna putih.


“Arggh, arghh..” jeritan mereka melihat jasad-jasad jin tersebut.


Di atas menara benteng kerajaan Yaksa, panglima perang melihat sinyal di udara. Dia langsung pergi bersama pasukan kuda jin menuju arah yang di tuju. Sementara itu para jasad pasukan di biarkan oleh ibu suri, dia tidak berniat menguburkan jasad itu dan meminta kereta kuda tetap melaju. Sungguh sosok jin yang tidak memiliki hati nurani, tidak ada yang bisa menentang perintahkan dan berjalan sambil melihat jasad-jasad yang dengan cepat di dihinggapi burung-burung gagak.


“Semoga arwah kalian tenang” bisik para pasukan yang tersisa.


Kereta ibu suri terguling karena sebuah batu besar menghantam dari samping. Kepala ibu suri terbentur dan dia tidak sadarkan diri. Dia di serang oleh jin perompak perbatasan, seluruh perak dan emasnya di curi. Para pasukan di serang dengan tubuh lemah akhirnya nyawa mereka melayang. Beberapa saat berlalu panglima perang melihat kereta ibu suri yang terguling di dalam kereta masih ada perompak yang akan menggeledahnya.