Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sayap besar jin yang hangat


Flash on


Dan kini dia kembali, tepat di hadapan dan waktu yang berbeda. Walau bagaimanapun, Arska tetaplah milik Raja Permadi dan Maharani yang tergores di wajah sang putri mengingatkan Astro pada cinta yang sudah dia kubur bersama hatinya di dalam tanah. Astro sudah berjanji untuk tidak mencintai wanita lain lagi selain Maharani di kehidupan manusia.


Tapi dia tidak bisa menepis debaran jantung yang seolah telah hidup kembali setelah bertemu dengan putri jati jajar. Tanpa sadar Astro mengepakkan sayap dan mengudara menuju wilayah jati jajar, di luar benteng raksasa yang di penuhi duri menjulang tinggi. Dia merubah wujud kembali menjadi angsa putih dan terbang menyelinap memasuki pembatas istana. Pergerakan sayapnya sendiri yang terus mengepak menuju bilik kamar putri mahkota.


“Apa yang sudah aku lakukan? Kamar siapa ini?” gumam Astro mengepak sayap di dekat jendela.


Putri yang sangat terkejut dan mencari-cari arah pandangan seekor angsa yang mendekati jendelanya.


“Kamu?” ucap putri mendekat.


Cenayang Han yang ikut menoleh dan melihat sosok lain di dalam tubuh seekor angsa tersebut.


“Raja, kau jangan sampai terlihat kembali oleh para prajurit. Bukan kah kau pernah terkena anak panah di saat itu?” ucap cenayang memperhatikan ke luar istana.


Putri Arska langsung mengambil tindakan dengan meminta angsa itu mengikutinya. Dia menuju ke arah belakang istana dan memanggil Gangga.


“Terimakasih cenayang Han, aku akan segera kembali.”


Akan tetapi salah satu sosok prajurit melihat angsa putih melintas keluar dari perbatasan kerjaan. Dia langsung membidik dengan anak panah. Melihat Raja sedang terancam, cenayang Han mengeluarkan sihir dengan menghembuskan anak panah beralih menuju kaki sang prajurit dan memberi sihir tidur. Dia menggeret nya menuju pohon besar dan menutupi dengan semak dan dedaunan raksasa.


Sementara Raja permadi sudah mendarat di atas tanah merah lembah sungai jin. Astro seperti sedang mengikuti arah gerakan tubuh Raja Permadi asli yang sedang dia tempati untuk menjelma menjadi seekor angsa dan menuju sang putri. Suasana lembah sungai jin begitu gelap dan mencekam. Hawa dingin melebur, terdengar suara lengkingan tawa dan tangis para arwah gentayang yang telah gugur di medan perang.


Air sungai dan tanah yang menjadi saksi selama berabad-abad lamanya akan pertempuran dua kerajaan yang tidak pernah usai. Sesekali suara desis ular piton melata melewati arah jalan Raja yang sedang berjalan. Sosok ular siluman yang sudah jinak itu seolah masih mengingat kejadian beberapa sisiknya yang telah di ambil paksa demi kesembuhan raja jati jajar. Dia sudah berdamai dengan keduanya namun masih mencari celah dan titik lemah untuk mendapatkan kekuatan ghaib dari mata jin istimewa yang di miliki putri Arska.


"Putri, apakah kau tidak takut? Ada banyak sekali gangguan disini. Aku ingin sekali secara langsung datang di hadapan raja dan ratu jati jajar untuk meminang mu. Memasuki gerbang depan kerajaan tanpa harus bersembunyi untuk bertemu dengan mu” ucap Raja meraih pergelangan tangannya.


“Sekarang kau utarakan saja kehendak mu, setelah itu, hari esok datang dan berilah kabar perdamaian kepada kerjaan jati jajar” ucapnya menarik tangan dan menuju Gangga.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Raja jin bersayap itu langsung mendekap erat tubuh mungil putri jati jajar. Sangat erat sampai sang putri sangat sulit untuk bernafas. Seluruh sayap raksasanya membungkus tubuh putri. Gangga yang mencari rongga untuk mendapatkan sang majikan seolah sudah terkalahkan oleh gerakan cepat Raja Permadi. Dengan sangat lembut dia meminta peliharaan sang putri untuk menjauh dari mereka.


“Gangga, aku berjanji tidak akan menyakiti majikan mu, ijinkan aku sebentar saja__” ucap Raja Permadi menghentikan perkataannya.