Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Ini firasatku


Keinginan sang ibu suri agar dinding istana bagian ruangannya untuk di hancurkan tidak di taati oleh sang panglima. Dia melengos kesal, sekali lagi dengan menyusun rencana yang matang menuju pura muara hijau.


Mengingat kejadian yang telah lewat, pasukannya seperti mati sia-sia dengan meninggalkan baju besi di pura.


"Kali ini aku harus mengingat semua pantangan dan menyusun ulang lebih matang lagi. Mantra dan segala keinginan ku harus tercapai. Sekalipun sosok hantu yang menggangu ku harus binasa" gumam ibu suri mengatur pasukan kuda jin menuju luar istana.


Raja Permadi mendengar kepergian sang nenek dari Kasim Jou. Dia tidak ingin menanyakan kemana sang nenek pergi atau rencana yang ingin dia raih. Raja melihat rombongan ibu suri keluar gerbang benteng kerajaan. Pasukan lebih banyak dari sebelumnya, tandu yang di kawal lebih dari sepuluh algojo. Ibu suri juga menyiapkan pasukan jin raksasa agar dia merasa aman dan selamat di perjalanan.


"Raja, hampir setengah pasukan kerajaan di bawa oleh ibu suri untuk pergi keluar istana" ucap sang panglima menunduk.


"Tidak apa-apa asalkan, kalian amati saja kemana mereka pergi. Jangan sampai mereka menyentuh putri Arska" perintah Raja Permadi.


Sosok raja bersayap itu mengambil sebuah batu giok milik putri Arska di masa lalu. Segala kenangan pahit penderita hidup bagai bagai sosok jin paling sengsara di dunia ketika kehilangan sang pujaan hati. Raja melamun bagaimana sang putri Hampir terbunuh dan tidak bisa bernafas kembali. penusukan pedang besi putih yang melemahkan mereka berdua.


Istana Jati Jajar


Putri menerbangkan jubahnya yang basah di atas salah satu jemuran bagian halaman istana. Jubah kesayangannya yang berwarna merah dengan gambar sulaman naga air di sisi kanan. Jubah turun temurun yang di wariskan dari penguasa terdahulu, benda itu masih terlihat awet dan semakin menyala ketika di kenakan di bawah sinar matahari.


"Putri, sebaiknya putri beristirahat saja di kamar. Biar saja yang menjemur jubah ini


"Asal ibunda tidak mengetahuinya, engkau cukup menutup mulut saja. Ini adalah jubah kesayangan ku" ucap sang putri merapikan tiap sudut kain.


Sikap putri Yang bersahabat dan memperlakukan para dayang tidak seperti sosok pembantu kerajaan. Di halaman belakang istana dia tampak akrab dan bersenda gurau dengan mereka. Tiba-tiba mereka membisikkan edaran berita mengenai istana seberang, nama istana yang tidak di sebutkan itu di kabarkan menelan nyawa sosok dayang pendamping putri mahkota.


"Maaf putri, kami membicarakan sosok putri mahkota yang katanya menganut ilmu Sesat" bisik salah satu dayang kepadanya.


"Aliran sesat? hah? mungkinkah" gumam putri Arska. Dia mengingat kekuatan aneh yang pernah menyerang tubuhnya.


"Maksud kalian adalah sosok putri mahkota dari bagian mana wilayah sebelah mana?" tanya sang putri.


"Jika kami tidak salah informasi, tempat kamar kebesarannya ada di bagian timur tepat satu hari pertama kali sosok dayang pendamping pribadinya menghilang. Belum ada yang bisa memberi bukti yang kuat tentang hal ini, tapi perubahan pada putri ini sangat mirip dengan sosok pelaku dunia ghaib aliran hitam" ucap dayang pendamping putri Arska menundukkan kepala.


...----------------...


Terimakasih sudah mampir dan dengan sabar menerima segala kekurangan author. Jangan lupa Tinggalkan jejak dukungannya ya, salam santun all🙏