
Dimana ada musim semi dapat di temui? Negeri jin kini terlalu banyak angin. Di hari lelah memalingkan wajah mendaki perapian, amarah mengapung memperlihatkan kesengajaan. Raja Permadi menarik kembali tahta yang hampir di lengserkan.
Peperangan antara Raja Permadi dan Huson semakin sengit, mereka saling mengeluarkan tenaga dalam. Detik-detik pertempuran di habiskan menahan tekanan amarah raja. Dia menjatuhkan pedang ke tanah berbalik arah mimbar. Huson meraih pedang hendak menusuk raja, sedikit lagi punggung raja terkena pedang miliknya. Dari arah gerbang suara putri Arska berteriak memanggil.
“Raja, Raja!” teriak putri Arska.
DIa berlari menuju sang raja, pedang Huson berhasil di tepis raja Permadi namun dia melepaskan belati ke tubuh putri. Benda tajam itu tepat mengenai perut putri Arska. Raja membentangkan sayap membanting Huson.
“Argh…” Huson mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
Amarah sang raja belum puas sampai disitu. Dia menebas tangan Huson hingga menampakkan tulang tangan. Ibu suri menjerit berlari menghampirinya, raja tetap melakukan penyerangan mengangkatnya terbang setinggi mungkin lalu menjatuhkannya ke tanah.
Brughh.
Suara tulang retak tulang-tulang Huson sampai menghembuskan nafas terakhir.
Raja menuju putri Arska, mengangkat tubuh sang putri menuju pura hijau. Darah dari perut sang putri bercucuran, raja memeluk kuat tubuh sang putri. Dia mempercepat kepakan sayap terbang secepat angin di atas awan.
Pepohonan pembatas yang menutupi pura bergerak memberi jalan saat Raja memasuki wilayah. Dia berjalan di depan benteng meletakkan tubuh putri.
Seketika pintu benteng pura terbuka, para cenayang berkerumun mengangkat tubuhnya. Hari telah petang, raja menunggu kabar dari sang putri di latar pura dengan menekuk kedua kakinya. Aroma anyir darah putri masih membekas di tubuhnya. Raja menahan rintik air hujan yang sudah meluap hampir tumpah di pipi. Berkali-kali, penguasa Yaksa dapat mengeluarkan air mata hanya untuk putri jati jajar seorang. Dia adalah raja jin bersayap terkuat tapi hatinya jika terjadi sesuatu terhadap sang putri.
“Apakah semuanya sia-sia?” gumam cenayang Han.
Melihat wajah sang putri pucat, bibir mengerut dan lingkar mata menghitam. Dia seolah terbujur kaku namun masih bernafas lemah menutup mata. Cenayang Han mengeluarkan kekuatan dari Karang, mantra ghaib hijau masuk ke dalam tubuh sang putri namun tidak bereaksi apapun.
Dari dalam pura, kepala cenayang memperhatikan raja Permadi yang begitu menderita. Dia berjalan menemuinya sambil menarik nafas. “Wahai raja jin Yaksa, tidak sepantasnya engkau berlutut di depan pura di tengah hujan deras seperti ini. Engkau adalah penguasa yang begitu di hormati dan di takuti.”
“Semua itu tidak berarti tanpa ratu di sampingku” ucap raja Permadi.
“Tidak ada harapan, dia akan menghembuskan nafas terkahir saat fajar menyingsing.”
Ketika kepala cenayang melangkah meninggalkannya, sang raja berdiri di hadapan sang kepala pura lalu berlutut kembali.
“Aku tau bahwa putri Arska mempunyai ikatan yang kuat dengan pura muara hijau. Tolong beritahu aku cara agar bisa menyelamatkan putri. Apapun tantangannya tidak akan menyurutkan keinginanku.”
“Raja, kau harus mencari setangkai bunga putik panjang berisi berserbuk sari pembangkit ruh. Dia berada di dasar tanah jin dan di jaga oleh pohon siluman ruh. Tapi ingat, waktu mu hanya sebentar” ucap kepala pura.
Rembulan meredupkan cahaya agar bisa bersama Matahari, kini kedua sinar itu bertemu namun salah jarak dan waktu kematian akan memisahkan. Bumi menangis menjadi saksi perpisahan yang menyedihkan melukai hati terdalam. Tanah ibu bumi membutuhkan kedua sinar dan menjadi sebuah dunia tanda cinta biru keduanya.