
Tangan sang Raja mulai mendekati wajah sang putri, mata sang putri melotot bersiap-siap mengigit jari besar jika melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Ternyata raja bersayap itu hanya mengusap darah yang hampir mengering. Raja memanggil kunang-kunang hutan agar berterbangan disekitar mereka. Kerlap-kerlip cahaya indah dari hewan itu membuat mata sang putri memandangi sambil tersenyum.
“Apakah engkau menyukainya wahai tuan putri ku?” ucap sang Raja melihat sambil memperhatikan sekeliling.
Raja tetap memasang posisi siaga jika musuh akan menyerang secara tiba-tiba. Sementara Gangga adalah hewan yang pintar dan gagah itu mencium aroma tubuh sang majikan meski beratus-ratus meter sekalipun dia mengetahui keberadaan sang putri. Kunang-kunang berhamburan saat hewan raksasa itu mendarat di dekat putri Arska.
“Gangga”
Putri memeluk paruh Gangga.
Seperti mengikuti tingkah raja Permadi, hewan cerdas itu melingkarkan sayapnya di tubuh putri Arska. Di posisi ini pantaskah raja Permadi cemburu dengan hewan tersebut? Dia dan gangga sama-sama memiliki sayap raksasa dan perbedaannya dia adalah sosok jin penguasa Yaksa.
“Ya aku akui aku tetap meletakkan rasa kurang setuju jika peliharaan mu itu mengikuti gerakan ku kepada mu wahai putri, mari kita buat kesepakatan kalau cuma aku yang bisa melingkarkan sayap di tubuh mu” ucap Raja berdiri si samping Gangga.
Mata tajam Gangga seperti ingin menghabisi sang raja akibat merampas sang majikan. Akan tetapi di halangi oleh sang putri.
“Raja, engkau bukan siapa-siapa bagiku dan jangan dekati aku lagi”
...----------------...
Di depan pintu gerbang pura, rombongan ibu suri suri berdiri menunggu penjaga membukakan pintu. Pura sudah sangat lama tidak di perkenankan menerima kedatangan tamu namun pada hari ini penjaga melihat tanda bendera kerajaan. Dia menemui kepala pura memberitahu akan kedatangan anggota istana. Setelah menemui sang kepala pura begitu lama, ibu suri tidak sabar dan turun dari kereta kuda. Hampir saja dia memerintahkan pengawalnya untuk membuka pintu pura secara paksa. Sang penjaga pura membukakan pintu dengan permohonan yang sedikit memberatkan hatinya.
“Mohon untuk melepaskan senjata di luar dan hanya tiga jin saja yang di perbolehkan untuk memasuki pura” ucap sang penjaga.
Di dalam pura, lantai terbuat dari kaca terlihat bening dengan air yang mengalir di bawahnya. Di depan sana kepala dayang menghampiri dengan membungkuk memberi hormat.
“Salam hormat kami atas kedatangan ibu suri yang agung” ucap kepala cenayang.
“Aku berharap engkau keluar menyambut ku”
Mendengar ucapan ibu suri, salah satu dayang menghampiri dan berkata sambil membungkukkan badan.
“Kepala cenayang tidak di bisa keluar dari pura wahai ibu suri yang agung.”
“Baiklah sekarang tinggalkan kami berdua”
Kepala cenayang dan ibu suri duduk di salah satu ruangan persemedian.
Tempat sakral yang tidak terpaksa di pakai untuk mendengarkan segala keluh kesah sang ibu suri itu pun di tempati dengan harapan sang kepala cenayang agar mereka tidak berada disana sampai matahari terbit.
“Atas keperluan apa ibu suri datang di malam yang begitu larut?” tanya kepala cenayang.
“Berikan aku mantra pengusir setan, aku sedang di hantui sosok yang hadir di alam sadar dan di bawah sadar” kata ibu suri memegang tangannya.