Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Pembatas liku dunia jin


Raja mengikat pita biru milik puti Arska di pergelangan tangan kanannya. Hati raja jin bersayap itu terlalu rapuh untuk memikirkan segala kerisauan terhadap putri Arska.


“Raja, hamba ingin memberitahu rencana pangeran Tranggala. Mala mini dia kembali menuju lorong dan ruang istana kerajaan untuk mencari sesuatu” ucap pengawal pendampingnya.


“Jangan pernah lepaskan dia dalam hal apapun. Jika dia berani menyentuh putri Jajar, maka nyalakan sinyal meriam di udara” kata Raja Permadi.


“Perintah di laksanakan yang mulia.”


...----------------...


“Arghh” teriak ibu suri terbangun dari tidurnya.


Rambut acak-acakan, selimut dan benda di sekitar berantakan. Dayang pendampingnya berusaha menenagkannya, kini dia bisa tertidur kembali setelah meminum obat tidur yang harus dia konsumsi di malam hari. Meskipun setlah meminum obat itu sang ibu suri dapat terlelap, di alam mimpinya masih di hantui sosok hantu cenayang Karang.


“Semua salah ku!” gumam ibu suri berada di alam mimpi.


Dia berdiri di wilayah mutilasi bagian anggota tubuh jin Karang, kejadian it uterus berulang kali. Sejak pembunuhan sang dayang berilmu tinggi.


“Ibu suri, kembalikan tubuh ku seperti semula. Tebus semua kesalah mu di depan rakyat mu” gema suara arwah Cenayang Karang.


“Argghh” ibu suri mengeluarkan air mata di dalam tidurnya.


Segala perbuatan dan kesalahan begitu besar membuah dia tersiksa. Dayang pendamping menyeka air matanya dengan sapu tangan sambil mengerutkan dahi.


“Apa ibu suri mengalami mimpi buruk lagi?” tanya Raja Permadi.


“Ya raja, beliau tampaknya mengkonsumsi obat tidur secara berlebihan” ucap Kasim.


“Aku akan pergi ke pura hijau beberapa hari ini. Engkau harus mengirimkan sinyal jika terjadi sesuatu di kerajaan” perintah sang raja.


Raja mencari kebenaran yang terjadi, dia melakukan perjalanan panjang menuju pura. Biasanya untuk mencapai tempat tersebut hanya melewati lemah sungai jin, hujan dan beberapa perbukitan saja. Tapi salju yang tidak kunjung berhenti membuat perjalanan menjadi semakin lama dan membutuhkan lebih banyak tenaga.


“Kenapa pura tidak terlihat sama sekali?” gumam raja di tengah angin kencang.


Pura muara hijau tertutup tumpukann salju, selain itu kepala cenayang sedang melakukan acara spiritual dengann menyegel pura agar tidak satupun jin bisa melihat dari luar sana. Sayap raja Permadi semakin membeku, dia sudah sangat kedinginan dan semakin sulit untuk mengepak. Raja terjatuh dari ketinggian, ke dalam hujan terlarang. Putri Arska terbangun dari tidur, mengetahui hal buruk yang terjadi dengan sang raja Yaksa.


“Ada apa putri?” tanya dayang pendampingnya.


“Pita hijau, aku bermimpi buruk mengenai raja Yaksa” ucap sang putri.


“Sayap raja Yaksa itu? Apakah dia memiliki sayap yang besar sampai terseret saat menapakkan kaki?” tanya sang dayang.


“Kau melihatnya?”


“Ya putri, dia yang membawa putri masuk lewat jendela istana. Untung saja badai salju yang lebat menutupi para penjaga” jawab sang dayang.


Putri meraih jubahnya lalu memakai alas kaki segera berlari menuju kandang Gangga.


“Bagaimana keadaan sahabatku? Aku tertidur sangat pulas seolah mengabaikannya” gumam sang putri.


Nafasnya terengah-engah berhentii di depan kandang Gangga, sempat hatinya sangat cemas karena terakhir kalinya meliat kondisinya yang sangat sekarat. Sekarang, dia melihat hewan gagah itu membuka mata sambil menegakkan paru menatap tajam sang putri.


“Sahabatku, kau sudah pulih” ucap putri tersenyum memeluknya.


Pangeran Tranggala mengetahui putri berada di dalam kandang Gangga, dia enggan menampakkan diri di depan hewan pemarah itu.


“Lihat saja, perlahan hewan itu akan aku lenyapkan” gumam sang pangeran.


Di Aula istana


“Raja, rencana peperangan dengan bahan makanan dan peralatan perang yang belum memadai membuat kerajaan kita akan mengalami krisis. Rakyat akan menderita, di samping itu salju yang lebat berkepanjangan membuat kita sulita untuk melakukan panen di daerah penanaman” ucap penasehat istana.


Menteri perairan berdiri selangkah di depan mimbar,s etelah membungkukkan badan dia menyampaikan keluhannya.


“Raja, air di perbatasan sudah membeku. Kita akan sulit mendapatkan air karena musim dingin yang baru terjadi di negeri jin ini merupakan momen yang langka.”


“Mohon kebijaksanaan raja” ucap mereka serentak.


“Segala kesulitan ini pasti bisa atasi, kita tetap menyiapkan peperangan dan menyusun strategi perang walau bahan makanan dan senjata masih memberatkan. Aku akan menjual beberapa bidang tanah di bagian selatan untuk menjadi modal pembuatan senjata, baju jirah, makanan rakyat Jati jajar dan mengadakan pemilihan pasukan baru. Dan mengenai masalah air yang membeku, aku rasa menteri perairan lebih sigap menyikapi sebagai pemegang kuasa. Tidakkah air beku itu bis amemelh kembali dengan percikan api untuk membuat kita tetap hidup?” ucap sang raja.


Menteri perairan pun menunduk. ”Hamba akan melaksanakan tugas sebaik mungkin” kata menteri perairan kembali ke barisan.


“Pangeran Tranggala memasuki Aula” ucap salah satu algojo dari luar.


“Hormat untuk raja dan ratu Jati jajar.


Pangeran Tranggala di sambut hangat di kerajaan Jati jajar. Para dayang menyuguhkan teh bunga teratai untuk memberi ruang istirahat di pertemuan itu.


“Sudah berhari-hari pangeran Tranggala tinggal di istana. Apakah hal ini baik sebagai status putri mahkota?” bisik ratu Jati jajar.


Raja hanya mengangguk lalu menepuk pelan punggung tangan sang ratu.


“Pangeran Tranggala, bagaimana suasana berlibur di kerajaan Jati Jajar? Apakah ada tempat bagus yang sudah engkau kunjungi?” tanya sang raja.


“Menjawab raja, hamba begitu menikmati suasana tenang dan damai disini. Banyak bangunan dengan ukiran yang memiliki makna tersendiri. Aku perlu belajar banyak untuk mengetahuinya” ucap sang pangeran.


“Pangeran Tranggala, apakah raja telaga hitam tidak mengkhawatirkan engkau. Sebaiknya engkau menjenguk beliau dan bisa kembali kesini kapan pun engkau mau” ucap sang ratu.


Senyuman tipis sang pangeran sambil mengepal tangannya. “Baiklah wahai ratu, hari ini hamba berencana akan pulang. Hanya saja ada suatu hal yang membuat hamba tertahan disini” ucap pangeran Tranggala.


“Katakan saja, kami siap mendengarnya”


“Istana yang indah ini begitu berat aku tinggalkan jika tidak melihat sekuntum bunga indah. Raja, ijinkan hamba bertemu putri mahkota agar dapat kembali ke telaga hitam” ucap pangeran.


...----------------...


Putri sedang berhias di depan kaca, dia memilihh berbagai hiasan aksesoris rambut. Kalung pemberian sang raja masih melingkar di lehernya. Setelah mendengar penjelasan dari dayang pendampingnya, wajahnya begitu berseri.


“Putri, ibu ratu datang” ucap sang dayang berhenti membantunya berhias.


“Hendak kemana kah ananda? Kondisi mu baru saja pulih.”


Sang ratu meraih sisir perak lalu membantunya menyisir rambut sang putri.


“Hamba hanya ingin jalan-jalan sebentar berkeliling istana, ibunda hiasan mana yang lebih cocok?” tanya sang putri menawarkan pilihan dua hiasan tusuk sanggul miliknya.


“Keduanya sama-sama indah,, tapi hiasan perak ini wajib engkau kenakan. Ada banyak sihir di alam jin yang membuat ibu tidak bis asetiap waktu melindungi mu. Benda yang berbahan perak akan mengurangi hembusan sihir yang datang kapan pun.”


“Hamba akan menurutinya ibunda” jawab sang putri.


“Sekarang keluar dan temui pangeran Tranggala” ucap sang ratu.


“Pangeran aneh itu, dia selalu saja mengganggu ku” gumam putri Arska bermuka masam.


“Ayo sebentar saja, dia mau pulang hari ini tapi dengan syarat bertemu dengan mu. Engkau tidak boleh menahannya tinggal lebih lama jika tidak ingin menemuinya” kata ratu Jati jajar.


“Hamba akan segera menemuinya, wahai ibunda” ucap sang putri.