Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Murka


...Berharap semua duka pergi, semua masih tetap memutar segala kekacauan menggulung detakan waktu....


“Bukankah dari awal dia adalah anak dari seorang pejabat istana?” tanya Raja mengerutkan dahi mencoba mengulur waktu agar sampai larut malam dan tidak menemui putri Helena.


“Ya, semula semua orang tau dia adalah anak kandung dari seorang pejabat istana namun semua rahasia itu terbongkar saat Raja Gurun berhasil mencari putrinya yang hilang belasan tahun lalu. Sang putri anak dari Ratu pertama yang di buang oleh para selir Raja gurun karena tidak ingin dia mendapatkan posisi sebagai putri mahkota gurun pasir yang memiliki kekayaan tiada tara.”


Sebenarnya Raja Permadi sudah mengetahui riwayat dan segala seluk beluk mengenai putri Helena, bahkan sifat asli putri yang kejam itu. Namun Raja belum mengetahui kekejaman sesungguhnya dari sang putri yang sudah menyiksa dayang pendamping putri Arska sampai jasadnya yang sudah di hancurkan.


“apakah kau tidak ingin melihat nenek mu bahagia?” ucap ibu suri mengusap dahi berlagak seperti seorang wanita yang begitu lemah dan menginginkan perhatian.


“Aku sudah tua, kebahagiaan apalagi yang bisa aku dapat selain kau menuruti kemauanku?” tambahnya menaikkan sudut bibir.


Raja yang bersikap tenang, menarik tangan ibu suri dan memberikan beberapa pertanyaan kepadanya.


“Nenek, apakah nenek mengambil upeti dan pajak kepada rakyat secara tinggi? Apa yang sudah terjadi dengan para pemberontak dari prajurit Yaksa yang secara tiba-tiba menyerang kerajaan jati Jajar? Kemudian bisakah nenek menjelaskan apa ini?”


Raja menunjukkan peta yang berisi jalan rahasia wilayah kerajaan jati jajar. Mata sang ibu suri memerah melotot lalu meraih peta itu dan mengoyaknya.


Ibu Suri melengos dan meninggalkan ruangan.


Hari demi hari terus berlalu, Raja masih mengosongkan perut dan tidak minum setetes pun. Dia tetap menjalankan tugas dan kewajiban melindungi wilayah Yaksa. Bibirnya terkelupas sangat kering. Sesekali dia menanyakan kabar perkembangan dari putri Arska. Sedangkan putri Helena yang enggan pulang dari kerajaan Yaksa membuat para pejabat dan penasehat istana menjadi khawatir akan kabar buruk yang beredar tentang kerajaan Yaksa di dunia jin.


“Raja, engkau hendak pergi kemana? Hari ini ada rapat pertemuan di aula. Para petinggi ingin menanyakan perihal putri Helena dan kabar Raja Gurun yang tidak kunjung datang menjemputnya” kata kasim mengejar langkah Raja Permadi.


Aku akan hadir setelah menyelesaikan urusan ku dari pura muara hijau. Jangan beritahu kepada siapapun aku akan pergi.


Raja mengepakkan sayap terbang menuju muara pura hijau, tubuhnya semakin lemah dan tidak berenergi. Di pertengahan jalan yang cuaca langit jin tidak bersahabat, gulungan angin kencang dan kilatan petir hampir menyambar sayap raksasanya. Raja yang mulai tidak seimbang dan terlalu lemah membuat dia melayang dan terjatuh di sekitar perbatasan kedua kerajaan.


Tepatnya di lembah sungai jin. Kepala suku Taraya yang gembira melihat Raja sedang sekarat dengan cepat meniup mantra pengikat agar dirinya tidak bisa bergerak. Raja di seret di tengah batu besar persembahan untuk di jadikan boneka yang mengikuti apapun keinginan dari mereka. Sang kepala suku juga menyiapkan sesajian dan ritual pengambilan kekuatan dari tubuh Raja penguasa kerajaan Yaksa.


“Taraya, taraya..” gema suku Taraya bersorak menyaksikan detik-detik kehancuran Raja Permadi.