
Ada banyak kejanggalan dan kejadian ganjil yang tidak bisa di ungkapkan dalam tabir misteri. Suka dan duka hanya di kemelut hempasan waktu dalam tabir misteri, kerisauan hanya bagian pengacau atau penenang jiwa. Jalan terjal begitu banyak bersama anak panah yang ingin menghunus dan membunuh secara sadis. Sepasang jin yang saling terikat masih tetap menjalin ikatan cinta biru.
...Kita sudah terbiasa bersama, merajut kain tenun cinta di dalam butiran embun pagi dan pekat malam. Sayap mu telah membungkus sempurna seluruh tubuhku di dalam dekapan nyaman. Tanpa terasa hatiku benar-benar sudah kau miliki....
Sekuat tenaga putri Arska melepaskan pedang yang mengarah di tubuh Raja. Dia menangis dan memejamkan mata, tangannya kaku di gerakkan oleh roh jahat dengan bantuan sihir taraya.
“Raja..!” teriaknya meminta agar segera bangun.
Sedikit lagi pedang itu menembus tubuhnya, jika Raja tidak cepat membuka mata dan menghindar. Sihir taraya masih tidak berhenti berhembus menggerakkan tubuh putri, kini pedang itu menuju leher putri lalu menggores paksa.
Raja menggenggam erat tangan putri dan berusaha melepaskan pedang. Tangannya menarik pedang tajam tanpa memperdulikan kulitnya sudah tergores dan mengeluarkan banyak darah. Setelah berhasil melepaskan pedang itu, Raja langsung melepaskan simpul ikat kepala dan melilitkan pada leher putri yang terluka.
“Raja, tangan mu juga terluka parah” putri meraih pergelangan tangan Raja Permadi dan menahan darah yang terus mengalir dengan gaunnya.
Pemimpin kerajaan Yaksa itu memeluk putri, dia membisikkan kata-kata penenggelaman hati jatuh ke dasar rasa menyesakkan dada.
"Putri, aku tidak perduli atas luka ini. Aku sangat merindukanmu wahai putriku" ucap Raja lebih erat memeluk tubuh mungil itu.
"Raja lepaskanlah, jika ada prajurit yang mengetahui maka kita akan mendapatkan masalah" putri meronta dan bergerak ingin menjauh.
"A, apa yang sudah kau lakukan?" putri memegang dahinya sendiri dan menatap tajam Raja Permadi.
Burung gagak yang dari tadi merekam segala yang dia lihat langsung terbang menuju ke arah kepala suku Taraya dan mengabarkan semua informasi yang dia ketahui. Hal yang memicu rencana baru suku Taraya untuk beralih menyerang putri Arska dan menjadikan tawanan di hari esok agar Raja Permadi mau menuruti semua perintah mereka.
"Rotasi dan putaran lembah sungai jin akan berubah dan menjadi bumerang bagi bangsa jin. Kita harus segera menghentikan mereka!" sentak suara kepala suku Taraya menggelar.
Kiriman sihir dari udara masih terus menyerang putri Arska. Dia terkulai lemas ketika merasakan hawa panas yang menusuk pundaknya.
"Putri..!" Raja Permadi memeluk erat lalu membawa Putri menuju pura hijau.
Gangga mengikuti dari belakang, hewan pemarah itu terus membidik pandangan tajam melihat Raja dan terbang semakin mendekat keduanya. Sesampainya disana, Raja di usir paksa oleh kepala Cenayang pura. Dua kerajaan dan takdir yang tidak bisa bersama akan membangkitkan gempa di wilayah garis pura jika keduanya sampai memasuki tempat tersebut.
"Dengan terpaksa aku harus mengeluarkan mu wahai Raja yang agung" ucap kepala suku cenayang mendorong tubuh Raja.
Raja yang tampak panik dan khawatir tetap menunggu kabar putri dari luar pura. Kerajaan terbengkalai begitu saja. Putri di baringkan di dekat kolam Ghaib.