
"Daging apa ini?" tanya raja Permadi.
"Ini adalah daging ayam yang di rebus lalu di bumbui" ucap Maharani.
"Jahat sekali!" teriakan raja keras mengagetkan sekeliling orang yang sedang menikmati makanan.
"Raja, tolong pelan kan suara mu!" bisik Maharani mencubit telinganya.
"Putri, kenapa engkau semakin tega dengan ku"
"Apakah engkau tidak suka makanan ini? dan satu hal yang perlu engkau tau. Nama ku adalah Maharani"
Raja menggelengkan kepalanya, dia menunjuk ke daging itu lalu mendorong lebih dekat dengannya. "Apakah engkau lupa bahwa aku sosok bersayap? aku tidak mungkin makan hewan yang memiliki sayap sekalipun itu ayam yang engkau maksud"
Mendengar perkataan raja, Maharani tertawa dengan sabar mengambil potongan-potongan daging ayam yang ada di dalam mangkuk raja. Sampai bersih dan yang tersisa hanyalah mie saja. Maharani memasukkan sedikit mie ke dalam mulut raja dengan sumpitnya.
Raja membuka mulutnya, mengunyah makanan yang Maharani berikan lalu tersenyum.
"Terimakasih.."
"Jangan bangga dulu, aku mau melakukan ini karena tangan kanan mu terluka" kata Maharani meraih mangkuk dan melahap makanannya.
"Aku mendengar, aku akan sabar menunggu engkau menyuap sampai habis" Raja memperhatikan wajah yang selalu dia rindukan.
Setelah Maharani menghabiskan makanan, dia kembali menyuapi raja. Mereka sengaja mengambil posisi duduk di urutan belakang agar tidak menjadi perhatian orang. Setelah selesai, raja dengan santai meraih minuman yang ada di gelas lalu meneguk menggunakan tangan kanannya.
"Bukankah tangan mu sedang sakit? jika aku mengetahui engkau tidak merasakan apapun. Seharusnya engkau makan sendiri" ucap Maharani melirik.
...----------------...
Hari telah petang, kedua orang tua Maharani belum pulang juga. Dia melirik jam dinding, lalu menanyakan kepada pekerja rumahnya.
"Mbok, tadi ibu dan ayah katanya pergi kemana?" tanya Maharani duduk di kursi dapur.
"Tuan dan nyonya sedang menghadiri acara penting di kota seberang non. Sepertinya tidak pulang malam ini. Apakah non butuh sesuatu?"
"Tidak mbok terimakasih.."
Maharani menuju kamar, dia menutup seluruh tubuh dengan selimut lalu meraih ponsel. Di dalam sana banyak album dan foto Astro. Dia tersenyum sendiri mengusap layar.
"Sayang, aku masih disini. Hati ku tidak akan pernah berubah" ucapnya sampai tertidur dengan layar ponsel menyala.
Angin kencang membanting membuka jendela kamar Maharani. Tampak dia tidak mendengar suara bantingan, terlelap di balik selimutnya yang hangat.
Asap hitam masuk ke kamar, suara aungan serigala mengiringi kedatangan sihir suku Taraya. Maharani tidak memakai kalung permata hijau seperti putri Arska. Di kehidupan ini, bagian penting itu lenyap menjadi misteri dan tanda tanya di dua alam yang berbeda.
"Putri Arska.." suara aneh membangunkannya.
"Putri, kau harus mati!" gema suara di sekitar ruangan.
Tok, tok, tok
(Suara ketukan pintu)
"Non, si mbok dengar suara berisik dari kamar. Apakah non baik-baik saja?" mbok Lastri membuka pintu kamar Maharani.
Dia berteriak melihat sosok mengerikan di depan Maharani seolah akan menyerang. Si mbok berlari membentangkan tangan ke depan tubuh Maharani saat makhluk yang di hadapan menyemburkan bisa ular racun mematikan.
"Arghh, mbok!" teriak Maharani histeris.
Wajah si mbok berubah menghitam menempuh mengeluarkan asap serta matanya biji bola matanya keluar.
Sosok makhluk itu lalu menghilang, ramai para tetangga berdatangan menuju rumahnya.