Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Beralih kepakan sayap raksasa


Sesampainya disana dia menayakan perihal mimpinya. Di sekeliling tempat yang dia datangi penuh dengan mantra dan lilin-lilin kecil.


“Aku sudah menceritakan semua kepada mu apa yang sudah aku alami, jadi apa menurutmu peramal?” ucap ibu suri.


“Aku bukan peramal, aku adalah dukun yang melihat dimensi lain dengan bantuan sosok lain yang sedang berdiri di samping mu. Lihatlah dia sedang mendekati hantu yang mengikuti mu sampai kesini.”


Mendengar jawabannya membuat kaki ibu suri tidak bisa berdiri dengan tegak. Dia langsung melirik ke arah yang dia maksud. Sang dukun menabur bunga di atas dupa, seketika tangannya menjadi kaku. Kekuatannya melemah dan wajahnya memucat.


“Hei wanita tua, aku menyesal telah membantu mu. Kini kekuatanku menghilang” ucap sang dukun kemudian tidak sadarkan diri.


Mendengar hinaan dari sang dukun, ibu suri memerintahkan salah satu pengawal membunuh dukun tersebut. Sang dukun sudah tidak sadarkan diri tetap saja di tusuk oleh pedang. Malam itu ibu suri tidak kembali lagi ke istana, dia melanjutkan pencarian menuju tempat lain untuk mencari jawaban atas mimpinya. Kini sang fajar telah terbit, para prajurit dan pengawal Raja dan Panglima perang telah siap berperang melawan musuh. Saat akan menaiki kuda, Raja melihat hal aneh pada panglima perangnya. Sesuatu yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata, sang panglima yang sudah tiada di waktu itu seolah hidup kembali.


“Sepertinya ingatanku perlahan kembali, panglima itu begitu setia kepada ku” gumam sang Raja.


Raja menuju sang panglima dia menepuk pundak sang panglima, seperti teman lama yang baru kembali. Raja memperlakukannya teramat berbeda. Sang panglima yang kebingungan hanya menundukkan kepala dan memberi hormat kepadanya.


“Aku ingin engkau tetap selamat dalam peperangan ini” ucap sang Raja.


“Terimakasih atas kebaikan yang mulia.”


Tabu gendang dari kerajaan yaksa dan sinyal shofar dari kerajaan Jati Jajar, kedua kerajaan itu memulai peperangan sengit sambil mengibarkan bendera.


“Serang…!”


...🔥🔥🔥...


...Akan aku pastikan tidak ada satupun goresan mengenai kulit lembutmu...


...Jangan khawatir sekalipun engkau tidak mengenali ku atau menganggapku sebagai musuh...


...Akan aku hidupkan kembali cinta biru...


...🔥🔥🔥...


Raja Permadi di tengah pertempuran mencari-cari sosok putri Arska. Wajah wanita yang sangat membuatnya khawatir dan resah. Dari atas langit terlihat hewan raksasa yang pemarah itu ikut berperang. Dengan sekali pijakan kaki, dia sudah menewaskan lima prajurit jin. Pasukan kuda hitam menyerang menggunakan anak panah beracun. Gangga mengibas serangan dan menelan musuh yang tidak henti berusaha membunuhnya. Dia melihat sosok Raja Permadi di dekatnya, sang Raja langsung menunjukkan tanda kalung pengenal sinyal yang membuat dia tidak menyerang sang Raja.


“Gangga…” panggil sang putri menujunya.


Dia tidak benar-benar tidak mengenali siapa sosok yang sedang menatapnya. Di mata sang putri, seluruh musuh harus di bunuh untuk memenangkan pertarungan dan melindungi Jati Jajar. Dari arah belakang serangan tombak Futon sedikit lagi mengenai sang putri.


“Matilah kau!”


Futon membanting sinar petir dan Huson menghalangi gerakan sang putri dengan menjerat tali besi sampai mengenai kaki kanannya.


Gangga mengibas kedua sosok jin itu, gulungan angin pasir yang dia ciptakan untuk membantu sang putri yang berusaha melepaskan ikatan. Raja Permadi menariknya terbang menjauh dari peperangan.


“Bukan kah kau musuh kerajaan Jari Jajar?” tanya sang putri.