Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kehadiran raja jin bersayap


Karena kabut pekat malam serta rembulan yang tersembunyi, membuat pandangan raja dan ratu tidak begitu jelas melihat. Di depan gerbang sana, raja Permadi menurun kan sang putri di bantu oleh sang pengawal pendamping.


“Terimakasih raja Yaksa” ucap sang pengawal sambil memberi hormat.


Di dalam istana, putri di baringkan di atas kasur dengan selimut tebal setelah di periksa oleh tabib istana. Ratu menyeka wajahnya dengan handuk kecil yang di basahi dengan air hangat. Dia menggelengkan kepala, setelah mengurusnya sang ratu kembali menuju kamar kebesarannya.


“Ratu ku, putri kita telah berhasil mendapatkan cap resmi telaga hitam dan menyegel telaga mistis itu. Bagaimana keadaannya sekarang?” ucap sang raja.


“Anak kita begitu kuat, dia telah melewati hal sulit ini. Raja, jangan terlalu keras dengannya. Hamba tidak mau putri menderita. ”


“Ratu, putri akan menjadi pemimpin negeri ini. Dia harus menjadi pemimpin yang kuat, adil dan bijaksana.”


...----------------...


Di waktu fajar, cahaya mentari lebih terang dan embun pagi lebih sejuk terasa di udara. Karpet merah di gelar, hidangan makanan dan minuman memenuhi meja raksasa yang di sediakan untuk peresmian tentara dan rakyat baru Jati jajar. Keadaan langkah ini hanya di temukan di temukan di kerajaan Jati jajar. Para tentara musuh yang gugur berperang itu tidak di tempatkan di penjara bawah tanah atau di hukum mati karena takut akan menjadi pemberontak di kemudian hari. Raja jati jajar justru memuliakan dan menyambut hangat mereka, setelah perdebatan panjang dengan para punggawa dan perdana menteri. Semua itu demi menuruti keinginan putrinya, hari ini para rakyat dan tentara itu berbaris rapi di halaman istana dan memberi hormat kepadanya.


“Hidup raja Jati jajar!”


“Hidup”


“Sejahtera lah Jati jajar!”


“Jangan sampai kita lengah sedikitpun” ucap perdana menteri perhubungan.


Putri Arska tersenyum melihat sang ratu, di singgahsana mereka tampak asik menikmati pertunjukan yang di gelar. Di sela iringan musik yang keras, suara lain terdengar bersahutan di udara. Sinyal shofar sebanyak tiga kali menandakan sesuatu yang akan datang. Panglima perang berlari menghadap sang raja, dia membungkukkan tubuh dan memberitahu hal yang membuat raja tampak marah.


“Hormat yang mulia, raja Yaksa hadir di depan gerbang istana beserta pasukannya.”


“Apa, apakah dia akan menyatakan perang di hari besar ini?” ucap sang raja.


“Menjawab yang mulia, raja Peermadi datang dengan menegenakan baju zirah atau perlengkapan perang. Sepertinya raja Yaksa ingin menyampaikan sesuatu terhadap yang Mulia” jawab sang panglima.


“Suruh mereka pergi dan katakana jangan berani lagi menginjak wilayah Jati jajar!”


“Jangan yang mulia, kedatangan raja Yaksa bisa saja mengabarkan hal baik” ucap sang ratu.


Raja berusaha menahan amarah, dia selalu mendengar segala permintaan sang ratu. Sesaat perintah raja jati jajar untuk mengizinkan kedatangan Yaksa. Seluruh jin yang berkumpul di halaman istana menghentikan aktivitasnya melihat kehadiran mereka.


“Ra_ra_raja jin bersayap raksasa!” seru salah satu punggawa tanpa sengaja gelas batu yang berada di tangannya itu terlepas.


“Musuh bebuyutan Jati jajar. Kita harus bersiap-siap berperang” ucap menteri keamanan.