
Sekalipun daun yang jatuh tertiup angin, makan suara nya akan terdengar di atas tanah kering. Perbincangan mengenai biru muda pangeran Permadi dan putri Arska semakin menggegerkan dua kerajaan.
Sama hal dengan bangunan istana kerajaan Yaksa yang juga terlihat megah. Lantai lima yang berlapis perak terhias susunan patung serigala besar. Di depan kerajaan yang mempunyai halaman begitu luas. Di samping terletak kolam teratai merah muda yang di hubungkan oleh jembatan gantung. Pangeran Permadi sudah bebas dari hukuman kerajaan, namun di ganti dengan pelepasan masa jabatan putra mahkota sebagai jin terkuat selama satu tahun lamanya. Semua berkat petisi ibu suri dan pembelaan dari ibunda ratu. Hanya saja raja masih marah dan belum bisa memanfaatkan Pangeran. Sehingga dia mengasingkan kamar pangeran dengan memindahkan tempat peristirahatan pangeran menuju wilayah selatan.
Di wilayah sepi tersebut di kelilingi oleh pagar berduri, disana hanya ada beberapa pengawal yang berjaga. Ketika malam telah tiba, suasana begitu hening. Terkadang ada penyusup yang secara tiba-tiba menikam pengawal dan hampir masuk ke kamar pangeran. Di balik bantal bahkan di dalam tubuh terselip pedang lipat panjang untuk mengantisipasi jika terdapat penyerangan secara mendadak.
"Pangeran, kenapa kau tidak merasa marah atau bersedih?" ucap Badar sambil menyuguhkan teh hijau ke dalam cerek.
"Apa yang harus aku gundah kan sedang putri ku sudah di pelupuk mata."
Mendengar perkataan pangeran membuat Badar tersenyum kecil. Merapikan meja Pangeran dan meminta ijin meninggalkan ruangan.
"Tunggu, kau mau kemana? pergilah ke pegunungan dan petik bunga edelweis untuk ku" kata pangeran meneguk teh dan membalas tatapan Badar.
"Apakah aku harus bersiap-siap jika lahar di atas gunung Merapi itu hampir menghabisi nyawa ku, tapi baiklah aku tetap melakukan tugasku."
"Ya, kau pergilah dengan beberapa pengawal."
Mengambil bunga Edelweis di negeri jin mempunyai resiko yang sangat tinggi. Gunung raksasa yang harus di daki selama dua hari dan terdapat di puncak gunung. Badar bergegas pergi dengan dua orang pengawal meninggalkan tempat peristirahatan pangeran.
Pikiran Badar berputar putar untuk apa bunga yang di minta oleh pangeran.
...----------------...
"Masih sampai pada akhir kata yang aku lontarkan untuk mu wahai putri Arska, kenapa kau mengabaikan ku?" tanya pangeran Tranggala membungkuk kan badan memberi kerling mata menggoda.
Putri meninggal kan pangeran Tranggala dan berjalan cepat menuju markas kerajaan. Bersama para panglima perang, mereka menyusun strategi peperangan. Dari balik pintu ada Pangeran Tranggala yang mendengar kan pembicaraan mereka.
Gangga ikut mengikuti langkah putri dan berdiri di belakang pangeran Tranggala. Peliharaan itu tidak kalah saing yang mengikuti gerakan pangeran lalu menarik pedang Pangeran yang berada di tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pangeran terkejut dan mengambil pedangnya dari paruh Gangga.
Gangga yang tidak mau melepaskan melanjutkan kepakan sayap mengibas tubuh pangeran. Hewan raksasa yang gagah itu seakan tidak pandang bulu memperlakukan pangeran Permadi ataupun pangeran Tranggala. Mendengar keributan di luar membuat putri dan para panglima mencari tau apa yang sedang terjadi. Ada pangeran Tranggala dan Gangga yang tampak sedang saling memperebutkan pedang.
"Gangga sudahlah, sekarang berikan pedang Pangeran."
Putri mengusap sayap kiri Gangga dengan lembut. Akan tetapi pedang yang sudah terjatuh ke tanah tertimpa oleh kaki besar Gangga membuat pangeran sangat kesusahan untuk menarik nya.
"Apakah kau sedang mempermainkan ku?" tanya pangeran melihat Gangga. Dia menahan amarah dan tersenyum paksa.
Jika sudah Waktunya tiba maka aku akan membunuhmu, gumam pangeran Tranggala.