Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Salin Waktu


Lembaran kepiluan dalam hentakan pilu:


Bukan hanya di dunia manusia, di dunia jin telah nyata kejahatan lebih kuat dan besar menghantam jiwa. Kebencian, amarah dan dendam, hanya setitik tinta hitam saja bisa merebah menggenangi air yang putih. Perlawanan saling merebut tahta hingga mengorbankan sosok-sosok terdekat sekalipun.


~Kebencian ibu suri kepada kerajaan Jati jajar sudah mendarah daging tanpa ingin memaafkan dan berdamai


~Amarah dan kecemburuan putri Helena kepada putri Arska menjadikan dirinya memiliki kekuatan sihir Taraya yang tanpa kenal waktu ingin membunuh sang putri.


~Sosok putri jin yang selalu menjadi pusat tumpu penyerangan ilmu sihir atau nyata, dia tetap berusaha untuk hidup dan kuat di dalam takdir cahaya rembulan dan gelapnya malam. Tapi, akan kah putri Arska akan selamat dari sihir Taraya?


~Raja Permadi penerus penguasa terakhir di kerajaan Yaksa. Dia mengubah tatanan pergerakan sehingga takdir kerajaan nya dengan kerajaan Jati jajar yang tidak bisa terlepas dari peperangan kini luluh lantak di ganti oleh ibu suri pemimpin perang secara sembunyi-sembunyi.


...----------------...


...Kepada putri Arska...


...Sudah ku pastikan akan selalu menunggu mu...


...Hari ku terasa sepi tanpa mengerlingkan mata ke arah mu...


...Kekasih yang selalu ku rindukan...


...Telah tampak nyata hati ku benar-benar menginginkan mu...


...Keterlaluan selalu mengkhawatirkan engkau wahai putri Jati jajar...


...Ku mencari mu...


...💙💙💙...


“Raja! Anak itu!” ucap ibu suri memperhatikan dari kejauhan.


Gangga hewan pemarah menggunakan paruh untuk menyerang sang prajurit karena ujung sayap nya terkena anak panah. Raja Permadi berusaha menenangkan dan menjinakkan hewan tersebut. Dia memerintahkan seluruh pasukan untuk menghindar dan menghentikan penyerangan.


“Gangga tenanglah ini aku Raja Permadi” ucap Raja mencari cara agar bisa menyentuh kepalanya.


Raja mengingat kalung pemanggil Gangga yang pernah di berikan oleh putri Arska di masa lalu. Setelah Raja menunjukkan kalung itu, Gangga langsung mengikuti Raja mendarat di halaman istana.


“Raja, apa engkau di sebut Raja yang bijaksana mengijinkan musuh masuk di wilayah kita?” tanya ibu suri melotot.


Tatapan mengerikan ibu suri melebihi wajah sangar Gangga. Gerakan kepala Gangga mendekati sang ibu suri membuat di menghentikan perkataan lalu pergi berlalu.


“Gangga kenapa engkau sampai kesini? Dimana putri Arska?” tanya Raja Permadi.


Gangga terbang menuju salah satu bangunan istana lalu kakinya mencakar-cakar tanah. Paruh Gangga mematuk tanah seakan ingin memberitahu sesuatu kepada Raja Permadi.


“Apa yang ada di dalam sana? Apakah putri Arska ada disana?” gumam Raja Permadi.


Hari mulai gelap, hati Raja semakin tidak tenang mencari-cari dimana sang putri, Dia mengutus prajurit rahasia dan meminta panglima perang mencari sang putri di dalam istana Yaksa.


“Kasim Jou apakah sudah ada kabar di dalam kerajaan?” ucap Raja.


“Menjawab Raja yang agung, seluruh pasukan sampai saat ini menggeledah kerajaan” ucap sang kasim.


Cuaca yang ekstrim di malam mini tidak mengurungkan niat sang raja untuk tetap mencari putri Arska.